Patofisiologi Leukorrhea
Secara patofisiologi, leukorrhea atau keputihan terjadi akibat peningkatan produksi sekret vagina yang berasal dari kelenjar serviks, transudasi dinding vagina, dan deskuamasi epitel, yang dipengaruhi oleh hormon dan keseimbangan flora normal vagina. Pada kondisi inflamasi atau infeksi, ekosistem vagina dan integritas mukosa terganggu, sehingga meningkatkan permeabilitas vaskular, produksi eksudat, serta perubahan karakter sekret vagina.[1-12]
Kondisi Fisiologis (Leukorrhea Fisiologis)
Leukorrhea fisiologis pada wanita usia produktif ditandai dengan keluarnya discar vagina sebanyak kurang lebih 1–4 ml dalam 24 jam. Pada umumnya, leukorrhea ini bening (transparan) atau putih hingga kekuningan, serta tidak berbau. Pada kondisi tinggi estrogen, seperti pada ibu hamil atau saat terjadi ovulasi, leukorrhea fisiologis dapat keluar lebih banyak.[1,3]
Bakterial Vaginosis
Bakterial vaginosis dulu lebih sering dikenal dengan Gardnerella vaginitis karena disebabkan oleh kuman Gardnerella vaginalis. Bakterial vaginosis terjadi akibat disbiosis pada vagina. Pada kondisi ini, jumlah flora normal Lacobacilli yang memproduksi hidrogen peroksida berkurang digantikan dengan Gardnerella vaginalis, Prevotella sp., dan Mobiluncus sp yang meningkatkan pH menjadi basa.[4]
Kandidiasis Vaginalis
Kandidiasis vaginalis disebabkan oleh jamur Candida albicans (paling sering) dan Candida glabrata (7–16% kasus). Kandidiasis dapat menyerang pada vulva dan menyebabkan peradangan sehingga dikenal sebagai kandidiasis vulvovaginitis. Kandidiasis menyebabkan reaksi peradangan karena menyerang lapisan mukosa pada vagina. Reaksi peradangan ini didominasi dengan sel polimorfonuklear dan makrofag.[2,5,6]
Klamidia
Infeksi klamidia pada genitalia wanita disebabkan oleh spesies Chlamydia trachomatis yang merupakan bakteri patogen intraselular obligat golongan gram negatif dan ditularkan melalui hubungan seksual. Klamidia berpotensi menimbulkan komplikasi antara lain infeksi asendens yang menyebabkan penyakit radang panggul, komplikasi kehamilan dan peningkatan risiko terjadinya kanker serviks.[7]
C. trachomatis menyerang sel-sel epitel dan membuat reaksi peradangan. Respon peradangan ini dapat merusak jaringan dan dapat berujung pada terjadinya jaringan parut (scarring). Komplikasi pada kehamilan yang dapat timbul adalah ketuban pecah dini, kelahiran prematur, korioamnionitis, hingga infeksi postpartum dan neonatus.[7,8]
Gonorrhea
Bakteri yang menyebabkan timbulnya leukorrhea adalah Neisseria gonorrhea. N. gonorrhea yang merupakan bakteri diplokokus intraselular yang bersifat parasit obligat. Penyakit ini lebih sering dikenal dengan gonorrhea.
N. gonorrhea menginvasi traktus urogenital setelah ditularkan saat hubungan seksual. Faktor virulensi yang dimiliki oleh N. gonorrhea adalah pili, protein Opa, protein Por, lipooligosakarida, dan IgA1 protease. Sitokin-sitokin yang dapat menyebabkan inflamasi akan datang ke tempat infeksi dan membuat terjadinya pengeluaran duh pustular.
Gonorrhea yang tidak diobati pada wanita dapat menimbulkan komplikasi seperti salfingitis, penyakit radang panggul, dan sepsis. Kondisi ini dapat berujung pada infertilitas dan kehamilan ektopik.[9,10]
Trikomoniasis
Trikomoniasis disebabkan oleh infeksi protozoa Trichomonas vaginalis yang menyerang jaringan epitel skuamosa pada genitalia dan merupakan salah satu penyakit infeksi menular seksual. T. vaginalis merupakan parasit obligat yang dapat melakukan fagositosis terhadap bakteri.[11,12]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha