Komplikasi dan Indikasi Tata Laksana Hipotiroid pada Kehamilan

Oleh :
dr. Anastasia Feliciana

Hipotiroid dalam kehamilan dapat menyebabkan komplikasi yang meningkatkan mortalitas dan morbiditas ibu dan janin. Meskipun jarang terjadi, indikasi penanganan dan kemungkinan komplikasi akibat hipotiroid dalam kehamilan perlu dipahami oleh dokter. Hipotiroidisme pada kehamilan telah dikaitkan dengan risiko abortus, kelahiran prematur, intrauterine fetal death (IUFD), retardasi janin, anomali kongenital, hipotiroidisme kongenital, bahkan depresi post-partum.[1]

Penyebab Hipotiroid dalam Kehamilan

Selama kehamilan, terjadi perubahan fisiologis pada hormon tiroid, di mana terjadi peningkatan produksi hormon tiroid thyroxine (T4) dan triiodothyronine (T3) sebanyak 50%, penurunan angka tirotropin (TSH), peningkatan ekskresi iodin oleh ginjal, peningkatan thyroxine binding protein, peningkatan produksi hormon tiroid, dan stimulasi tiroid akibat human chorionic gonadotropin (hCG). Pada pasien dengan fungsi kelenjar tiroid normal, perubahan yang terjadi dapat diregulasi, sehingga tidak tampak perubahan bermakna metabolisme hormon tiroid.[1-4]

shutterstock_1064748788-min

Hipotiroid dalam kehamilan paling sering disebabkan oleh tiroiditis autoimun. Penyebab lain mencakup radioablasi tiroid, pembedahan pada tiroid akibat tumor, hipotiroidisme sentral, dan obat yang meningkatkan metabolisme tiroid seperti rifampicin dan phenytoin.[5]

Hipotiroid dalam kehamilan juga bisa disebabkan oleh defisiensi iodin. Defisiensi ini telah dihubungkan dengan peningkatan risiko kretinisme, kejadian abortus, lahir mati, mortalitas infant, penurunan berat plasenta dan lingkar kepala neonatus, gangguan hiperaktivitas, gangguan konsentrasi, dan penurunan fungsi kognitif.[1,6-8]

Komplikasi dan Indikasi Tata Laksana Hipotiroid pada Kehamilan Berdasarkan Jenisnya

Hipotiroid terbagi menjadi overt hypothyroidismsubclinical hypothyroidism, dan isolated hypothyroxinemia. Kondisi overt hypothyroidism ditandai dengan konsentrasi FT4 rendah dan TSH tinggi. Subclinical hypothyroidism ditandai dengan kondisi FT4 normal dan TSH tinggi. Isolated hypothyroxinemia ditandai dengan kondisi konsentrasi FT4 rendah dan TSH normal.[1]

Overt Hypothyroidism

Overt hypothyroidism pada ibu hamil ditemukan berhubungan dengan peningkatan risiko persalinan pretermberat badan lahir rendah, abortus, masalah kognitif anak, hipertensi gestasional, dan diabetes gestasional.[9,10]

Pada ibu hamil dengan overt hypothyroidism, penatalaksanaan dengan levotiroksin dilaporkan mampu memperbaiki luaran pasien secara signifikan. [11,12] Studi oleh Abalovich et al menunjukkan bahwa pasien overt hypothyroidism yang menjalani terapi adekuat dengan levotiroksin mampu mempertahankan kehamilan hingga cukup bulan. Ketika terapi levotiroksin tidak adekuat, 60% pasien mengalami abortus, 20% mengalami persalinan preterm, dan kelahiran cukup bulan tercapai pada 20% pasien.[13]

Subclinical Hypothyroidism

Penelitian yang mencari hubungan antara subclinical hypothyroidism dengan komplikasi kehamilan dan perkembangan janin melaporkan hal yang bervariasi. Keterbatasan ditemukan dari penelitian-penelitian ini, karena menggunakan referensi konsentrasi TSH yang berbeda-beda dan tidak mencantumkan status thyroid peroxidase antibodies (TPOAb) yang penting dalam penentuan prognosis pasien. [14] Beberapa studi telah mengaitkan subclinical hypothyroidism dengan peningkatan risiko keguguran, abrupsio plasentaketuban pecah dini, dan kematian neonatus.[15]

Dalam rekomendasi American Thyroid Association, ibu hamil dengan kadar TSH > 2,5 mU/L perlu diperiksa status TPOAb. Terapi levotiroksin direkomendasikan untuk ibu hamil TPOAb positif dengan kadar TSH melebihi nilai referensi;  dan  ibu hamil TPOAb negatif dengan kadar TSH >10 mU/L. Levotiroksin tidak direkomendasikan diberikan pada ibu hamil TPOAb negatif dengan TSH normal atau < 4 mU/L.

Tata laksana adekuat pada subclinical hypothyroidism dilaporkan mampu memperbaiki luaran pasien, termasuk menurunkan risiko abortus dan meningkatkan kemampuan neurokognitif dari bayi yang dilahirkan.[1]

Isolated Hypothyroxinemia

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa anak dari ibu yang mengalami isolated hypothyroxinemia memiliki IQ lebih rendah, mengalami keterlambatan bahasa,  kemampuan psikomotor yang lebih rendah, serta peningkatan risiko autisme dibandingkan kelompok kontrol.

Meskipun demikian, sampai saat ini belum ada data penelitian intervensional yang menunjukkan manfaat tata laksana pada ibu hamil dengan isolated hypothyroxemia. Penelitian dalam topik ini umumnya mengalami keterbatasan karena  waktu yang terlambat dalam memulai terapi.[1]

Kesimpulan

Hipotiroid pada kehamilan telah dikaitkan dengan berbagai komplikasi maternal dan fetal. Komplikasi maternal mencakup peningkatan risiko diabetes gestasional, hipertensi gestasional, abortus, abrupsio plasenta, dan ketuban pecah dini. Komplikasi fetal yang telah dilaporkan mencakup lahir mati, berat badan lahir rendah, gangguan kognitif, gangguan motorik, keterlambatan bahasa, dan peningkatan risiko autisme.

Secara umum, tata laksana hipotiroid dalam kehamilan yang disarankan adalah levotiroksin. Pemberian direkomendasikan pada pasien dengan overt hypothyroidism dan subclinical hypothyroidism. Manfaat dan keamanan pemberian levotiroksin pada pasien dengan isolated hypothyroxinemia belum diketahui pasti.

Referensi