Hubungan antara Pola Makan dan Onset Menopause

Oleh :
dr. Immanuel Natanael Tarigan

Onset menopause dini berhubungan dengan berbagai risiko kesehatan sehingga faktor-faktor yang dapat menunda onset menopause terus diteliti. Salah satu faktor yang terbukti memiliki hubungan dengan menopause adalah pola makan. Konsumsi makanan tinggi karbohidrat dapat mempercepat sedangkan konsumsi sayur, kacang-kacangan, dan serat, dapat memperlambat onset menopause.

Menopause adalah fase yang menunjukkan berakhirnya masa reproduktif pada wanita, ditandai dengan berakhirnya periode menstruasi normal pada wanita. Menopause didefinisikan sebagai terhentinya menstruasi secara permanen, sekurang-kurangnya selama 12 bulan berturut-turut. Kondisi ini terjadi karena saat siklus menstruasi berakhir, ovarium berhenti memproduksi estrogen. Penurunan kadar estrogen akan diikuti oleh peningkatan kadar progesteron. Selain berakhirnya siklus menstruasi yang menjadi penanda pasti menopause, beberapa wanita mungkin mengalami gejala-gejala seperti kemerahan dan hangat pada wajah dan tubuh bagian atas, gangguan tidur, peningkatan berkemih dan nyeri saat berhubungan seksual.[1,2]

Depositphotos_96685940_m-2015_compressed

Onset Menopause

Onset usia menopause perempuan di beberapa negara berbeda-beda. Rerata usia menopause di Amerika dan Inggris adalah 51 tahun.[1] Di negara-negara Asia, rerata usia menopause berbeda-beda mulai dari 49 tahun di Singapura dan Korea[3,4],  48 tahun di Manila, dan 46,8 tahun di India.[4] Rerata usia menopause di Indonesia adalah 51 tahun.[4]. Onset menopause berhubungan dengan perubahan fisiologis dan faktor risiko penyakit tertentu pada perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa menopause yang terjadi pada usia yang lebih muda berhubungan dengan risiko penurunan densitas tulang, osteoporosis, depresi dan kematian yang lebih muda, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Sebaliknya, menopause yang terjadi pada usia yang lebih tua berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara, ovarium dan endometrium.[5] Menopause yang terjadi pada usia yang lebih tua dikaitkan dengan harapan hidup yang lebih tinggi, penurunan risiko kematian akibat apapun, penurunan risiko penyakit kardiovaskular, kematian akibat penyakit kardiovaskular, stroke, infark miokardium dan aterosklerosis serta penurunan risiko osteoporosis.[6]

Faktor yang Berhubungan dengan Onset Menopause

Upaya untuk mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan onset usia menopause sudah banyak dilakukan. Beberapa penelitian menemukan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi usia menopause misalnya faktor genetik, sosiodemografi, perubahan hormonal, pajanan faktor lingkungan, gaya hidup dan pola makan.[5] Penelitian lain menemukan beberapa faktor yang mempengaruhi usia menopause pada wanita adalah ras dan suku, indeks massa tubuh, pola makan terutama asupan kalori dan alkohol, dan merokok.[6]

Pola Makan dan Onset Menopause

Hubungan antara pola makan dan onset menopause sudah banyak diteliti. Pada sebuah penelitian lama ditemukan bahwa wanita malnutrisi mengalami menopause 4 tahun lebih awal dibanding umumnya. Sebaliknya, wanita dengan berat dan tinggi yang lebih besar mengalami menopause lebih lambat. Pada sebuah studi ditemukan bahwa kelompok vegetarian mengalami menopause lebih awal sedangkan penelitian lain menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi sayuran hijau dan kuning lebih banyak mengalami menopause lebih lambat.[6]

Makronutrien

Sebuah penelitian besar menemukan bahwa asupan lemak, kolestrol dan kopi secara signifikan berhubungan dengan usia menopause yang lebih dini. Penelitian lain menemukan bahwa konsumsi karbohidrat yang tinggi, sayuran, serat dan produk sereal berhubungan dengan usia menopause yang lebih awal, sedangkan peningkatan konsumsi lemak, protein dan daging berhubungan dengan usia menopause yang lebih lambat.[6]

Sebuah studi longitudinal di Tiongkok tahun 2008 mencari hubungan antara pola makan dengan perlambatan onset menopause. Studi ini melibatkan 33.054 wanita. Pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat hubungan antara jenis makanan tertentu yang dikonsumsi dengan perlambatan onset menopause. Peningkatan konsumsi buah-buahan, protein dan karbohidrat secara signifikan berhubungan dengan onset menopause yang lebih lama. Sebaliknya, konsumsi sayur, kacang kedelai, serat dan lemak tidak mempengaruhi waktu menopause.[7]

Studi lain dilakukan di Amerika melibatkan 2.611 wanita. Pada studi ini tidak ditemukan adanya hubungan antara konsumsi lemak dan karbohidrat dengan onset menopause.[8] Pada penelitian yang dilakukan di Jerman melibatkan 4807 wanita ditemukan bahwa peningkatan konsumsi karbohidrat menyebabkan percepatan usia menopause walaupun belum mencapai signifikansi secara statistik. Penelitian ini juga menemukan bahwa peningkatan konsumsi lemak dapat menyebabkan perlambatan usia menopause, sama seperti peningkatan konumsi daging. Konsumsi produk susu, gula, lemak nabati, ikan dan alkohol tidak berhubungan dengan usia menopause.[9]

Sebuah studi besar dilakukan di Inggris (The UK Women’s Cohort Study / UKWCS) melibatkan 35.372 perempuan berusia 35 hingga 69 tahun. Setelah dilakukan follow up selama 4 tahun terdapat 14.172 mengikuti penelitian hingga akhir. Penelitian ini menilai waktu terjadinya menopause pada wanita. Pada penelitian ini ditemukan bahwa pada wanita yang banyak mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat seperti nasi dan pasta mengalami waktu menopause lebih cepat 1,8 tahun dibanding usia menopause normal dan pada wanita yang banyak mengonsumsi makanan ringan gurih lebih cepat 0,9 tahun. Sebaliknya, wanita yang banyak mengkonsumsi minyak ikan dan kacang-kacangan segar mengalami menopause lebih lambat 3,3, tahun dan 0,9 tahun.

Mikronutrien dan Pola Hidup Vegetarian

UKWCS juga menemukan beberapa mikronutrien yang menyebabkan perlambatan waktu menopause yakni konsumsi vitamin B6 yang lebih tinggi selama 0,6 tahun dan seng (zinc) selama 0,3 tahun.[5]

Secara umum, penelitian ini menyimpulkan bahwa kelompok wanita tidak vegetarian mencapai usia menopause 0,8 tahun lebih lambat dibanding kelompok vegetarian. Hal ini disebabkan bahwa kelompok wanita vegetarian mengonsumsi lebih banyak makanan ringan gurih dan minuman ringan yang berhubungan dengan percepatan usia menopause. Analisis pada kelompok khusus menemukan bahwa pada wanita multipara ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minyak ikan dan kacang-kacangan dapat memperlambat usia menopause sedangkan konsumsi beras dan pasta serta makanan ringan dapat mempercepat waktu menopause. Sedangkan pada wanita nulipara ditemukan bahwa peningkatan konsumsi anggur dan daging unggas dapat memperlambat waktu menopause masing masing selama 2,5 tahun dan 5,2 tahun.[6]

Penjelasan Hubungan Pola Makan dan Onset Menopause

Terdapat penjelasan biologis mengenai hubungan perubahan onset menopause dengan pola makan seseorang.  Konsumsi daging dan alkohol secara signifikan berhubungan dengan usia menopause yang lebih lambat. Hal ini berkaitan dengan peningkatan episode pelepasan LH dan FSH dan panjang siklus menstruasi. Daging diperkirakan dapat memodifikasi interaksi hormon pada aksis hipotalamus-pituitari-ovarium. Asupan serat cenderung berbanding terbalik dengan asupan daging. Serat makanan dapat mengganggu sirkulasi enterohepatik hormon seks sehinggga menurunkan kadar estrogen darah. Konsumsi kedelai mengakibatkan peningkatan konsentrasi estradiol plasma dan peningkatan fase folikuar, penundaan mentruasi dan penuruan lonjakan LH dan FSH di tengah siklus. Akibatnya, tidak terjadi penurunan FSH dan LH secara signifikan pada wanita menopause yang mendapat kedelai. Selain itu juga ditemukan tidak ada peningkatan ikatan globulin dan hormone seks, perubahan minimal pada estradiol endogen dan berat badan.[6,9]

Peningkatan konsumsi kacang-kacang ditemukan dapat memperlambat usia menopause. Hal ini dimungkinkan karena kacang-kacangan mengandung banyak antioksidan. Antioksidan, terutama fenolik, vitamin dan karotenoid akan menjadi pelindung pada reactive oxygen species (ROS) yang mempengaruhi maturasi oosit, ovulasi, leuteolisis dan atresia folikel. Stress oksidatif yang terjadi dapat menyebabkan penghambatan steroidogenesis di sel granulosa dan menginduksi apoptosis sel granulosa yang menyebabkan atresia folikel.[10] Mekanisme yang sama ini dapat menjelaskan pengaruh konsumsi vitamin B6 dan seng. Minyak ikan kaya akan asam lemak omega 3. Omega 3 meningkatkan kemampuan kerja antioksidan. Hal ini yang dapat menjelaskan perlambatan usia menopause sekitar 3 tahun untuk setiap tambahan porsi.[5,9]

Pada penelitian ditemukan, bahwa peningkatan konsumsi pasta dan beras menyebabkan menopause terjadi pada usia yang lebih dini. Pasta dan beras merupakan karbohidrat dengan indek glikemi yang tinggi. Konsumsi keduanya menyebabkan peningkatan risiko resistensi insulin yang dapat menyebabkan peningkatan penghambatan insulin pada produksi sex hormone binding globulin (SHBG) sehingga menurunkan kadar SHBG. Proses ini mengakibatkan peningkatan kadar estrogen yang pada akhirnya memicu ovulasi, hal ini dikaitkan dengan percepatan menopause.[5,9]

Kesimpulan

Dari beberapa bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa pola makan perempuan dapat mempengaruhi usia menopause. Walaupun demikian, beberapa studi masih belum dapat menunjukkan hasil yang konsisten. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsumsi makanan tinggi karbohidrat dapat mempercepat terjadinya menopause pada wanita. Sebaliknya, peningkatan konsumsi sayur-sayuran, kacang-kacangan dan serat dapat memperlambat terjadinya menopause pada wanita.  Hubungan antara konsumsi lemak dan usia menopause masih menunjukkan hasil yang tidak konsisten dalam beberapa penelitian.

Menopause tidak semata-mata dipengaruhi oleh konsumsi mikro dan makronutrien tertentu saja. Faktor indeks massa tubuh merupakan hal lain yang harus diperhatikan, bersama dengan faktor-faktor lain seperti genetik dan pajanan pada lingkungan. Dokter harus bisa memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai seluruh faktor yang berhubungan dengan onset menopause sehingga pasien bisa memodifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan onset menopause yang lebih cepat.

Referensi