Pencegahan Relaps pada Schizophrenia

Oleh :
dr. Immanuel Natanael Tarigan

Schizophrenia adalah sebuah penyakit kronis dengan risiko relaps yang cukup tinggi. Diperkirakan ≥80% pasien schizophrenia mengalami kekambuhan dalam 5 tahun pertama setelah remisi. [1] Seringnya kekambuhan terjadi pada pasien schizophrenia dapat menyebabkan berbagai masalah, misalnya risiko mencederai diri sendiri dan orang lain, gangguan fungsi sosial, kesulitan dalam pekerjaan dan pendidikan, serta tekanan psikologis terkait stigma di masyarakat. Kekambuhan juga dapat meningkatkan risiko keparahan penyakit dan kegagalan pengobatan. [2]

Faktor Risiko Relaps pada Schizophrenia

Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi risiko relaps pada schizophrenia, yaitu faktor yang berkaitan dengan farmakoterapi, psikoterapi, dan faktor risiko umum.

Faktor Farmakoterapi

Ada beberapa pendapat berbeda mengenai terapi rumatan pada schizophrenia. Beberapa ahli memilih tidak memberikan terapi rumatan setelah gejala schizophrenia terkontrol. Namun, studi yang ada menunjukkan bahwa terapi rumatan menggunakan obat antipsikosis dapat mengurangi risiko relaps hingga sepertiga pada satu tahun pertama.

Hal lain adalah penggunaan polifarmakoterapi. Dilaporkan bahwa penggunaan polifarmakoterapi berkaitan dengan peningkatan pemutusan pengobatan oleh pasien. Walaupun belum diketahui apakah hal ini meningkatkan risiko relaps.

Selain itu, penggunaan antipsikosis generasi pertama juga dikaitkan dengan risiko relaps yang lebih tinggi. [3]

Faktor Psikoterapi

Penggunaan cognitive behaviour therapy dan psikoedukasi dilaporkan menurunkan risiko relaps. [3]

Faktor Risiko Umum

Terdapat berbagai studi yang mempelajari mengenai gambaran klinis tertentu yang mempengaruhi risiko relaps. Dilaporkan bahwa jenis kelamin laki-laki, onset penyakit di usia lebih muda, lama durasi psikosis tidak diobati, adanya penyalahgunaan zat, dan rendahnya kelompok penyokong berkaitan dengan risiko relaps yang lebih tinggi. [3]

schizophrenia

Antipsikosis dalam Pencegahan Relaps Schizophrenia

Penggunaan antipsikosis adalah salah satu alternatif untuk mencegah relaps pada schizophrenia. Sebuah tinjauan sistematik melaporkan bahwa penggunaan antipsikotik rumatan menurunkan risiko relaps, meningkatkan kualitas hidup, dan menurunkan jumlah perilaku agresif dibandingkan plasebo. Obat antipsikotik dalam bentuk sediaan depot menurunkan risiko relaps lebih banyak dibandingkan sediaan oral. Namun, studi ini tidak menyebutkan dosis dan durasi tatalaksana yang direkomendasikan. [4]

Antipsikotik Generasi Pertama VS Generasi Kedua untuk Pencegahan Relaps Schizophrenia

Dalam praktek klinis sehari-hari, antipsikosis digolongkan menjadi dua kelompok besar yakni generasi pertama dan generasi kedua. Antipsikosis generasi pertama antara lain haloperidol, molindone, dan chlorpromazine. Sedangkan antipsikosis generasi kedua diantaranya adalah olanzapine, risperidone, dan clozapine. [5]

Antipsikosis generasi kedua lebih disukai dibanding generasi pertama karena efek samping ekstrapiramidal (EPS) dan tardive dyskinesia yang lebih rendah. Namun, antipsikosis generasi kedua memiliki efek samping metabolik yang tinggi, sehingga dapat menyebabkan peningkatan berat badan, resistensi insulin, dan dislipidemia.

Sebuah meta analisis dilakukan dengan melibatkan 23 studi dengan total 4504 respondens. Studi ini menyimpulkan bahwa antipsikosis generasi kedua lebih superior dalam mencegah relaps pada bulan ke-3, 6 dan 12 dibanding generasi pertama. [6]

Sebuah randomized controlled trial (RCT) melaporkan bahwa penggunaan paliperidone palmitate setiap 3 bulan dalam dosis 175 mg diikuti 263, 350, dan 525 mg efektif dalam mencegah relaps. [7] RCT lain melaporkan penggunaan lurasidone dengan dosis inisial 40 mg per oral per hari selama 28 minggu juga efektif dalam mencegah relaps. [8]

Peran Psikoedukasi dalam Mencegah Relaps

Psikoedukasi keluarga (family psychoeducation) berupaya melibatkan anggota keluarga pasien sebagai mitra dokter, sehingga menjadi pelengkap intervensi farmakologis. Pada psikoedukasi keluarga, anggota keluarga pasien akan dibekali tentang cara khusus dalam berinteraksi dengan pasien dan keterampilan menghadapi dan melawan defisit psikoneurologis yang disebabkan oleh schizophrenia.

Tinjauan literatur oleh McFarlane et al menyatakan bahwa intervensi ini merupakan salah satu metode yang sudah secara konsisten terbukti efektif. Disebutkan bahwa penggunaan psikoedukasi keluarga di Cina menurunkan risiko relaps menjadi separuh dari pasien yang hanya mendapat farmakoterapi saja (16,3% vs 37,8%).  [9]

Artificial Intelligence dalam Mencegah Relaps

Suatu kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang disebut sebagai SleepSight sedang dikembangkan untuk mendeteksi terjadinya relaps pada schizophrenia. SleepSight adalah perangkat nirkabel yang digabungkan dengan smartphone untuk mengumpulkan data accelerometer longitudinal, detak jantung, cahaya sekitar pasien, dan pola penggunaan smartphone. Data-data ini akan dienkripsikan dan kedepannya diharapkan dapat membantu dokter mendeteksi gejala relaps secara dini.

Hingga saat ini, penelitian mengenai SleepSight masih memiliki jumlah subjek yang kecil (n=16). Tetapi hasil yang ada cukup menjanjikan dan cara ini dapat menjadi gebrakan baru dalam mendeteksi relaps schizophrenia sedini mungkin. [10]

Kesimpulan

Tingkat relaps pada pasien schizophrenia diperkirakan melebihi 80% pada 5 tahun pertama setelah remisi. Beberapa hal dapat dilakukan dokter terkait hal ini, salah satunya adalah penggunaan antipsikotik generasi kedua sebagai terapi rumatan. Beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa paliperidone palmitate dan lurasidone dapat menjadi pilihan.

Selain daripada penggunaan farmakoterapi, psikoedukasi keluarga juga telah dilaporkan dapat membantu mencegah relaps pada pasien. Dilaporkan bahwa psikoedukasi keluarga mampu menurunkan risiko relaps hingga setengah jika dibandingkan dengan penggunaan farmakoterapi saja.

Referensi