Efektivitas Terapi Sulih Hormon pada Wanita Menopause

Oleh dr. Yelvi Levani

Terapi sulih hormon pada wanita menopause bermanfaat untuk mengurangi gejala-gejala yang diakibatkan oleh menopause. Walau demikian, penggunaan terapi sulih hormon pada wanita menopause ini masih mengundang perdebatan dari segi keamanannya mengingat efek samping yang cukup signifikan seperti peningkatan risiko kanker. Oleh karena itu penggunaan terapi sulih hormon sebaiknya mempertimbangkan manfaat dan risiko bagi pasien.

Depositphotos_124250122_m-2015

Menopause merupakan suatu kondisi di mana siklus haid berhenti secara permanen. Menopause bisa terjadi secara alami seiring dengan pertambahan usia. Menopause biasanya terjadi pada rentang usia 48 – 52 tahun atau lebih.[1] Menopause sekunder disebabkan oleh hal lain misalnya akibat operasi pengangkatan kedua ovarium atau efek samping dari kemoterapi / radioterapi.

Manifestasi klinis yang disebabkan oleh perubahan hormon saat menopause diantaranya adalah keluhan rasa terbakar (hot flush) terutama pada wajah dan leher disertai dengan pengeluaran keringat yang banyak. Gangguan ini disebabkan oleh instabilitas vasomotor sehingga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan biasanya terjadi saat menjelang menopause sampai beberapa tahun setelah menopause.[3] Penurunan kadar estrogen pada tubuh saat menopause dapat menyebabkan penipisan jaringan atau atropi di daerah vagina, vulva, kandung kemih dan uretra sehingga menghasilkan gejala seperti vagina yang kering, nyeri saat berhubungan intim, rasa terbakar dan infeksi saluran kencing berulang.[4]

Estrogen juga berperan dalam meregulasi proses resorbsi dan pembentukan tulang. Penurunan kadar estrogen dalam tubuh menyebabkan peningkatan resorbsi tulang dan pengurangan pembentukan tulang sehingga massa tulang menjadi rapuh atau mengalami osteoporosis.[5] Estrogen yang kurang dalam tubuh juga dapat meningkatkan risiko dislipidemi dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskuler seperti stroke atau penyakit jantung koroner. Selain memberikan keluhan fisik, perubahan hormon saat menopause juga dapat memberikan dampak pada psikologis seperti depresi.[6]

Terapi Sulih Hormon pada Wanita Menopause

Terapi sulih hormon atau hormone replacement therapy (HRT) merupakan pemberian hormon estrogen sintetis dosis kecil untuk mengurangi berbagai gejala menopause yang didasari oleh penurunan kadar estrogen dalam tubuh. Terapi sulih hormon dapat diberikan saat menjelang menopause (perimenopause) maupun pasca menopause. Terapi sulih hormon juga dapat digunakan untuk wanita yang mengalami menopause dini atau yang melakukan operasi pengangkatan ovarium (sebelum usia 45 tahun). Selain pemberian estrogen, dapat juga diberikan tambahan hormon progesteron. Tetapi pemberian hormon progesteron hanya boleh diberikan untuk wanita dengan kondisi rahim yang utuh untuk mengurangi risiko kanker endometrium.[7]

Pemberian terapi sulih hormon dapat diberikan secara sistemik (oral, transdermal, implan) maupun lokal (krim, pesarium). Preparat terapi sulih hormon yang tersedia dapat dalam bentuk estrogen saja, kombinasi estrogen dan progesteron, selective estrogen receptor modulator (SERM) dan gonadomimetik seperti Tibolon (mengandung estrogen, progesteron dan androgen). Terapi estrogen dosis rendah bisa diberikan setiap hari, sedangkan terapi kombinasi estrogen dan progesteron dapat diberikan setiap hari maupun secara siklik dimana progesteron dapat diberikan pada hari ke 10 sampai hari ke 14 setiap 4 minggu. Preparat terapi sulih hormon yang ada di Indonesia di antaranya estrogen terkonjugasi, estrogen terkonjugasi dan medroksiprogesteron asetat, dietilstilbestrol, estradiol, estradiol valerat, estradiol valerat dan siproteron asetat, estradiol dan didrogesteron, estradiol dan drospirenon, estradiol hemihidrat, estradiol hemihidrat dan norethisteron serta Tibolon.[8]

Pemberian terapi sulih hormon diketahui efektif untuk mengurangi frekuensi dan keparahan keluhan gangguan vasomotor seperti hot flush pada wanita menopause dalam beberapa minggu setelah digunakan.[9] Pemberian terapi sulih hormon dalam bentuk estrogen dosis rendah, kombinasi estrogen dan progesteron dan estrogen transdermal dibuktikan dapat mengurangi gejala tersebut.[10] Terapi estrogen baik sistemik maupun lokal dapat menguragi gejala urogenital. Terapi estrogen dapat mengembalikan flora normal, menurunkan pH vagina, menebalkan serta merevaskularisasi lapisan vagina. Pemberian terapi estrogen secara lokal pada vagina  dapat memperbaiki atrofi vagina tanpa menyebabkan efek proliferasi lapisan endometrium.[11] Pemberian terapi estrogen secara transdermal dapat digunakan untuk wanita menopause yang memiliki keluhan sangat mengganggu dengan komplikasi diabetes melitus tipe 2, obesitas atau memiliki risiko kardiovaskuler tinggi, yang mana gejala tersebut tidak dapat berkurang dengan terapi non hormonal.[2]

Efek Samping dan Kontraindikasi Pemberian Terapi Sulih Hormon

Terapi sulih hormon dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara khususnya pada pengguna terapi sulih hormon kombinasi lebih dari 5 tahun.[11] Peningkatan risiko kanker payudara pada penggunaan terapi sulih hormon selama 5 tahun dinyatakan dalam number needed to harm sebesar 1100 untuk terapi estrogen saja dan 641 untuk kombinasi estrogen dan progesteron. Dengan kata lain, 1 dari 1100 orang yang diberikan terapi estrogen saja dan 1 dari 641 orang yang diberi terapi kombinasi akan mengalami kanker payudara.[12]

Terapi estrogen tanpa adanya progesteron pada wanita menopause yang memiliki rahim yang utuh dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium dan hiperplasia endometrium.[13] Pemberian hormon estrogen secara oral dapat meningkatkan sintesis prokoagulan di hepar sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya tromboemboli vena.[14] Selain itu, pemberian terapi estrogen saja atau kombinasi estrogen dan progesteron dapat meningkatkan risiko gangguan pada kandung empedu.[15]

Terapi sulih hormon dikontraindikasikan pada wanita yang memiliki riwayat kanker payudara, memiliki risiko tinggi menderita kanker payudara (misalnya ibu pasien menderita kanker payudara), menderita tromboembolisme vena atau memiliki risiko tinggi trombosis atau stroke. Secara umum, inisiasi pemberian terapi sulih hormon tidak direkomendasikan untuk wanita yang berusia lebih dari 60 tahun.[2]  Tidak ada batasan lama pemberian terapi sulih hormon sehingga dapat digunakan selama pasien merasa mendapatkan manfaat dari penggunaan obat tersebut. Tetapi pemberian terapi harus dievaluasi secara berkala setidaknya setiap setahun sekali untuk memantau efek samping.

Kesimpulan

Terapi sulih hormon dapat bermanfaat untuk mengurangi gejala yang disebabkan oleh perubahan hormon saat menopause. Terapi sulih hormon tidak dapat diberikan untuk semua wanita menopause. Terapi sulih hormon dapat memberikan efek samping seperti peningkatan risiko kanker, tromboemboli dan gangguan kandung empedu. Oleh karena itu pemberian terapi sulih hormon harus dievaluasi secara berkala.

Referensi