Pilihan Obat Antihipertensi pada Penyakit Saluran Napas Reaktif

Oleh :
dr. Immanuel Natanael Tarigan

Tidak semua obat antihipertensi bisa digunakan pada orang dengan penyakit saluran napas reaktif. Perlu dipertimbangkan interaksi obat antihipertensi dengan kondisi penyakit saluran napas reaktif pasien dan kemungkinan eksaserbasi akut akibat obat yang diberikan.

Pada tahun 2017, American College of Cardiology (ACC)/American Heart Association (AHA) mengeluarkan panduan terbaru mengenai pencegahan, diagnosis, evaluasi dan tata laksana tekanan darah tinggi pada orang dewasa. Hipertensi didefinisikan sebagai penyakit yang ditandai dengan hasil pemeriksaan tekanan darah sistolik di atas 130 mmHg atau diastolik di atas 80 mmHg. Perubahan kriteria diagnosis ini menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit namun perubahan tersebut bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan kontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi.[1]

Depositphotos_66198579_m-2015_compressed

Salah satu tantangan dalam menangani hipertensi adalah penyakit hipertensi yang disertai komorbid, termasuk penyakit saluran napas reaktif. Penyakit saluran napas reaktif atau reactive airways disease adalah sebuah terminologi yang digunakan untuk menggambarkan berbagai keadaan patologi yang terjadi pada saluran napas yang ditandai dengan batuk, produksi sputum, mengi dan sesak napas. Pada umumnya, penyakit saluran napas reaktif digunakan untuk menggantikan diagnosis asma dan/atau PPOK.[2]

Modalitas penanganan hipertensi pada populasi pasien dengan penyakit saluran napas reaktif sama dengan populasi pasien pada umumnya. Walau demikian, terdapat dua golongan obat antihipertensi yang perlu mendapat perhatian khusus pada orang dengan penyakit saluran napas reaktif, yaitu β-blockers dan penghambat ACE.

β-blockers sebagai kontraindikasi

Penggunaan β-blockers pada pasien dengan penyakit saluran napas reaktif. Golongan β-blockers yang dikontraindikasikan adalah β-blockers non kardioselektif. Reseptor β-blocker ditemukan pada jantung, paru dan jaringan lainnya.

Reseptor β1 adrenergik terutama ditemukan di jaringan jantung. Aktivasi terhadap reseptor β1 adrenergik menyebabkan peningkatan denyut jantung dan kontraksi miokardium. Reseptor β2 adrenergik banyak ditemukan di bronkus, otot halus pembuluh darah, leukosit perifer, jaringan lemak, saraf adrenergik, dan otot. Stimulasi pada reseptor β2 adrenergik menyebabkan bronkodilastasi, vasodilatasi, dan lipolisis. Reseptor β3 adrenergik ditemukan pada jantung namun fungsi belum banyak diketahui.[3] Penggunaan agonis reseptor β, terutama reseptor β2 digunakan sebagai terapi simptomatik pada pasien asma dan PPOK karena terbukti dapat menyebabkan bronkodilatasi dan faktor protektif pada stimulus yang menyebabkan bronkokonstriksi.[4]

Beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui efek penggunaan β-blockers pada pasien dengan penyakit saluran napas reaktif:[5]

  1. Meta analisis tahun 2001-2002, yang menilai efek β-blockers kardioselektif pada FEV1, gejala dan penggunaan inhalasi β2 agonis pada pasien dengan penyakit saluran napas reaktif didapatkan hasil tidak ada perbedaan signifikan pada penggunaan β-blockers kardioselektif pada perburukan gejala pasien dengan penyakit saluran napas reaktif. Namun, meta analisis ini tidak dapat menyimpulkan efek penggunaan β-blockers kardioselektif pada pasien dengan penyakit saluran napas reaktif kronis.[6]
  2. Pada beberapa kohort yang dilakukan sejak 1976 hingga 2003 ditemukan bahwa baik penggunaan β-blockers kardioselektif dosis tunggal atau dosis berlanjut pada pasien dengan penyakit saluran napas reaktif tidak menyebabkan perubahan pada FEV1 dan respon pengobatan pada β2
  3. Sebuah studi retrospektif tahun 2004 ditemukan bahwa pemberian β-blockers pada pasien dengan gagal jantung yang disertai penyakit saluran napas reaktif tidak terdapat perburukan gejala, komplikasi serta perawatan di rumah sakit. Tidak terdapat perbedaan hasil akhir pada penggunaan β-blockers kardioselektif dan non kardioselektif.

Penggunaan β-blockers kardioselektif pada pasien dengan penyakit saluran napas reaktif tidak hanya aman, namun memperbaiki prognosis sehingga β-blockers kardioselektif direkomendasikan untuk digunakan pada pasien hipertensi dengan penyakit saluran napas reaktif. Penggunaan β-blocker non kardioselektif pada pasien asma atau PPOK dengan hipertensi, penyakit jantung koroner dan gagal jantung merupakan kontraindikasi. Hal ini karena blokade pada reseptor β dapat menyebabkan bronkospasme. [7,8]

Penghambat ACE pada Penyakit Saluran Napas Reaktif

Salah satu golongan obat yang paling banyak diresepkan pada penderita hipertensi adalah penghambat ACE. Efek samping yang paling banyak dikeluhkan pengguna penghambat ACE adalah batuk. Angka kejadian batuk yang diinduksi oleh penggunaan penghambat ACE adalah 1-35%. Batuk yang terjadi pada pasien bersifat tidak produktif, tidak terdapat hipersekresi sputum. Walaupun demikian, batuk yang terjadi bisa menjadi sangat parah dan mengganggu kualitas hidup pasien. [9]

Mekanisme terjadinya batuk pada penggunaan penghambat ACE adalah melalui peningkatan produksi bradikinin. Batuk yang diinduksi penghambat ACE dapat terjadi dalam minggu pertama hingga bulan pertama pemakaian penghambat ACE. Batuk yang diinduksi oleh penghambat ACE lebih sering terjadi pada perempuan dan ras Asia.

Pada sebuah meta analisis yang melibatkan 27.492 responden didapatkan bahwa hanya sekitar 4,2% dari pasien yang mendapatkan penghambat ACE pertama kali menghentikan penggunaan penghambat ACE akibat batuk. Lebih dari dua pertiganya mengalami batuk dalam 4 minggu pertama. Pasien yang sudah pernah mengalami batuk yang diinduksi oleh pemakaian penghambat ACE, batuk dapat terjadi dalam 2-3 minggu. Pasien yang mengalami batuk yang diinduksi penghambat ACE cenderung lebih gampang lelah, lebih depresi, sering mengalami gangguan tidur, muntah, nyeri tenggorokan dan perubahan suara.

Didapati bahwa usia di atas 65 tahun, jenis kelamin perempuan dan penggunaan agen penurun kadar lemak memiliki hubungan dengan kejadian batuk pada penggunaan penghambat ACE. Terjadi peningkatan bermakna dari masing-masing faktor risiko. Pasien yang memiliki ketiga faktor risiko tersebut 4,4 kali lebih berisiko mengalami batuk yang diinduksi penghambat ACE dibanding kelompok pasien tanpa faktor risiko. [10,11]

Penggunaan penghambat ACE pada pasien dengan penyakit saluran napas reaktif tidak menunjukkan perubahan fungsi paru. Terdapat beberapa studi yang menyatakan kekambuhan asma dapat meningkat pasca penggunaan penghambat ACE. Namun, hasil studi ini bertentangan dengan studi observasional pada pasien yang mengalami batuk yang mendapatkan enalapril selama 1 tahun. Tidak ditemukan laporan terjadinya asma atau sesak napas pada kelompok pasien tersebut. Sebuah penelitian kohort retrospektif menemukan bahwa terdapat peningkatan risiko relatif bronkospasme sebagai efek samping pada pasien dengan penghambat ACE.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah terjadinya hiperreaktivitas bronkus. Pada beberapa penelitian ditemukan terjadi peningkatan hiperreaktivitas bronkus yang signifikan, namun penelitian lain menunjukkan hal yang berbeda. Mekanisme hiperreaktivitas bronkus pada terjadinya batuk pada penggunaan penghambat ACE masih belum mencapai kesimpulan. Secara umum, penggunaan penghambat ACE pada penderita hipertensi dengan penyakit saluran napas reaktif aman untuk untuk digunakan. Namun, gejala asma yang timbul pada pasien harus dikenali sebagai kemungkinan efek samping obat.

Penanganan batuk pada pasien hipertensi dengan penyakit saluran napas reaktif dapat dimulai dengan penghentian penggunaan penghambat ACE sementara. Bila dibutuhkan dapat dilakukan pergantian golongan obat. Perbaikan gejala dapat terjadi 1-2 minggu pasca penghentian obat. Pergantian penghambat ACE dapat dilakukan dengan golongan ARB. Batuk yang diinduksi oleh penghambat ACE biasanya tidak memberikan respons dengan baik pada pengobatan antitusif.[10,11]

Kesimpulan

Pemilihan antihipertensi pada pasien dengan penyakit saluran napas reaktif sama dengan populasi pasien umumnya. Pilihan terapi pertama adalah terapi non-farmakologis termasuk olahraga dan perubahan pola makan. Pilihan terapi farmakologis pertama pada pasien dengan saluran napas reaktif adalah diuretik tiazid, ARB dan CCB. Penggunaan penghambat ACE harus mempertimbangkan untung ruginya. Bila memungkinkan penggunaan golongan ini dihindari terutama pada pasien penyakit saluran napas reaktif dengan gejala batuk yang banyak. Golongan β-blockers kardioselektif dapat digunakan pada pasien dengan penyakit saluran napas reaktif, golongan β-blockers non kardioselektif sebaiknya dihindari guna mencegah bronkospasme yang mungkin terjadi.

Referensi