Farmakologi Sulpiride
Secara farmakologi, sulpiride bekerja dengan memblokir reseptor dopamin D2 di otak, terutama pada jalur mesolimbik, sehingga membantu mengurangi gejala psikotik seperti halusinasi dan waham. Pada dosis rendah, obat ini juga dapat meningkatkan pelepasan dopamin di beberapa area otak sehingga kadang digunakan untuk mengatasi gejala depresi atau vertigo tertentu.[1,3,4]
Farmakodinamik
Sulpiride merupakan turunan benzamida yang bekerja terutama sebagai antagonis selektif reseptor dopamin D2 dan D3. Secara farmakodinamik, obat ini digunakan sebagai antipsikotik, antidepresan, dan antiemetik karena kemampuannya menghambat aktivitas dopamin di sistem saraf pusat, khususnya pada jalur mesolimbik yang berperan dalam gejala psikotik.
Pada dosis rendah, sulpiride lebih efektif memperbaiki gejala negatif skizofrenia seperti apati dan penarikan sosial, sedangkan pada dosis lebih tinggi efeknya terhadap gejala positif seperti halusinasi dan waham menjadi lebih kuat. Obat ini memiliki durasi kerja relatif singkat sehingga biasanya diberikan dua kali sehari, namun tetap memiliki rentang terapeutik yang cukup luas.
Mekanisme aksi sulpiride terjadi melalui penghambatan selektif reseptor dopamin D2 dan D3 di otak. Studi in silico menunjukkan bahwa sulpiride dapat berikatan dengan residu asam amino Asp-119 dan Phe-417 pada reseptor tersebut, sehingga menghambat transmisi dopaminergik.
Efek terapeutik optimal diperkirakan terjadi ketika sekitar 65–80% reseptor D2 terokupasi, karena tingkat okupansi ini mampu menurunkan gejala psikotik dengan risiko efek samping yang masih minimal. Namun, blokade dopamin yang berlebihan dapat menimbulkan efek samping ekstrapiramidal, agitasi motorik, hingga neuroleptic malignant syndrome akibat gangguan fungsi dopamin pada jalur nigrostriatal dan hipotalamus.[1]
Farmakokinetik
Absorpsi sulpiride per oral dilaporkan rendah. Di plasma, obat ini terikat dengan protein sekitar 40%. Eliminasi terutama terjadi melalui ginjal dalam bentuk tidak berubah.[1]
Absorpsi
Absorpsi sulpiride setelah pemberian oral tergolong rendah dan bervariasi, dengan bioavailabilitas sekitar 27 ± 9%. Setelah pemberian dosis oral 100–108 mg, kadar puncak plasma (Cmax) berkisar antara 232–403 ng/mL dan dicapai dalam waktu sekitar 8,3 jam (Tmax).
Nilai area under the curve (AUC) pada pemberian oral 100 mg adalah sekitar 1156 ± 522 h/ng/mL, jauh lebih rendah dibandingkan pemberian intravena yang mencapai 3981 ± 813 h/ng/mL, menunjukkan bahwa absorpsi gastrointestinal sulpiride tidak sepenuhnya efisien.[1]
Distribusi
Distribusi sulpiride di dalam tubuh cukup luas dengan volume distribusi rata-rata sekitar 2,72 ± 0,66 L/kg. Di dalam plasma, sekitar 40% sulpiride terikat pada protein plasma, terutama albumin, sedangkan sisanya berada dalam bentuk bebas yang aktif secara farmakologis.[1]
Metabolisme
Metabolisme sulpiride sangat minimal dibandingkan banyak antipsikotik lain. Sekitar 95% dosis obat tetap berada dalam bentuk utuh tanpa mengalami biotransformasi yang bermakna di hati.
Karena metabolisme hepatiknya rendah, sulpiride memiliki risiko interaksi obat berbasis enzim hati yang lebih kecil dibandingkan antipsikotik yang dimetabolisme secara ekstensif oleh sitokrom P450. Waktu paruh biologis sulpiride dilaporkan berkisar antara 7,15 hingga 8,3 jam, meskipun data ini berasal dari penelitian dengan jumlah subjek terbatas.[1]
Eliminasi
Eliminasi sulpiride terutama berlangsung melalui ginjal dalam bentuk obat tidak berubah. Setelah pemberian intravena, sekitar 70 ± 9% dosis dieliminasi melalui urin dalam waktu 36 jam, sedangkan pada pemberian oral sekitar 27 ± 9% ditemukan dalam urin. Total systemic clearance sulpiride adalah sekitar 415 ± 84 mL/menit, dengan renal clearance rata-rata 310 ± 91 mL/menit, menunjukkan bahwa ekskresi ginjal merupakan jalur eliminasi utama obat ini.[1]