Penatalaksanaan HIV
Penatalaksanaan utama pada infeksi HIV adalah pemberian obat antiretroviral (ART), atau juga disebut dengan terapi antiretroviral (ART). Regimen ART tidak dapat menyembuhkan infeksi HIV, tetapi terbukti dapat mengendalikan penyakit sehingga HIV dapat dikelola sebagai penyakit kronis dan diberikan sebagai regimen terapi jangka panjang seumur hidup.[1]
Terapi Antiretroviral (ART)
Terapi antiretroviral (ART) merupakan kombinasi 3-4 obat antiretroviral yang diberikan dalam regimen terapi jangka panjang seumur hidup. ART terbukti secara signifikan meningkatkan prognosis dengan menekan viral load hingga mencapai tingkat yang sangat rendah sehingga dapat mencegah penurunan jumlah sel CD4+ T secara progresif.[1]
Obat-obat ini bekerja dengan menargetkan berbagai tahap penting dalam proses replikasi HIV sehingga dapat menekan jumlah virus di dalam tubuh. Hingga saat ini, lebih dari 40 obat antiretroviral telah disetujui oleh U.S. Food and Drug Administration (FDA) dan dikelompokkan ke dalam 7 kelas utama berdasarkan mekanisme kerjanya dalam menghambat siklus replikasi virus.
Ketujuh kelas obat tersebut meliputi nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTIs), non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs), protease inhibitors (PIs), integrase inhibitors (IIs), attachment inhibitors (AIs), CCR5 receptor antagonists, dan fusion inhibitors (FIs).[1,15]
Tabel 1. Ringkasan Kelas Obat Antiretroviral (ART)
| Kelas Obat Antiretroviral | Mekanisme Kerja | Contoh Obat | ||
| Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTIs) | Analog nukleosida/nukleotida yang dimasukkan ke dalam DNA virus saat proses reverse transcription sehingga menyebabkan terminasi rantai DNA virus | abacavir, emtricitabine, lamivudine, tenofovir disoproxil fumarate, zidovudine | ||
| Non-nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTIs) | Berikatan dengan kantong substrat enzim reverse transcriptase sehingga menghambat aktivitas polimerase dan sintesis DNA virus | doravirine, efavirenz, etravirine, nevirapine, rilpivirine | ||
| Protease Inhibitors (PIs) |
| atazanavir, darunavir, fosamprenavir, ritonavir, saquinavir, tipranavir | ||
| Integrase Inhibitors (IIs) | Menghambat enzim integrase sehingga DNA virus tidak dapat diintegrasikan ke dalam genom sel inang | cabotegravir, dolutegravir, raltegravir | ||
| (Post-)Attachment Inhibitors (AIs) | Mencegah masuknya virus dengan menghambat interaksi gp120 HIV dengan reseptor CD4 | fostemsavir, ibalizumab-uiyk | ||
| CCR5 Antagonists | Menghambat koreseptor CCR5 pada sel CD4+ sehingga virus tidak dapat memulai proses masuk ke dalam sel | maraviroc | ||
| Fusion Inhibitors (FIs) | Menghambat fusi membran virus dan sel melalui ikatan dengan protein gp41 | enfuvirtide |
Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[1]
Beberapa obat bekerja dengan mencegah masuknya virus ke dalam sel. CCR5 antagonists menghambat koreseptor CCR5 pada sel CD4+, sehingga proses fusi membran yang dimediasi oleh protein gp41 tidak dapat terjadi. Fusion inhibitors secara langsung menghambat proses fusi antara virus dan sel inang dengan berikatan pada peptida fusi gp41.
Sementara itu, attachment inhibitors seperti fostemsavir dan antibodi terapeutik ibalizumab bekerja dengan menghambat interaksi antara protein gp120 HIV dan reseptor CD4 pada sel target.
Kelas obat lainnya bekerja dengan menghambat enzim penting yang terlibat dalam replikasi virus. NRTIs dan NNRTIs menghambat aktivitas enzim reverse transcriptase sehingga sintesis DNA virus terganggu. Integrase inhibitors mencegah integrasi DNA virus ke dalam genom sel inang, sedangkan protease inhibitors menghambat proses pematangan partikel virus dengan mencegah pemrosesan protein prekursor yang diperlukan untuk membentuk virion yang infeksius.[1,15]
Penekanan jumlah virus dalam plasma selain meningkatkan prognosis juga menurunkan risiko penularan HIV melalui hubungan seksual, sehingga berperan penting dalam pencegahan infeksi baru. Pada pasangan dengan status HIV berbeda (serodiscordant), inisiasi ART segera setelah diagnosis dapat menurunkan risiko penularan hingga sekitar 96%
Pengobatan ART harus diberikan secara ketat dan berkelanjutan sepanjang hidup, biasanya menggunakan kombinasi beberapa obat untuk mencegah munculnya resistensi virus yang dapat berkembang dengan cepat apabila hanya menggunakan satu obat (monoterapi).[1]
Saat ini, berbagai penelitian tengah meneliti penggunaan lenacapavir, suatu agen pertama yang bekerja dengan mengganggu fungsi protein kapsid HIV pada berbagai tahap siklus hidup virus. Lenacapavir menunjukkan potensi sangat tinggi secara in vitro pada tingkat pikomolar, tanpa adanya resistensi silang terhadap ART yang sudah ada, serta menunjukkan aktivitas antivirus yang kuat pada individu dengan HIV-1.[17-19]
Pemilihan Regimen ART
Pemilihan regimen awal terapi antiretroviral (ART) pada pasien dengan HIV bertujuan untuk mencapai supresi virus secara cepat dan berkelanjutan, meningkatkan kualitas hidup pasien, serta mencegah perkembangan resistensi obat. Regimen awal yang direkomendasikan umumnya terdiri dari kombinasi dua obat golongan nucleoside/nucleotide reverse transcriptase inhibitors (NRTI) dengan satu obat dari golongan integrase strand transfer inhibitor (INSTI).
Kombinasi ini dipilih karena memiliki efektivitas tinggi dalam menekan replikasi virus, tolerabilitas yang baik, serta risiko efek samping dan interaksi obat yang relatif rendah. Selain itu, penggunaan formulasi single-tablet regimen sering diprioritaskan karena dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi.[15]
Tabel 2. Pilihan Regimen ART Lini Pertama Untuk Dewasa Dan Remaja
| Kondisi | Regimen pilihan | Regimen Alternatif |
| Semua ODHIV dewasa dan remaja yang memulai terapi ART | TDF + 3TC + DTG | TDF + 3TC + EFV600 TDF + 3TC + EFV400 |
| Koinfeksi TB | TDF + 3TC + EFV600 | TDF + 3TC + DTG dengan penambahan 1 tablet DTG 50 mg dengan jarak 12 jam |
Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[2]
Pemilihan regimen ART lini pertama pada anak disesuaikan dengan usia dan kondisi klinis, dengan tujuan mencapai supresi virus yang optimal serta toleransi obat yang baik. Pada anak usia 3–10 tahun, pilihan utama adalah kombinasi zidovudine (AZT) + lamivudine (3TC) + efavirenz (EFV), dengan alternatif berupa kombinasi berbasis abacavir (ABC) atau tenofovir (TDF) yang dikombinasikan dengan EFV atau dolutegravir (DTG).
Sementara itu, pada anak usia <3 tahun, regimen utama yang direkomendasikan adalah kombinasi ABC atau AZT + 3TC + LPV/r (kombinasi lopinavir dan ritonavir), sedangkan alternatifnya meliputi kombinasi dengan DTG atau nevirapin (NVP) pada kondisi tertentu, dengan kemungkinan transisi regimen sesuai usia dan berat badan.
Pada pasien dengan koinfeksi tuberkulosis yang mendapatkan rifampicin, diperlukan penyesuaian dosis ART, seperti peningkatan dosis DTG atau pembagian dosis LPV/r untuk menjaga efektivitas terapi.
Dalam pemantauan terapi, pemeriksaan viral load merupakan standar utama untuk menilai keberhasilan pengobatan, yang ditandai dengan tidak terdeteksinya virus dalam darah. Pemeriksaan ini dilakukan pada bulan ke-6, ke-12, dan selanjutnya minimal setiap tahun untuk memastikan efektivitas terapi dan mendeteksi kegagalan pengobatan sejak dini.[3]
Waktu Dimulainya ART
Terapi antiretroviral (ART) direkomendasikan untuk semua orang dengan HIV (ODHA) tanpa memandang jumlah CD4. Terapi ART direkomendasikan untuk semua pasien termasuk perempuan hamil dan menyusui, yang harus melanjutkan terapi seumur hidup karena memberikan manfaat bagi kesehatan ibu serta mencegah penularan ke anak dan pasangan.
Pada orang dewasa, tanpa infeksi oportunistik, ART sebaiknya dimulai dalam waktu ≤7 hari setelah diagnosis, bahkan dapat diberikan pada hari yang sama jika pasien sudah siap, terutama pada ibu hamil. Pada kelompok remaja, terapi ART juga diberikan kepada semua pasien tanpa mempertimbangkan stadium atau status imun, meskipun tantangan utama terletak pada kepatuhan akibat faktor psikososial, sehingga diperlukan dukungan dan konseling.
Sementara itu, pada anak, terutama bayi <1 tahun, inisiasi dini sangat krusial karena progresivitas penyakit sangat cepat dan berisiko tinggi menyebabkan kematian. Terapi ART terbukti menurunkan mortalitas secara signifikan serta memperbaiki perkembangan dan fungsi imun. Pada anak usia lebih besar, terapi dini tetap memberikan manfaat dalam menurunkan mortalitas dan memperbaiki pertumbuhan.
Pada kondisi khusus, waktu inisiasi ART perlu disesuaikan. Pada koinfeksi tuberkulosis (TB), pengobatan TB harus dimulai terlebih dahulu, kemudian ART diberikan dalam 8 minggu pertama. Pada pasien dengan imunosupresi berat (CD4 <50 sel/μL), ART harus dimulai lebih cepat, yaitu dalam 2 minggu pertama terapi TB karena terbukti menurunkan mortalitas.
Sebaliknya, pada pasien dengan infeksi toksoplasmosis, pengobatan ART diberikan setelah 2 minggu sejak pemberian pengobatan toksoplasmosis. Sementara untuk pasien dengan meningitis kriptokokus, pemberian ART dini justru meningkatkan risiko kematian, sehingga terapi ART harus ditunda selama 4–6 minggu setelah terapi antijamur dimulai.[2]
Monitoring Terapi
Pemantauan terapi ART dilakukan dengan pemeriksaan viral load (VL) sebagai standar utama untuk menilai keberhasilan pengobatan. Hasil VL tidak terdeteksi menunjukkan supresi virus yang optimal. Pemeriksaan VL dilakukan pada bulan ke-6 dan ke-12 setelah memulai terapi, kemudian minimal setiap tahun.
Jika VL meningkat, perlu dilakukan evaluasi kepatuhan dan pengulangan pemeriksaan sebelum mempertimbangkan perubahan regimen. Konseling kepatuhan harus dilakukan pada setiap kunjungan untuk memastikan keberhasilan jangka panjang terapi.
Selain itu, pemantauan efek samping obat dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium secara berkala, dimulai sejak 2 minggu setelah terapi, kemudian 1 bulan, 3 bulan, dan selanjutnya setiap 3 bulan atau sesuai kebutuhan.
Efek samping ART dapat muncul pada berbagai waktu, mulai dari minggu pertama berupa gangguan gastrointestinal, reaksi alergi, dan gangguan neuropsikiatri. Setelah beberapa minggu-bulan dapat terjadi supresi sumsum tulang seperti anemia, sedangkan dalam jangka panjang (6–18 bulan) dapat muncul disfungsi mitokondria dan gangguan metabolik seperti hiperlipidemia dan resistensi insulin. Setelah >1 tahun, perlu evaluasi fungsi ginjal terutama terkait penggunaan tenofovir.
Penanganan efek samping dilakukan dengan menilai derajat toksisitas, mengevaluasi kemungkinan interaksi obat atau penyebab lain, serta menyesuaikan terapi sesuai tingkat keparahan. Pada reaksi berat yang mengancam jiwa, terapi ART harus segera dihentikan dan dilakukan penatalaksanaan yang sesuai sebelum mempertimbangkan penggantian regimen.[3]
Penggantian Regimen ART
Penggantian regimen ART ke lini selanjutnya dilakukan jika virus tidak tersupresi dengan pemberian ART lini pertama atau terjadi gagal terapi, dengan syarat pengobatan ART berlangsung minimal 6 bulan dan kepatuhan minum obat tinggi. Umumnya penyebab utama kegagalan pengobatan adalah pasien tidak minum obat dan adanya interaksi obat.[2]
Tabel 3. Kriteria Gagal Terapi
| GAGAL VIROLOGIS | |
Viral load >1000 kopi/mL berdasarkan pemeriksaan 2 kali berurutan dengan interval 3 bulan, dengan dukungan adherence yang baik setelah pemeriksaan VL pertama, setelah minimal ART 6 bulan. | |
| GAGAL IMUNOLOGIS | |
| Dewasa dan Remaja | Anak-anak |
| Jumlah CD4 ≤250 sel/mm3 setelah gagal klinis atau CD4 <100 sel/mm3 | <5 tahun: CD4 persisten <200 sel/mm3 |
| ≥5 tahun: CD4 persisten <100 sel/mm3 | |
| GAGAL KLINIS | |
| Dewasa dan Remaja | Anak-anak |
| Munculnya IO baru atau berulang yang mengindikasikan defisiensi imun berat setelah 6 bulan pengobatan yang efektif | Munculnya IO baru atau berulang yang mengindikasikan defisiensi imun berat atau lanjut setelah 6 bulan pengobatan yang efektif |
Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[2]
Tabel 4. Regimen ART Lini Kedua Untuk Dewasa Dan Remaja
| Pilihan ART lini 1 yang digunakan | Virus hepatitis B | Pilihan ART lini 2 |
| AZT+3TC/FTC+EFC/NVP | Positif atau negatif | TDF + 3TC + DTG* |
| TDF+3TC/FTC+LPV/r** | ||
| TDF+3TC/FTC+EFC/NVP | Negatif | AZT + 3TC + DTG* |
| AZT + 3TC + LPV/r** | ||
| Positif | TDF+AZT+3TC+DTG* | |
| TDF+AZT+3TC+LPV/r** | ||
| TDF + 3TC + DTG | Negatif | AZT + 3TC + LPV/r** |
| Positif | TDF+AZT+3TC+LPV/r** | |
| *penambahan 1 tablet DTG 50 mg dengan jarak 12 jam jika digunakan bersama rifampicin **dosis ganda LPV/r jika digunakan bersama rifampicin | ||
Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[2]
Tabel 5. Regimen ART Lini Kedua Pada Anak-Anak
| Usia | Regimen Lini 1 | Lini 2 Pilihan Utama | Lini 2 Alternatif |
| Umur <3 tahun | ABC (atau AZT)+3TC+LPV/r | AZT (atau ABC)+3TC+DTG | - |
| ABC (atau AZT)+3TC+DTG | AZT (atau ABC)+3TC+LPV/r | - | |
| 3-10 tahun | ABC (atau AZT)+3TC+EFV | AZT (atau ABC)+3TC+DTG | AZT (atau ABC)+3TC+LPV/r |
| ABC (atau AZT)+3TC+DTG | AZT (atau ABC)+3TC+LPV/r | AZT (atau ABC)+3TC+EFV | |
| TDF+3TC (atau FTC)+EFV | AZT (atau ABC)+3TC+DTG | AZT (atau ABC)+3TC+LPV/r | |
| TDF+3TC (atau FTC)+DTG | AZT (atau ABC)+3TC+LPV/r | AZT (atau ABC)+3TC+EFV |
Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[2]
Profilaksis Infeksi Oportunistik (IO)
Profilaksis cotrimoxazole diberikan pada pasien HIV untuk mencegah berbagai infeksi oportunistik (IO) seperti Pneumocystis jirovecii (PCP), toksoplasmosis, salmonelosis, dan infeksi parasit tertentu, serta malaria di daerah endemis. Pemberian dianjurkan pada pasien dengan stadium klinis 3 atau 4 dan kadar CD4 <200 sel/mm³ dengan dosis 960 mg per hari hingga terjadi peningkatan CD4 >200 sel/mm³ selama ≥3 bulan.
Selain itu, semua bayi yang lahir dari ibu HIV juga harus mendapatkan profilaksis cotrimoxazole mulai usia 6 minggu hingga dipastikan tidak terinfeksi HIV.[3]
Tabel 6. Profilaksis Infeksi Oportunistik Pada Pasien HIV Berdasarkan Kadar CD4+
| Infeksi oportunistik | Kriteria CD4+ | Indikasi Profilaksis | Terapi Profilaksis Utama | Terapi Alternatif | ||||
Pneumocystis jirovecii (PCP) | <200 sel/mm³ atau <14% | Semua pasien dengan CD4 rendah | Cotrimoxazole (TMP-SMX) | Pentamidine inhalasi, dapson, atovaquone | ||||
| Toxoplasma gondii | <100 sel/mm³ + serologi positif | Risiko reaktivasi toksoplasmosis | Cotrimoxazole dosis rendah | Dapson + pyrimethamine + asam folinat | ||||
| Cryptococcus neoformans / gattii | <100 sel/mm³ + antigen positif | Pencegahan kriptokokosis | Fluconazole | - | ||||
| Histoplasma capsulatum | <150 sel/mm³ | Tinggal di daerah endemik / paparan risiko tinggi | Itraconazole | - | ||||
Mycobacterium avium complex (MAC) | <50 sel/mm³ |
|
| Rifabutin |
Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[4]
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT)
Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) direkomendasikan untuk semua orang dengan HIV yang tidak memiliki TB aktif, termasuk ibu hamil, anak, dan pasien yang telah menyelesaikan pengobatan TB. Pada anak usia <12 bulan, selain tidak ditemukan tanda TB aktif, perlu adanya riwayat kontak dengan pasien TB aktif sebagai pertimbangan pemberian terapi pencegahan.[3]
Vaksinasi
Vaksinasi yang direkomendasikan pada orang dengan HIV meliputi vaksin COVID-19, vaksin hepatitis A, vaksin hepatitis B, meningokokus, pneumokokus, serta vaksin human papillomavirus (HPV). Selain itu, vaksin influenza inaktif atau rekombinan dianjurkan diberikan setiap tahun.
Namun, vaksin hidup yang dilemahkan, seperti MMR, dikontraindikasikan pada pasien dengan jumlah CD4+ kurang dari 200 sel/mm³ karena risiko komplikasi pada kondisi imunosupresi.[4]
Penulisan pertama oleh: dr. Abi Noya