Waktu Optimal Konsumsi Obat Antihipertensi: Pagi atau Malam?

Oleh :
dr.Krisandryka

Waktu optimal untuk konsumsi obat antihipertensi masih menjadi dilema di antara klinisi, di mana sebagian klinisi menyarankan konsumsi obat di malam hari, sedangkan sebagian menyarankan konsumsi di pagi hari. Studi menunjukkan bahwa perbedaan waktu konsumsi obat antihipertensi akan memberikan efek yang berbeda pula pada kontrol tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular.

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko primer penyakit kardiovaskular, seperti infark miokardaritmia, dan stroke. Kejadian kardiovaskular dilaporkan lebih sering terjadi di pagi hari, di mana hal ini mungkin berhubungan dengan proses chronobiology. Sesuai dengan proses chronobiology (ritme sirkadian tubuh), tekanan darah cenderung meningkat di pagi hari dan menurun di malam hari saat tidur.[1,2]

Salah satu strategi pencegahan komplikasi hipertensi seperti penyakit kardiovaskular adalah kronoterapi, yakni pemberian obat antihipertensi yang waktunya disesuaikan dengan ritme sirkadian tubuh.[1,2]

Ritme Sirkadian dan Tekanan Darah

Sebuah analisis data Framingham menunjukkan bahwa insidensi kematian akibat henti jantung mendadak terhitung 70% lebih tinggi pada jam 7.00–9.00 pagi dibandingkan waktu lainnya. Studi lain juga mencatat insidensi infark miokard 40% lebih tinggi pada jam 6.00–12.00. Senada dengan hal tersebut, frekuensi stroke dan aritmia juga dilaporkan lebih tinggi pada pagi hari.[1]

Secara fisiologis, tekanan darah meningkat di pagi hari. Hal ini disebabkan oleh level katekolamin, kortisol plasma, tonus vaskular, dan volume sirkulasi yang berada di level tertinggi pada pagi hari. Hal ini memperbesar risiko kejadian kardiovaskular di pagi hari. Sebaliknya, secara fisiologis, tekanan darah menurun (dipping) saat tidur di malam hari karena menurunnya aktivitas sistem saraf simpatis.[1,2]

Berdasarkan profil tekanan darah 24 jam dan dipping yang terjadi saat tidur di malam hari, pasien hipertensi dapat digolongkan menjadi 4 kelompok, yakni:

  1. Dipping normal: penurunan tekanan darah 10–20%

  2. Dipping ekstrem: penurunan tekanan darah >20%

  3. Non-dipping: penurunan tekanan darah <10%

  4. Reverse dipping: rerata tekanan darah saat malam hari lebih tinggi dibandingkan pagi hari[2,3]

Obat antihipertensi dulunya diberikan di pagi hari untuk mengatasi peningkatan tekanan darah di pagi hari. Namun, tidak adanya dipping tekanan darah di malam hari ternyata juga dihubungkan dengan kerusakan target organ, seperti mikroalbuminuria, hipertrofi ventrikel kiri, dan meningkatnya risiko kejadian kardiovaskular. Hal ini memunculkan pertimbangan untuk memberikan obat antihipertensi di malam hari.[1,3]

Pengaruh Waktu Konsumsi Obat Antihipertensi terhadap Tekanan Darah dan Penyakit Kardiovaskular

Selain memengaruhi tekanan darah, ritme sirkadian juga memengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik obat antihipertensi, sehingga waktu konsumsi obat antihipertensi dapat memengaruhi keberhasilan kontrol tekanan darah. Beberapa studi mencatat dipping tekanan darah di malam hari yang mendekati profil normal pada pasien hipertensi yang mengonsumsi obat antihipertensi menjelang tidur.[4,5]

Aktivitas puncak sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) tercapai ketika tidur, sehingga konsumsi obat antihipertensi golongan angiotensin-II receptor blocker (ARB), angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACE-I), maupun kombinasi ARB dan ACE-I dengan calcium channel blocker (CCB) dan diuretik menjelang tidur menghasilkan penurunan tekanan darah yang lebih signifikan daripada pagi hari.[4,5]

Studi Terbaru tentang Pengaruh Waktu Konsumsi Obat Antihipertensi terhadap Tekanan Darah dan Penyakit Kardiovaskular

Suatu studi berskala besar pada 19.084 pasien hipertensi di Spanyol mempelajari grup pasien yang diberikan dosis harian ≥1 obat antihipertensi di malam hari dengan grup pasien yang diberikan dosis harian  ≥1 obat antihipertensi di pagi hari.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa grup pasien yang mengonsumsi obat di malam hari memiliki kontrol ambulatory blood pressure (ABP) yang lebih baik daripada grup pagi hari. Grup malam hari menunjukkan penurunan rerata tekanan darah tidur yang jauh lebih signifikan, tanpa kehilangan efikasinya untuk menurunkan tekanan darah di pagi hari. Selain itu, grup malam hari juga memiliki prevalensi non-dipping yang lebih rendah daripada grup pagi hari.

Konsumsi obat antihipertensi di malam hari secara signifikan dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular yang lebih rendah, yakni hingga 45% lebih rendah. Hasil ini terhitung signifikan pada semua gender dan usia. Selain itu, konsumsi obat antihipertensi di malam hari juga dikaitkan dengan perbaikan fungsi ginjal, penurunan low density lipoprotein (LDL), dan peningkatan high density lipoprotein (HDL).[4]

Hasil studi ini sejalan dengan studi-studi lain, tetapi memiliki kelebihan karena memiliki durasi follow-up panjang (rerata hingga 6,3 tahun) dan menggunakan ambulatory blood pressure monitoring (ABPM) sebagai parameter. ABPM terbukti lebih sensitif dalam memprediksi risiko kejadian kardiovaskular dibandingkan rerata tekanan darah 24 jam, rerata tekanan darah saat bangun, ataupun tekanan darah di siang hari (office blood pressure monitoring).[2,4-6]

Edukasi Pasien Mengenai Waktu Konsumsi Obat Antihipertensi

Sebuah studi menunjukkan bahwa kesadaran, pengetahuan, dan sikap pasien sangat berperan dalam mengendalikan tekanan darah. Oleh karena itu, edukasi pasien sangat penting dilakukan untuk mencapai keberhasilan terapi dan pencegahan komplikasi.[7,8]

Beberapa studi menunjukkan bahwa sekitar 30-70% pasien tidak mengonsumsi obat antihipertensi sesuai yang diresepkan. Namun, studi juga menunjukkan bahwa hampir 40% pasien hipertensi sama sekali tidak ditanya oleh dokter mengenai bagaimana mereka mengonsumsi obat mereka dan sepertiga dari mereka memiliki hipertensi yang tidak terkontrol.

Bahkan, ketika mendapati pasien dengan hipertensi tidak terkontrol, sering kali dokter tidak langsung bertanya mengenai obat-obatan yang mereka konsumsi. Karena itu, sulit membedakan apakah hal tersebut terjadi karena kurangnya efektivitas obat atau karena kurangnya kepatuhan pasien.

Komunikasi efektif merupakan kunci bagi dokter untuk menilai kepatuhan pasien. Pendekatan yang berfokus pada pasien, yakni pendekatan yang melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan, menjadi faktor penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien.[9]

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mengedukasi pasien mengenai waktu konsumsi obat hipertensi:

  • Hindari pertanyaan yang tertutup, karena dapat membuat pasien kesulitan untuk menanyakan hal yang kurang jelas maupun memberikan informasi menyeluruh mengenai cara konsumsi obat mereka
  • Persilakan pasien untuk bertanya setelah memberikan edukasi dan gunakan pertanyaan terbuka untuk mengevaluasi kepatuhan pasien
  • Pasien dengan daya literasi rendah umumnya tidak mengetahui nama obat yang diresepkan, sehingga mereka bingung ketika ditanya mengenai cara konsumsi obat. Dokter dapat menyiasati hal ini dengan mendeskripsikan suatu obat menggunakan warna dan ukuran obat[9]

Kesimpulan

Ritme sirkadian tubuh menyebabkan fluktuasi tekanan darah sepanjang hari. Pada pagi hari, tekanan darah cenderung meningkat, sedangkan di malam hari, tekanan darah cenderung menurun (dipping). Tidak adanya dipping tekanan darah di malam hari dihubungkan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.

Salah satu strategi mencegah komplikasi hipertensi adalah dengan kronoterapi, yakni pemberian obat antihipertensi yang waktunya disesuaikan dengan ritme alami tubuh. Studi mencatat dipping tekanan darah di malam hari yang mendekati profil normal bila obat antihipertensi dikonsumsi sebelum tidur. Hal ini dikaitkan dengan penurunan penyakit kardiovaskular yang signifikan (hingga 45%).

Hasil berbagai studi tersebut membuktikan bahwa waktu konsumsi obat antihipertensi menjadi hal yang penting diperhatikan oleh dokter, termasuk saat mengedukasi pasien. Komunikasi efektif dengan pendekatan yang berfokus pada pasien dapat meningkatkan kepatuhan pasien dan mengendalikan tekanan darah dalam jangka panjang.

Referensi