Kontraindikasi dan Peringatan Prochlorperazine
Kontraindikasi penggunaan prochlorperazine adalah pada anak usia di bawah 2 tahun, serta pasien dengan riwayat alergi terhadap prochlorperazine atau fenotiazin lain. Peringatan penggunaan berupa black box warning adalah mengenai peningkatan risiko mortalitas jika obat digunakan pada lansia dengan dementia terkait psikosis.[2,5]
Kontraindikasi
Prochlorperazine dikontraindikasikan pada pasien yang berada dalam keadaan koma atau mengalami depresi sistem saraf pusat yang berat akibat penggunaan zat depresan saraf pusat dalam jumlah besar, seperti alkohol, barbiturat, atau opioid, karena dapat memperburuk penurunan kesadaran dan fungsi pernapasan.
Obat ini juga tidak boleh digunakan pada anak yang menjalani pembedahan, anak berusia di bawah 2 tahun, atau anak dengan berat badan kurang dari 9 kg, mengingat meningkatnya risiko efek samping serius dan belum tersedianya data keamanan yang memadai pada kelompok tersebut.
Selain itu, prochlorperazine dikontraindikasikan pada anak dengan kondisi klinis yang belum memiliki rekomendasi dosis yang jelas, serta pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitivitas atau reaksi alergi terhadap prochlorperazine maupun obat golongan fenotiazin lainnya, karena berisiko menimbulkan reaksi alergi yang berat seperti anafilaksis.[2,5,7]
Peringatan
Pada pasien lanjut usia dengan psikosis terkait dementia, penggunaan antipsikotik, termasuk prochlorperazine, dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian. Oleh karena itu, obat ini tidak disetujui untuk pengobatan psikosis yang berhubungan dengan demensia.[2]
Risiko Efek Ekstrapiramidal dan Tardive Dyskinesia
Selain itu, prochlorperazine dapat menyebabkan reaksi ekstrapiramidal seperti distonia akut, parkinsonisme, dan akatisia, terutama pada pasien psikiatri yang dirawat di rumah sakit dan pada anak-anak. Penggunaan jangka panjang juga dikaitkan dengan risiko tardive dyskinesia. Karena itu, terapi jangka panjang sebaiknya dibatasi pada pasien yang benar-benar memerlukan pengobatan antipsikotik dan tidak memiliki alternatif terapi lebih aman.[2]
Risiko Sindrom Neuroleptik Maligna
Prochlorperazine juga dapat menyebabkan sindrom neuroleptik maligna, suatu kondisi langka tetapi mengancam jiwa yang ditandai oleh demam tinggi, rigiditas otot, perubahan status mental, dan ketidakstabilan otonom.[2]
Risiko Kehamilan dan Janin
Paparan selama kehamilan, terutama pada trimester ketiga, dapat menyebabkan gejala ekstrapiramidal atau gejala putus obat pada neonatus, seperti agitasi, tremor, gangguan tonus otot, gangguan napas, dan kesulitan menyusu. Oleh karena itu, penggunaannya selama kehamilan hanya dianjurkan apabila manfaat yang diharapkan lebih besar daripada potensi risiko terhadap janin.[2]
Efek Samping Hematologi
Dari aspek hematologi, penggunaan prochlorperazine telah dikaitkan dengan leukopenia, neutropenia, dan agranulositosis. Pasien dengan jumlah leukosit rendah sebelumnya atau riwayat leukopenia/neutropenia akibat obat memerlukan pemantauan hitung darah lengkap secara berkala, terutama pada bulan-bulan awal terapi.[2]
Efek Mengantuk dan Gangguan Konsentrasi
Prochlorperazine juga dapat menyebabkan depresi sistem saraf pusat, sehingga mengganggu kemampuan mental dan fisik seperti menyebabkan kantuk dan gangguan konsentrasi, terutama pada awal terapi. Oleh karena itu, pasien perlu berhati-hati saat mengemudi atau mengoperasikan mesin.[2]
Efek Samping Kardiovaskular
Efek kardiovaskular yang perlu diperhatikan adalah hipotensi, terutama pada penggunaan dosis tinggi atau pemberian parenteral. Setelah injeksi, pasien dianjurkan tetap dalam posisi terlentang dan dipantau selama sedikitnya 30 menit untuk mengurangi risiko hipotensi berat.[2]
Regulasi Suhu Tubuh
Fenotiazin juga dapat mengganggu regulasi suhu tubuh melalui efek pada hipotalamus, sehingga meningkatkan risiko hipertermia atau hipotermia pada kondisi suhu lingkungan yang ekstrem.[2]