Indikasi dan Dosis Prochlorperazine
Indikasi prochlorperazine adalah untuk mengatasi mual-muntah dari berbagai penyebab, termasuk pascaoperasi, migrain akut, radioterapi, atau kemoterapi. Prochlorperazine juga digunakan untuk penatalaksanaan gangguan psikotik, terutama skizofrenia dan kondisi lain yang disertai gejala psikotik seperti delusi, halusinasi, agitasi, serta gangguan perilaku. Dosis yang umum digunakan berkisar 5-10 mg, diberikan 3-4 kali sehari.[1,2,5]
Mual dan Muntah
Prochlorperazine merupakan antiemetik yang digunakan untuk penatalaksanaan mual dan muntah berat dari berbagai penyebab, termasuk kondisi pascaoperasi, migrain akut, radioterapi, dan kemoterapi. Namun, prochlorperazine tidak efektif untuk mencegah vertigo atau motion sickness, serta tidak direkomendasikan untuk muntah yang disebabkan oleh aksi obat pada ganglion nodosum atau iritasi lokal saluran cerna.
Dosis Dewasa
Pada orang dewasa, dosis oral yang lazim untuk mual dan muntah berat adalah 5–10 mg sebanyak 3–4 kali sehari. Dosis harian di atas 40 mg/hari hanya digunakan pada kasus yang resisten terhadap terapi standar.
Jika digunakan melalui rute rektal, dosis yang dianjurkan adalah 25 mg dua kali sehari dalam bentuk supositoria.
Untuk pasien yang memerlukan terapi parenteral, prochlorperazine dapat diberikan secara intravena (IV) dengan dosis 2,5–10 mg per dosis, maksimal 10 mg/dosis dan 40 mg/hari.
Secara intramuskular (IM), bisa diberikan 5–10 mg sebagai dosis awal, yang dapat diulang setiap 3–4 jam bila diperlukan dengan total dosis tidak melebihi 40 mg/hari.[2]
Dosis Anak
Perlu dicatat bahwa prochlorperazine bukan merupakan terapi pilihan lini pertama untuk anak. Prochlorperazine telah dikaitkan dengan efek samping neurologis yang lebih tinggi pada populasi ini. Ondansetron merupakan obat yang dianjurkan.
Pada anak usia ≥2 tahun, dosis oral ditentukan berdasarkan berat badan. Obat ini tidak dianjurkan digunakan pada anak usia di bawah 2 tahun atau pada anak dengan berat badan di bawah 9 kg.
- Berat badan 9,1–13,2 kg: dosis yang dianjurkan adalah 2,5 mg 1-2 kali sehari, dosis maksimum 7,5 mg/hari
- Berat badan 13,6–17,7 kg: diberikan 2,5 mg 2-3 kali sehari, dosis maksimum 10 mg/hari.
- Berat badan 18,2–38,6 kg: diberikan 2,5 mg 3 kali sehari, atau 5 mg 2 kali sehari. Maksimum 15 mg/hari.[2]
Pencegahan dan Terapi Mual-Muntah Pascaoperasi
Pada situasi perioperatif, prochlorperazine juga dapat digunakan untuk pencegahan maupun pengendalian mual dan muntah yang berhubungan dengan tindakan pembedahan. Untuk profilaksis sebelum operasi, dosis 5–10 mg IV diberikan 15–30 menit sebelum induksi anestesi, atau 5–10 mg IM diberikan 1–2 jam sebelum induksi anestesi. Jika diperlukan, dosis dapat diulang satu kali sebelum operasi.
Untuk mengatasi gejala akut selama atau setelah operasi, dosis 5–10 mg IV atau IM dapat diberikan dan diulang satu kali bila diperlukan. Pada pemberian IV, dosis tunggal tidak boleh melebihi 10 mg.[2]
Migraine
Dalam pedoman klinis American Headache Society tahun 2025, prochlorperazine direkomendasikan sebagai terapi lini pertama pada kasus migraine akut di unit gawat darurat. Menurut pedoman ini, prochlorperazine diberikan secara intravena dalam dosis 10-12,5 mg.
Alternatif terapi lain jika prochlorperazine tidak tersedia atau tidak dapat diberikan adalah metoclopramide 10 mg IV, dexketoprofen 50 mg IV, dan Ketorolac 30-60 mg IV.[8]
Gangguan Psikotik
Prochlorperazine merupakan antipsikotik generasi pertama golongan fenotiazin yang digunakan untuk penatalaksanaan simptomatik gangguan psikotik, terutama skizofrenia. Obat ini efektif dalam mengurangi gejala psikotik seperti halusinasi, delusi, agitasi, dan gangguan perilaku.
Perbaikan gejala dapat mulai terlihat dalam dua hari pertama terapi pada sebagian pasien, namun efek antipsikotik yang optimal umumnya memerlukan penggunaan yang lebih lama dan berkelanjutan. Pada pasien dengan gejala psikotik berat yang memerlukan pengendalian cepat, pemberian secara intramuskular (IM) dianjurkan pada fase awal, kemudian setelah kondisi pasien stabil terapi sebaiknya dialihkan ke sediaan oral.[1,2,5]
Dosis Dewasa
Pada orang dewasa dengan gejala psikotik ringan, dosis oral yang lazim adalah 5–10 mg sebanyak 3–4 kali sehari. Pada pasien rawat inap atau pasien dengan gejala sedang hingga berat yang berada dalam pengawasan ketat, terapi biasanya dimulai dengan 10 mg sebanyak 3–4 kali sehari. Dosis kemudian dapat ditingkatkan secara bertahap setiap 2–3 hari hingga tercapai kontrol gejala yang memadai atau hingga muncul efek samping yang membatasi.
Untuk pengendalian cepat gejala psikotik berat pada orang dewasa, prochlorperazine dapat diberikan secara IM dengan dosis 10–20 mg. Dosis awal dapat diulang setiap 1–4 jam apabila gejala belum terkendali, meskipun umumnya tidak diperlukan lebih dari 3–4 dosis.
Setelah gejala akut berhasil dikendalikan, terapi oral dianjurkan untuk menggantikan terapi parenteral guna mempertahankan kontrol gejala dalam jangka panjang. Pendekatan ini membantu mengurangi kebutuhan pemberian injeksi berulang sekaligus mempermudah terapi pemeliharaan.[2]
Dosis Anak
Perlu dicatat bahwa prochlorperazine bukan merupakan terapi yang direkomendasikan sebagai lini pertama pada anak. Hal ini karena tingginya tingkat efek samping neurologi pada anak. Untuk populasi anak, ondansetron merupakan terapi yang dipilih jika terdapat gejala mual-muntah yang memerlukan terapi.
Pada pasien anak usia 2–12 tahun, dosis awal oral yang dianjurkan adalah 2,5 mg sebanyak 2–3 kali sehari, dengan total dosis pada hari pertama tidak melebihi 10 mg. Dosis selanjutnya dapat ditingkatkan secara bertahap berdasarkan respons klinis dan tolerabilitas pasien. Namun, dosis harian umumnya tidak boleh melebihi 20 mg/hari pada anak usia 2–5 tahun dan 25 mg/hari pada anak usia 6–12 tahun.
Data dosis untuk anak usia di bawah 2 tahun atau dengan berat badan kurang dari 9 kg belum tersedia sehingga penggunaannya pada kelompok tersebut tidak direkomendasikan.
Untuk pemberian IM pada anak usia di bawah 12 tahun, dosis yang digunakan adalah 0,13 mg/kgBB, dan pada sebagian besar pasien satu kali dosis sudah cukup untuk mengendalikan gejala akut sebelum dilanjutkan dengan terapi oral.[2]