Farmakologi Prochlorperazine
Secara farmakologi, prochlorperazine adalah derivat fenotiazin yang bekerja terutama sebagai antagonis reseptor dopamin D₂ di sistem saraf pusat, khususnya pada chemoreceptor trigger zone (CTZ), sehingga efektif sebagai antiemetik dan memiliki aktivitas antipsikotik.[1-3,5]
Farmakodinamik
Prochlorperazine merupakan antipsikotik generasi pertama golongan fenotiazin yang menghasilkan efek farmakologis utama melalui penghambatan transmisi dopaminergik di sistem saraf pusat. Obat ini meningkatkan inhibisi postsinaptik neuron dopaminergik dan menunjukkan aktivitas antiemetik, dengan efektivitas yang dilaporkan sebanding dengan antagonis reseptor 5-HT₃ seperti ondansetron dalam mencegah mual dan muntah.
Selain sebagai antagonis reseptor dopamin D₂, prochlorperazine juga menghambat reseptor histamin H₁, muskarinik kolinergik, dan α₁-adrenergik. Blokade reseptor α₁-adrenergik berkontribusi terhadap efek sedasi, relaksasi otot, dan hipotensi, sementara antagonisme pada berbagai reseptor lain turut memberikan efek ansiolitik.
Dibandingkan beberapa derivat fenotiazin lainnya, prochlorperazine relatif kurang sedatif dan memiliki kecenderungan yang lebih rendah untuk menyebabkan hipotensi, meskipun tetap memiliki risiko efek ekstrapiramidal yang cukup kuat.
Aktivitas antiemetik terutama terjadi melalui penghambatan reseptor D₂ pada chemoreceptor trigger zone (CTZ) di medula oblongata. Dengan menghambat aktivasi dopamin pada CTZ, prochlorperazine mampu menekan mual dan muntah, termasuk muntah yang diinduksi oleh agonis dopamin seperti apomorfin.[3,5]
Farmakokinetik
Prochlorperazine diabsorpsi dengan baik melalui saluran cerna tetapi memiliki bioavailabilitas oral yang rendah akibat metabolisme lintas pertama yang ekstensif. Obat ini terdistribusi luas ke berbagai jaringan termasuk otak, hati, dan limpa, dimetabolisme terutama di hati melalui oksidasi, hidroksilasi, demetilasi, pembentukan sulfoksida, dan konjugasi glukuronida (terutama melibatkan CYP2D6).[3,5]
Absorpsi
Prochlorperazine umumnya diabsorpsi dengan baik dari saluran gastrointestinal setelah pemberian oral. Setelah pemberian oral, onset efek farmakologis terjadi dalam waktu sekitar 30–40 menit, sedangkan pemberian intramuskular menghasilkan onset yang lebih cepat, yaitu sekitar 10–20 menit.
Meskipun absorpsinya baik, bioavailabilitas oral rata-rata hanya sekitar 12,5% karena metabolisme lintas pertama yang ekstensif. Konsentrasi puncak plasma umumnya dicapai dalam waktu sekitar 5 jam. Pemberian berulang dapat menyebabkan akumulasi obat maupun metabolitnya hingga steady state tercapai dalam sekitar 7 hari dengan pemberian dua kali sehari.[3,5]
Distribusi
Volume distribusi sekitar 1401–1548 L setelah pemberian intravena. Obat ini dan metabolitnya ditemukan pada berbagai organ, terutama otak, paru-paru, hati, ginjal, dan limpa, dengan konsentrasi tinggi pada hati dan limpa.
Sebagai anggota golongan fenotiazin, prochlorperazine juga diketahui berikatan kuat dengan protein plasma. Selain itu, obat ini mampu melewati sawar darah otak dan plasenta, serta diduga dapat diekskresikan ke dalam ASI, sehingga penggunaannya pada kehamilan dan menyusui memerlukan pertimbangan khusus.[3,5]
Metabolisme
Prochlorperazine mengalami metabolisme ekstensif di hati melalui berbagai jalur biotransformasi, termasuk oksidasi, hidroksilasi, demetilasi, pembentukan sulfoksida, dan konjugasi dengan asam glukuronat. Reaksi oksidasi terutama dimediasi oleh enzim CYP2D6, dengan kemungkinan keterlibatan CYP3A4.
Beberapa metabolit yang telah teridentifikasi antara lain N-desmetil prochlorperazine, prochlorperazine sulfoksida, prochlorperazine 7-hidroksida, dan prochlorperazine sulfoksida 4′-N-oksida. Obat ini juga dapat mengalami sirkulasi enterohepatik, yang dapat memperpanjang keberadaannya dalam tubuh.[3,5]
Eliminasi
Eliminasi prochlorperazine terutama berlangsung melalui sistem hepatobilier, dengan sebagian besar obat dan metabolitnya diekskresikan melalui empedu dan feses. Hanya sejumlah kecil obat yang diekskresikan melalui urin dalam bentuk tidak berubah maupun sebagai metabolit.
Nilai klirens plasma rerata setelah pemberian intravena dilaporkan sekitar 0,98 L/jam/kg. Klirens ginjal sekitar 23,6 mL/jam. Waktu paruh eliminasi terminal prochlorperazine berkisar antara 8–9 jam setelah pemberian oral maupun intravena.[3,5]