Pilihan Obat Antihipertensi pada Orang dengan Penyakit Kardiovaskuler

Oleh :
dr.Della Puspita Sari

Pilihan obat antihipertensi sangat bervariasi dan perlu disesuaikan dengan kondisi komorbid pasien, salah satunya pada orang dengan penyakit kardiovaskular.

Berdasarkan pedoman terbaru American College of Cardiology (ACC) / American Heart Association (AHA) tahun 2017 mengenai pencegahan, diagnosis, evaluasi dan tata laksana tekanan darah tinggi pada orang dewasa, hipertensi didefinisikan sebagai hasil pemeriksaan tekanan darah sistolik ≥130 mm Hg atau diastolik ≥80 mm Hg. Perubahan definisi ini menyebabkan peningkatan prevalensi hipertensi di seluruh dunia, walaupun demikian hampir seluruh pasien baru yang masuk kriteria hipertensi ini hanya memerlukan tata laksana non-farmakologi untuk mengontrol tekanan darahnya. Diagnosis dan tata laksana hipertensi secara dini akibat perubahan definisi ini bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan kontrol tekanan darah dan membantu mencegah timbulnya komplikasi.[1]

Depositphotos_21176089_m-2015_compressed

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas khususnya pada pasien dengan penyakit kardiovaskular. Pada meta-analisis dengan 61 penelitian prospektif, didapatkan hasil bahwa risiko penyakit kardiovaskular meningkat secara linear pada tekanan darah sistolik <115 mm Hg hingga >180 mmHg dan dari tekanan darah diastolik <75 mm Hg hingga >105 mm Hg. Tiap kenaikan tekanan darah sistolik 20 mm Hg dan tekanan darah diastolik 10 mm Hg akan meningkatkan risiko kematian akibat stroke, penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah lainnya sebanyak 2 kali lipat.[2]

Oleh karena itu waktu memulai terapi hipertensi, jenis antihipertensi yang diberikan, pemantauan risiko kejadian penyakit kardiovaskular dan target tekanan darah yang perlu dicapai menjadi perhatian yang penting dan harus disesuaikan berdasarkan kondisi komorbid yang dimiliki pasien.[3]

Memulai Terapi Antihipertensi pada Pasien dengan Penyakit Kardiovaskular

  • Pedoman ACC/AHA tahun 2017 merekomendasikan untuk melakukan perhitungan risiko penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun kedepan pada seluruh pasien dengan tekanan darah sistolik ≥130 mm Hg atau diastolik ≥80 mm Hg.
  • Pada pasien dengan tekanan darah sistolik ≥130-139 mm Hg atau diastolik ≥80-89 mm Hg dan risiko penyakit kardiovaskular <10%, terapi dimulai dengan penerapan pola hidup sehat dan pemantauan dalam 3-6 bulan.
  • Pada pasien dengan tekanan darah sistolik ≥130-139 mm Hg atau diastolik ≥80-89 mm Hg dengan risiko penyakit kardiovaskular >10% atau dengan riwayat penyakit kardiovaskular sebelumnya terapi dilakukan dengan perubahan gaya hidup sehat ditambah dengan pemberian 1 jenis obat penurun tekanan darah.
  • Pada pasien dengan tekanan darah sistolik ≥140 mm Hg atau diastolik ≥90 mm Hg direkomendasikan untuk melakukan perubahan gaya hidup sehat dan penggunaan 2 jenis obat antihipertensi dari 2 kelas yang berbeda.
  • Penggunaan obat penurun tekanan darah pada pasien dengan riwayat penyakit kardiovaskular dengan tekanan darah sistolik ≥130 mm Hg atau diastolik ≥80 mm Hg harus dilakukan sebagai upaya pencegahan sekunder untuk mengurangi risiko serangan berulang.[1]

Pilihan Obat Antihipertensi yang Sesuai untuk Pasien dengan Penyakit Kardiovaskular

Pemilihan jenis obat antihipertensi disesuaikan dengan kondisi penyakit kardiovaskular yang dialami pasien. Beberapa pilihan obat antihipertensi yang sesuai untuk penyakit berikut meliputi:

Penyakit jantung koroner

  • Betabloker merupakan obat pilihan pertama untuk tata laksana hipertensi pada pasien dengan penyakit jantung koroner. Betabloker memiliki sifat inotropik dan kronotropik negatif sehingga menurunkan frekuensi denyut jantung dan memberikan waktu yang lebih panjang untuk pengisian ventrikel dan perfusi koroner jantung. Pada kondisi angina pektoris dengan kondisi hemodinamik tidak stabil, pemberian betabloker dapat ditunda sampai kondisi stabil. Pilihan betabloker yang disarankan yaitu carvedilol, metroprolol, bisoprolol, propranolol dan timolol.[1,3,4]
  • Selain betabloker, obat lain seperti ACE inhibitor (ACEi) atau angiotensin receptor blocker (ARB) sebaiknya ditambahkan pada pasien dengan penyakit jantung koroner yang disertai diabetes mellitus dengan atau tanpa gangguan fungsi sistolik ventrikel kiri. Selain itu pemberian diuretik golongan tiazid dapat ditambahkan apabila diperlukan.[1,3,4]
  • Apabila tekanan darah belum terkontrol, obat calcium channel blocker (CCB) kerja panjang golongan dihidropiridin (amlodipin) dapat ditambahkan. Penggunaan CCB nondihidropiridin (verapamil atau diltiazem) bersamaan dengan betabloker sebaiknya dihindari pada pasien dengan penyakit jantung koroner karena dapat menimbulkan gagal jantung dan bradikardi yang signifikan.[3]

Gagal jantung

  • Pada pasien dengan gagal jantung, pilihan antihipertensi yang banyak digunakan adalah diuretik untuk mengatasi kondisi kelebihan cairan dan dilanjutkan dengan pemberian ACEi atau ARB, antagonis reseptor mineralokortikoid, dan betabloker (carvedilol, metoprolol atau bisoprolol). Penggunaan CCB golongan nondihidropiridin tidak disarankan pada pasien dengan gagal jantung dan penurunan fraksi ejeksi karena dapat menyebabkan perburukan gejala.[1,3]

Fibrilasi atrium

  • Hipertensi dapat ditemukan pada 80% pasien dengan fibrilasi atrium. Banyak dari pasien hipertensi dengan fibrilasi atrium memiliki laju ventrikel yang cepat sehingga sebaiknya menggunakan obat-obatan yang menurunkan laju ventrikel seperti betabloker atau CCB golongan nondihidropiridin. Selain itu penggunaan betabloker dan ARB pada pasien hipertensi dengan gangguan organ jantung dapat bermanfaat untuk mencegah terjadinya fibrilasi atrium.[3]

Hipertrofi ventrikel kiri

  • Hipertrofi ventrikel kiri tipe konsentrik biasanya terjadi pada pasien dengan hipertensi lama. Pemberian ACEi atau ARB disarankan untuk terapi hipertensi sekaligus untuk memperbaiki ventrikel kiri.[3]

Penyakit arteri perifer

  • Pada pasien dengan penyakit arteri perifer, pilihan jenis obat antihipertensi tidak menjadi perhatian utama, yang terpenting adalah keberhasilan dalam menurunkan tekanan darah sesuai target. Beberapa pilihan awal yang digunakan adalah obat antihipertensi golongan ACEi dan CCB karena dapat memperlambat proses aterosklerosis dibandingkan dengan betabloker atau diuretik.[3]

Target Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi dengan Penyakit Kardiovaskular 

Sebelum adanya pedoman terbaru ACC/AHA tahun 2017, pedoman tahun 2015 menetapkan target penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan penyakit kardiovaskular adalah <140/90 mm Hg. Pada pasien dengan penyakit jantung koroner, penurunkan tekanan darah harus dilakukan secara perlahan dan sebaiknya tekanan diastolik tidak <60 mm Hg karena dapat berisiko menyebabkan perburukan iskemia miokardium.[4]

Berdasarkan pedoman terbaru ACC/AHA tahun 2017, target penurunan tekanan darah pada seluruh kondisi baik secara umum ataupun dengan komorbid penyakit kardiovaskular berubah menjadi <130/80 mm Hg. Target tekanan darah <130/80 mm Hg tersebut sebelumnya sudah pernah disebutkan pada pedoman tahun 2015 namun sebagai saran tambahan dan bersifat lebih fleksibel.[3,4]

Beberapa penelitian besar mendukung perubahan target tekanan darah ini. Sebuah penelitian besar yang dinamai SPRINT menunjukkan hasil bahwa pada pasien dengan peningkatan risiko kardiovaskular, penurunan tekanan darah hingga <130/80 mmHg menurunkan risiko kejadian penyakit kardiovaskular sebanyak 25% dan menurunkan angka kematian sebanyak 27%.[5]

Selain itu, sebuah meta-analisis dari 123 penelitian menunjukkan bahwa tiap penurunan tekanan darah sistolik sebanyak 10 mmHg dapat menurunkan risiko kejadian penyakit kardiovaskular mayor sebanyak 20%, penyakit jantung koroner 17%, stroke 27% dan gagal jantung 28%, serta menurunkan angka mortalitas hingga 13%. Penurunan risiko ini konsisten hingga tekanan darah <130 mm Hg.[6] Oleh karena adanya bukti-bukti kuat tersebut, penurunan target tekanan darah menjadi <130/80 mm Hg yang sebelumnya hanya disarankan saat ini berubah menjadi target utama.

Kesimpulan 

  • Hipertensi meningkatkan risiko kejadian penyakit kardiovaskular dan kematian.[3]
  • Pada pasien dengan risiko penyakit kardiovaskular >10% atau riwayat kejadian penyakit kardiovaskular sebelumnya, pemberian obat penurunan tekanan darah sudah harus dimulai pada TD ≥ 130/80 mm Hg.[1]
  • Pilihan obat antihipertensi disesuaikan dengan kondisi penyakit kardiovaskular yang dialami pasien. [1,3,4]

    • Penyakit jantung koroner : betabloker + ACEi atau ARB + thiazid bila perlu
    • Gagal jantung : diuretik pada kondisi overload + ACEi atau ARB + betabloker saat stabil
    • Fibrilasi atrium : betabloker atau CCB nondihidropiridin + ARB
    • Hipertrofi ventrikel kiri : ACEi atau ARB
    • Penyakit arteri perifer : ACEi atau CCB

  • Target penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan penyakit kardiovaskular adalah <130/80 mmHg.[1]

Referensi