Aspirin Dosis Tinggi sebagai Terapi Migraine Akut

Oleh :
dr. Andriani Putri Bestari, Sp.S

Bukti ilmiah mendukung aspirin dosis tinggi secara monoterapi maupun kombinasi dapat mengurangi gejala dari migraine akut.

Migraine adalah sakit kepala primer yang memiliki karakteristik nyeri kepala yang seringkali unilateral, dapat disertai dengan aura, memberat dengan aktivitas, disertai dengan mual atau muntah, fotofobia, dan fonofobia. Nyeri yang dirasakan pada migraine dapat berintensitas moderat hingga berat.[1,2]

Migraine

Tata laksana migraine terdiri dari terapi abortif untuk mengobati migraine akut dan profilaksis untuk mengurangi frekuensi keparahan serangan migraine. Terapi migraine akut yang banyak digunakan meliputi obat anti inflamasi non-steroid (OAINS), parasetamol, derivat ergot, triptan, antiemesis, dan kombinasi beberapa obat. Aspirin merupakan salah satu OAINS yang efektif dalam terapi migraine akut.[1,2]

Mekanisme Kerja Aspirin Sebagai Terapi Migraine

Sebagian besar nyeri pada migraine disebabkan oleh pelepasan calcitonin gene-related peptide (CGRP) pada dura mater yang menyebabkan vasodilatasi dan inflamasi neurogenik. Aspirin yang merupakan OAINS bekerja dengan menginhibisi inflamasi neurogenik tersebut dan secara sentral dapat mencegah proses sensitisasi.[3]

Aspirin juga menghentikan kaskade inflamasi yang meliputi pelepasan prostaglandin dan agregasi platelet yang berkaitan dengan pelepasan zat vasoaktif dalam inisiasi dan propagasi migraine.[4]

Aspirin Sebagai Lini Pertama Migraine Akut

Aspirin merupakan salah satu OAINS yang menjadi lini pertama pada migraine akut dengan level evidence A pada pedoman yang diterbitkan oleh American Academy of Neurology (AAN) di tahun 2000 dan American Headache Society di tahun 2015. [1,5] Dosis yang disarankan berkisar antara 900-1000mg. Aspirin dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi, seperti asetaminofen/aspirin/kafein untuk tata laksana migraine akut.[1]

Efek samping yang perlu diperhatikan dalam penggunaan aspirin (seperti OAINS lainnya) adalah mual, muntah, iritasi gaster, tinnitus, perdarahan, dan disfungsi platelet. Kontraindikasi penggunaan aspirin meliputi riwayat penyakit ulkus peptikum, penyakit inflamasi saluran cerna, riwayat perdarahan, riwayat operasi bypass lambung, alergi terhadap aspirin, disfungsi renal, dan dalam konsumsi pengencer darah lainnya.[3,6,7]

Efikasi Aspirin Sebagai Terapi Migraine Akut

Aspirin dapat digunakan sebagai monoterapi migraine akut maupun dikombinasikan dengan obat lain seperti kafein untuk mengurangi gejala.

Efikasi Monoterapi Aspirin Dosis Tinggi

Lipton et al. meneliti efikasi aspirin dalam penanganan migraine akut dengan menggunakan metode headache diary. Dalam studinya, 485 subyek dirandomisasi untuk mendapat aspirin 1000 mg atau plasebo dan diminta untuk menilai intensitas migraine dalam periode 0.5, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 24 jam setelah pengobatan.[8]

Respons penurunan nyeri migraine pada 2 jam ditemukan pada 52% partisipan dengan aspirin, dibandingkan hanya 34% pada plasebo. Bahkan 20% partisipan bebas nyeri migraine setelah 2 jam. Aspirin lebih efektif secara signifikan dalam mengurangi nyeri dimulai dari 1 jam setelah pengobatan hingga 6 jam. Rekurensi sakit kepala terjadi pada 21,8% partisipan dengan aspirin dibandingkan 27,7% partisipan pada 24 jam pengobatan. Hanya 34% partisipan dengan aspirin memerlukan tambahan obat dibandingkan 52% partisipan dengan plasebo setelah 24 jam. Dari studi ini dapat dikatakan aspirin merupakan terapi yang efektif pada migraine akut.[8]

Hal yang sama didapatkan oleh Lange et al. dalam penelitian multisenter efikasi aspirin 1000 mg dalam bentuk effervescent dalam tata laksana migraine akut. Sebanyak 374 partisipan dirandomisasi untuk mendapatkan aspirin effervescent atau plasebo.

Pengurangan nyeri dari moderat dan berat menjadi ringan atau tidak ada nyeri pada 2 jam didapatkan pada 55% partisipan yang mendapatkan aspirin dan 36,8% partisipan yang mendapatkan plasebo. Bahkan pada 29% partisipan dengan aspirin mengalami bebas nyeri pada 2 jam dibandingkan dengan 16,7% pada kelompok plasebo. Kejadian adverse event berupa mual dan muntah hanya muncul pada 8,3% kelompok aspirin.[9]

Studi EMSASI (European Migraine Study on Aspirin, Sumatriptan, and Ibuprofen) membandingkan efektivitas aspirin dengan ibuprofen, sumatriptan, dan plasebo dalam tatalaksana migraine akut. Studi multisenter ini merandomisasi 312 pasien untuk mendapatkan aspirin 1000 mg, ibuprofen 400 mg, sumatriptan 50 mg, atau plasebo.[10]

Hasil studi ini menunjukkan persentase pasien yang mengalami penurunan keparahan migraine dari moderat dan berat menjadi ringan atau tidak sama sekali adalah 52,5% untuk aspirin, 60,2% untuk ibuprofen, 55,8% untuk sumatriptan, dan 30,6% untuk plasebo.[10]

Persentase pasien yang bebas nyeri setelah 2 jam adalah 27,1% untuk aspirin, 33,2% untuk ibuprofen, 37,1% untuk sumatriptan, dan 12,6% untuk plasebo. Kejadian adverse event hanya terjadi pada 4,1%, 5,7%, 6,6%, dan 4,5% pasien untuk aspirin, ibuprofen, sumatriptan, dan plasebo secara berurutan. Hal ini menunjukkan bahwa aspirin memiliki efektifitas yang sama dengan ibuprofen dan bahkan sumatriptan. Namun penelitian ini menggunakan diari yang harus diisi oleh pasien dan penggunaan obat lain selama durasi gejala migraine.[10]

Kombinasi Aspirin pada Migraine Akut

Espiritu et al. meninjau efikasi dan tolerabilitas terapi kombinasi aspirin/paracetamol /kafein sebagai terapi akut migraine. Dari seluruh studi yang ditinjau, terapi kombinasi aspirin 500 mg/paracetamol 500 mg/kafein 130mg tersebut dikatakan superior dibandingkan plasebo dalam hal kebebasan dari nyeri, mual, fotofobia, fonofobia, dan pengurangan disabilitas fungsional pada 2 jam.[11]

Kejadian adverse event yang didapatkan bersifat ringan berupa mual dan rasa gugup. Pada kesimpulannya, Espiritu mengatakan bahwa aspirin dalam kombinasi dengan paracetamol dan kafein cukup efektif dalam mengatasi migraine moderat hingga berat dengan tolerabilitas yang baik.[11]

Keamanan dan Tolerabilitas Aspirin sebagai Terapi Migraine

Keamanan dan tolerabilitas aspirin sebagai terapi migraine ditinjau oleh McCarthy di tahun 2012. Dalam tinjauannya, dari beberapa studi yang diteliti, kemungkinan terjadinya efek samping dari penggunaan aspirin adalah cukup rendah (sekitar 0-5,9%).[12]

Dalam tinjauannya, sebagian besar efek samping dari penggunaan aspirin timbul pada sistem gastrointestinal berupa mual, muntah, dispepsia dan nyeri abdomen. Karena migraine juga memiliki manifestasi mual dan muntah, angka kemungkinan terjadinya efek samping gastrointestinal tersebut dapat mengalami estimasi yang berlebih. Dalam kesimpulannya, penggunaan aspirin dosis tinggi sebagai terapi migraine akut memiliki profil keamanan yang baik.[12]

Pada sebuah tinjauan sistematis Cochrane, aspirin terbukti efektif sebagai terapi migraine akut. Tinjauan tersebut mengklaim bahwa aspirin dosis tunggal 1000mg setara dengan sumatriptan 50 mg atau 100 mg. Aspirin 1000 mg dapat mengurangai nyeri migraine moderat dan berat menjadi hilang dalam dua jam pada 1 dari 4 orang.[13]

Dosis tersebut juga mengurangi nyeri moderat dan berat menjadi ringan pada 1 dari 2 orang. Perbaikan nyeri yang bertahan hingga 24 jam dirasakan pada hampir seluruh subyek. Pemberian aspirin dapat dibarengi dengan metoklopramid yang efektif mengurangi mual dan muntah, tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna dalam pengurangan nyeri.[13]

Kesimpulan

Migraine merupakan sakit kepala primer yang memerlukan terapi akut pada saat serangan terjadi dan terapi profilaksis untuk mengurangi frekuensi dan keparahan serangan.

Aspirin merupakan salah satu terapi migraine akut yang efektif dengan tolerabilitas yang baik meskipun diperlukan dosis tinggi sekitar 900-1000mg. Efek samping pada pemberian aspirin dosis tinggi sebagai terapi migraine akut sebagian besar berupa gejala gastrointestinal yang bersifat ringan dan jarang. Aspirin efektif diberikan sebagai monoterapi atau dalam kombinasi.

Referensi