Pengawasan Klinis Sulpiride
Pengawasan klinis pada penggunaan sulpiride mencakup pemantauan kondisi neurologis karena sulpiride dapat menyebabkan gejala ekstrapiramidal seperti tremor, rigiditas, akatisia, distonia, dan diskinesia tardif, terutama pada penggunaan jangka panjang atau dosis tinggi. Dokter juga perlu mengevaluasi adanya sedasi berlebihan, perubahan perilaku, agitasi, maupun tanda neuroleptic malignant syndrome yang memerlukan penanganan segera.
Pengawasan kardiovaskular juga diperlukan karena sulpiride dapat memanjangkan interval QT dan meningkatkan risiko aritmia ventrikel seperti torsades de pointes. Pemantauan elektrokardiografi (EKG) dianjurkan terutama pada pasien lansia, pasien dengan penyakit jantung, gangguan elektrolit, atau yang menggunakan obat lain yang juga memengaruhi interval QT.
Tekanan darah perlu dipantau secara rutin karena sulpiride dapat menyebabkan hipotensi ortostatik, terutama pada awal terapi atau pada pasien usia lanjut. Selain itu, pemeriksaan elektrolit seperti kadar kalium diperlukan bila pasien menggunakan diuretik atau memiliki kondisi yang meningkatkan risiko hipokalemia.
Pada pasien diabetes atau yang memiliki faktor risiko diabetes, kadar glukosa darah perlu dipantau karena antipsikotik dapat memengaruhi metabolisme glukosa. Fungsi ginjal diperiksa secara berkala karena sulpiride terutama dieliminasi melalui ginjal dan akumulasi obat dapat terjadi pada insufisiensi ginjal.
Pemeriksaan darah lengkap dianjurkan bila muncul demam atau infeksi yang tidak jelas penyebabnya, karena sulpiride dapat menyebabkan leukopenia, neutropenia, atau agranulositosis. Pada anak-anak, pemantauan perkembangan kognitif dan kemampuan belajar dianjurkan selama penggunaan jangka panjang.[1,4,6]