Risiko Terapi Hormonal Jangka Panjang untuk Menopause

Oleh :
dr. Gisheila Ruth Anggitha

Terapi hormonal jangka panjang untuk menopause, baik pada wanita perimenopause maupun wanita menopause, dapat menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, tromboemboli vena, stroke, kanker payudara, dan penyakit kandung kemih.

Menopause merupakan suatu kondisi perubahan fisiologis pada organ reproduksi wanita, yaitu berkurangnya fungsi ovarium dan berhentinya ovarium mengeluarkan sel telur. Sebelum menghadapi fase menopause, wanita akan mengalami fase perimenopause, yaitu fase transisi menuju menopause yang ditandai dengan berbagai gejala vasomotor, ketidakteraturan siklus menstruasi, perubahan mood dan fungsi seksual. Hormon estrogen dinilai efektif dalam mengatasi gejala vasomotor pada wanita perimenopause dan menopause. Namun, pemberian jangka panjang perlu diawasi karena dapat menyebabkan berbagai efek samping, terutama pada jantung dan pembuluh darah.[1-3]

menopause comp

Perimenopause dan Menopause

Perimenopause adalah suatu fase transisi menuju menopause. Fase ini ditandai dengan beberapa perubahan fisiologis tubuh, seperti ketidakteraturan siklus menstruasi, perubahan mood, gangguan tidur dan hot flashes, gangguan fungsi kandung kemih dan vagina, perubahan fungsi seksual, dan perubahan kadar kolesterol. Postmenopause adalah fase atau periode setelah wanita tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. [1-3]

Hot flashes merupakan suatu kondisi di mana kulit akan terasa panas secara tiba-tiba berlangsung selama 30 detik sampai 5 menit. Pada keadaan ini, kulit wajah dan leher dapat memerah, detak jantung meningkat, dan akan keringat keluar sangat banyak. Adanya perubahan hormon reproduksi memainkan peran penting pada terjadinya hot flashes ini. Penurunan kadar estrogen dapat menyebabkan disfungsi regulasi suhu dalam tubuh. Adanya gangguan dalam kontrol termoregulasi menyebabkan respon pelepasan panas tubuh terjadi secara berlebihan dan ritme sirkardian terganggu.[4-6]

Tata Laksana Hormonal pada Wanita Perimenopause dan Menopause

Gejala vasomotor (hot flashes) merupakan indikasi paling sering pemberian terapi sulih hormon pada pasien perimenopause dan telah disetujui oleh FDA. Estrogen transdermal dinilai lebih aman digunakan dibandingkan dengan estrogen oral karena dapat menghindar dari efek lintas pertama di liver sehingga dapat menurunkan risiko tromboemboli vena.

Hormon estrogen biasanya diberikan pada dosis efektif yang terendah dan perlahan dinaikkan setelah 8 minggu terapi dimulai. Pemberian hormon estrogen juga dapat dikombinasi dengan hormon progesteron untuk menurunkan risiko hiperplasia endometrium dan kanker rahim.[1]

Penggunaan terapi hormon jangka panjang dapat menyebabkan beberapa efek samping. Sebuah studi dilakukan oleh Marjoribank, et al yang bertujuan untuk meneliti efek jangka panjang dari penggunaan terapi hormon terhadap mortalitas, gangguan kardiovaskular, kanker, gangguan kandung kemih, fraktur, dan gangguan fungsi kognitif pada wanita yang mengalami perimenopause dan postmenopause.

Hasil penelitian menyatakan bahwa penggunaan terapi hormon dapat meningkatkan risiko kejadian sindrom koroner, tromboemboli vena, stroke, kanker payudara, dan gangguan kandung kemih.[7]

Risiko Pemberian Tata Laksana Hormonal pada Wanita Menopause

Terapi hormon estrogen dapat meningkatkan risiko tromboemboli vena  4,28 kali lipat dan penyakit koroner (infark miokard atau kematian kardiovaskular) sebesar 1,89 kali lipat dibandingkan dengan plasebo setelah 1–2 tahun terapi. Peningkatan risiko stroke meningkat sebanyak 1,46 kali lipat setelah 3 tahun penggunaan. Sedangkan risiko kanker payudara dan penyakit kandung kemih akan meningkat risikonya setelah 5–6 tahun penggunaan. Meski demikian, tidak terdapat peningkatan mortalitas pada penggunaan terapi hormon estrogen ataupun kombinasi hormon estrogen-progesteron selama follow up 13 tahun penggunaan.[7]

Marjoribank, et al, menyatakan bahwa wanita sehat usia 50-59 tahun memiliki risiko absolut yang rendah untuk mengalami efek samping dari penggunaan terapi hormon dosis rendah. Namun, perlu dipastikan bahwa pasien tidak memiliki kontraindikasi. Pada wanita yang tidak memiliki uterus, penggunaan terapi hormon estrogen selama 5-6 tahun relatif aman.[7]

Penggunaan terapi hormon estrogen-progesteron berpotensi meningkatkan risiko kanker payudara. Oleh karena itu, dokter biasanya menyarankan pasien untuk menghentikan terapi obat setelah tiga sampai lima tahun penggunaan.[1]

Penggunaan terapi hormon tidak disarankan pada wanita yang memiliki risiko penyakit kardiovaskular dan kanker payudara. Wanita dengan berat badan lebih, obesitas, dan memiliki riwayat trombosis vena merupakan kontraindikasi dari terapi hormon estrogen oral, namun pasien dapat menggunakan estrogen transdermal.[7]

Cara Menyikapi Risiko Terapi Hormon

Wanita sehat yang tidak memiliki faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dapat menggunakan terapi hormon dosis rendah karena risiko efek samping yang cukup rendah kontraindikasi. Namun, pada pasien yang tidak lagi memiliki uterus, sebaiknya diberikan terapi hormon estrogen saja selama 5-6 tahun.

Wanita yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, kanker payudara, penyakit tromboembolik, atau obesitas sebaiknya tidak mengonsumsi hormon estrogen secara oral. Sebagai alternatifnya, dokter dapat menyarankan penggunaan hormon estrogen transdermal.[7]

Terapi Alternatif Nonhormonal

Sebagai alternatif dari terapi hormon, beberapa penelitian menyatakan bahwa produk kedelai (soy product), kaya akan fitoestrogen (isoflavon), memiliki potensi menjadi sumber estrogen eksogen dan dapat menurunkan keluhan vasomotor. Sayangnya, meta analisis Cochrane menyatakan bahwa tidak terdapat bukti konklusif manfaat suplementasi fitoestrogen untuk menopause.[8]

Terdapat juga terapi alternatif nonhormonal untuk mengurangi keluhan, seperti terapi relaksasi, obat klonidin, agen serotonergik, dan gabapentin. Namun, efektivitas masing-masing terapi ini masih kontroversial atau memerlukan penelitian lebih lanjut.[9]

Kesimpulan

Perimenopause merupakan suatu fase transisi yang ditandai dengan adanya ketidakteraturan siklus menstruasi, perubahan mood, dan gejala vasomotor, seperti hot flashes dan keringat di malam hari. Hot flashes merupakan indikasi paling umum diberikannya terapi hormon pada wanita yang sedang dalam fase perimenopause dan postmenopause. Hormon estrogen dapat membantu regulasi suhu dalam tubuh dan mengatur kembali ritme sirkardian sehingga dapat mengurangi gejala vasomotor.

Penggunaan jangka panjang hormon estrogen dapat menyebabkan beberapa efek, seperti kejadian kardiovaskular, stroke, tromboemboli vena, kanker payudara, dan gangguan kandung kemih. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan sebelum dan selama penggunaan terapi hormon sehingga dapat mencegah efek samping yang tidak diinginkan.

Referensi