Efek Samping dan Interaksi Obat Prochlorperazine
Efek samping umum prochlorperazine meliputi kantuk (drowsiness), pusing, amenore, penglihatan kabur, reaksi kulit, dan hipotensi, yang sebagian besar berkaitan dengan efek antagonisme dopaminergik, antikolinergik, dan α-adrenergik obat ini. Interaksi obat bisa terjadi dengan phenytoin, karena prochlorperazine dapat menurunkan ambang kejang dan mengganggu metabolisme phenytoin sehingga meningkatkan risiko toksisitas phenytoin.[2]
Efek Samping
Prochlorperazine dapat menimbulkan berbagai efek samping yang berkaitan dengan antagonisme reseptor dopamin, histamin, muskarinik, dan α₁-adrenergik. Efek samping yang paling sering dilaporkan meliputi kantuk, pusing, penglihatan kabur, amenore, reaksi kulit, dan hipotensi. Efek antikolinergik dapat berupa mulut kering, konstipasi, retensi urin, dan anoreksia, sedangkan blokade reseptor histamin H₁ berkontribusi terhadap sedasi.
Selain itu, blokade reseptor α₁-adrenergik dapat menyebabkan hipotensi ortostatik. Antagonisme dopamin pada jalur tuberoinfundibular dapat menyebabkan hiperprolaktinemia, yang bermanifestasi sebagai amenore, pembesaran payudara, dan disfungsi seksual. Prochlorperazine juga dapat menurunkan ambang kejang, pemanjangan interval QTc, dan gangguan konduksi jantung lain yang berpotensi meningkatkan risiko aritmia.
Efek samping neurologis yang perlu diwaspadai adalah gejala ekstrapiramidal seperti distonia akut, akatisia, parkinsonisme, dan tardive dyskinesia. Efek yang lebih jarang tetapi serius adalah sindrom neuroleptik maligna (neuroleptic malignant syndrome/NMS), yang ditandai oleh demam tinggi, agitasi, kebingungan, rigiditas otot berat, leukositosis, peningkatan kadar kreatin fosfokinase, gangguan fungsi hati, mioglobinuria, hingga gagal ginjal akut.
Efek samping serius lain yang jarang dilaporkan meliputi leukopenia, agranulositosis, ikterus kolestatik, dan perlemakan hati. Pada populasi pediatrik, prochlorperazine diketahui memiliki frekuensi efek samping yang relatif lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa, terutama sedasi dan gejala ekstrapiramidal, sehingga penggunaannya pada anak memerlukan kehati-hatian. Obat ini tidak dianjurkan pada anak usia di bawah dua tahun.[1-3,5]
Interaksi Obat
Prochlorperazine memiliki potensi berinteraksi dengan berbagai obat melalui efek farmakodinamik maupun farmakokinetik, sehingga penggunaannya bersama obat lain memerlukan pemantauan yang cermat
Penggunaan dengan Obat Antikolinergik
Penggunaan prochlorperazine bersama obat antikolinergik seperti atropin dapat menyebabkan potensiasi efek antikolinergik, sehingga meningkatkan risiko mulut kering, konstipasi, retensi urin, penglihatan kabur, dan gangguan kognitif, terutama pada pasien lanjut usia.[2]
Penggunaan dengan Obat Antikoagulan
Selain itu, prochlorperazine dapat mengurangi efektivitas antikoagulan oral, seperti warfarin, sehingga berpotensi memengaruhi kontrol antikoagulasi dan memerlukan pemantauan parameter koagulasi yang lebih ketat selama penggunaan bersamaan.[2]
Penggunaan dengan Obat Antikonvulsan
Interaksi penting juga terjadi dengan obat antikonvulsan, khususnya phenytoin. Prochlorperazine dapat menurunkan ambang kejang, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kejang pada pasien yang rentan. Selain itu, obat ini dapat mengganggu metabolisme phenytoin dan menyebabkan peningkatan kadar phenytoin, yang berpotensi menimbulkan toksisitas.[2]
Penggunaan dengan Depresan Saraf Pusat
Penggunaan bersama depresan sistem saraf pusat seperti alkohol, anestetik, opioid, atau sedatif lainnya dapat memperkuat efek sedasi dan depresi sistem saraf pusat, sehingga meningkatkan risiko kantuk berlebihan, gangguan kesadaran, hingga depresi pernapasan.[2]
Penggunaan dengan Epinefrin atau Dopamin
Pada sistem kardiovaskular, penggunaan bersamaan dengan epinefrin atau dopamin dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang lebih berat akibat efek antagonisme α-adrenergik prochlorperazine.[2]
Penggunaan dengan Diuretik
Penggunaan bersama diuretik tiazid, seperti hydrochlorothiazide, dapat meningkatkan risiko hipotensi ortostatik, terutama pada pasien lanjut usia atau pasien dengan deplesi volume.[2]
Penggunaan dengan Litium
Kombinasi prochlorperazine dengan litium dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom ensefalopati akut, terutama bila kadar litium serum tinggi. Kondisi ini dapat ditandai dengan perubahan status mental, gangguan neurologis, dan gejala toksisitas lainnya.[2]
Penggunaan dengan Propranolol
Sementara itu, penggunaan bersama propranolol dapat meningkatkan konsentrasi plasma kedua obat, sehingga berpotensi memperkuat efek terapeutik maupun efek samping, termasuk hipotensi, bradikardia, sedasi, dan gangguan neurologis.[2]