Asosiasi Agen Antikolinergik dengan Peningkatan Risiko Demensia

Oleh dr. Rainey Ahmad Fajri

Agen antikolinergik ditemukan memiliki asosiasi dengan peningkatan risiko demensia, terutama yang disebabkan oleh Alzheimer.

Agen antikolinergik adalah substansi yang memblokade neurotransmitter asetilkolin di sistem saraf pusat dan perifer. Agen antikolinergik dibagi menjadi 2 subgrup, yaitu muskarinik dan nikotinik. Agen tersebut memiliki efek yang berbeda pada setiap organ. Efek yang dapat ditemukan antara lain takikardia, pupil yang berdilatasi, berkurangnya penglihatan, retensi urin, konstipasi, dan mulut kering. Penggunaan antikolinergik secara berlebihan dapat mengancam jiwa. Penggunaan agen antikolinergik cukup luas, antara lain sebagai obat motion sickness, penyakit gastrointestinal, penglihatan, respirasi, kemih, dan antidepresan.[1]

Depositphotos_68315141_m-2015_compressed

Demensia merupakan penurunan progresif fungsi kognitif pada kesadaran yang penuh. Demensia terdiri dari gejala yang bermacam-macam, yang menunjukkan disfungsi kronis dan meluas. Gangguan memori merupakan gejala awal yang paling sering dan paling menonjol. Penyebab terjadinya demensia bisa bermacam-macam, penyebab tersering adalah penyakit Alzheimer. Selain penyakit Alzheimer, demensia dapat terjadi disebabkan oleh penyakit vaskular, penyakit Pick, dan badan Lewy.[2,3]

Depresi merupakan faktor risiko dan merupakan gejala penyerta pada pasien dengan demensia yang disebabkan penyakit Alzheimer. Mekanisme mengapa hal ini terjadi belum dapat dijelaskan, walaupun begitu hal ini dapat berhubungan dengan genetik, perubahan patologis, perubahan pada neurotransmitter dan penyakit serebrovaskular. Selain sebagai faktor risiko dan gejala penyerta, gangguan depresi juga merupakan komplikasi dari demensia.[4]

Patogenesis dan Patofisiologi Terkait

Sudah diketahui bahwa demensia disebabkan oleh degenerasi struktur otak. Efek negatif oleh agen antikolinergik pada memori sudah dilaporkan sejak lama dan didukung oleh banyak studi.[5] Degenerasi kortikal-subkortikal dari neuron kolinergik asendens dan sel piramida besar di serebral korteks merupakan patofisiologi dari penyakit Alzheimer.[3]

Antidepresan trisiklik, seperti amitriptyline, desipramin, dan doxepin, merupakan antagonis reseptor muskarinik kolinergik, dan gejala antikolinergik banyak ditemukan pada dosis sedang. [1] Sebuah penelitian kasus-kontrol pada tahun 2016 di Taiwan menunjukkan bahwa penggunaan antidepresan berhubungan dengan insidensi demensia. Pada penelitian ini, peneliti menemukan bahwa penggunaan antidepresan trisiklik seperti amitriptyline berhubungan dengan berkurangnya risiko demensia. Walaupun begitu, penggunaan antidepresan golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), monoamine oxidase inhibitor (MAOI), antidepresan heterosiklik, dan antidepresan jenis lain berhubungan dengan peningkatan risiko demensia. [6]

Patofisiologi demensia dan mekanisme kerja agen antikolinergik itulah yang menjadi alasan terjadinya efek negatif dari penggunaan agen antikolinergik pada pasien demensia. Rusaknya reseptor kolinesterase dan terhambatnya reseptor yang tersisa oleh agen antikolinergik menyebabkan terjadinya efek antikolinergik yang tidak dapat dihindari. Pada demensia, hal ini terjadi lebih banyak pada pasien dengan penyakit Alzheimer karena tidak terjadi kerusakan reseptor kolinesterase pada demensia akibat penyebab lain.

Hubungan antara Penggunaan Agen Antikolinergik dengan Demensia.

Pada suatu tinjauan sistematis, penggunaan antikolinergik berhubungan dengan berkurangnya fungsi kognitif terdapat pada 33 studi.[7] Meta analisis tahun 2015 juga menunjukkan adanya peningkatan kerusakan kognitif pada pasien lansia dengan penyakit kardiovaskular yang diobati dengan agen antikolinergik. Penelitian tersebut menunjukkan adanya peningkatan kemungkinan mortalitas menjadi dua kali lipat dengan diberikannya antikolinergik.[8] Selain itu, penelitian pada dewasa dengan fungsi kognitif yang normal dan mengkonsumsi agen antikolinergik, menunjukkan adanya pengurangan volume korteks total, peningkatan volume ventrikel lateral bilateral, dan peningkatan volume ventrikel lateral inferior. [5]  

Penelitian lainnya, yaitu penelitian kasus-kontrol menunjukkan adanya hubungan dari beberapa kelas obat antikolinergik dan demensia. Hubungan yang signifikan secara statistik ditemukan pada obat antidepresan, antiparkinson, dan obat urologi. Sedangkan, penelitian tersebut menunjukkan tidak adanya hubungan antara demensia dengan antispasmodik, antipsikotik, dan antihistamin.[9] Penggunaan SSRI pada lansia dengan depresi memiliki risiko yang sangat tinggi pada insidensi demensia. Hal ini dibuktikan dengan adanya penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2016. Penelitian tersebut mengambil 3688 pasien dengan usia 60 atau lebih tanpa demensia.[12]

Terdapat pula penelitian kohort yang menunjukkan terdapatnya peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia pada lansia yang menggunakan obat antikolinergik. Pada penelitian tersebut, pasien yang berhenti menggunakan obat antikolinergik memiliki risiko yang berkurang.[13] Hasil yang sama juga didapatkan pada penelitian yang dilakukan pada tahun 2015. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat penggunaan antikolinergik kumulatif (dosis standar selama 10 tahun) dengan peningkatan risiko demensia. Pada penelitian ini, antikolinergik yang paling banyak dipakai adalah antidepresan trisiklik, antihistamin generasi pertama, dan antimuskarinik untuk kandung kemih.[14]

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan agen antikolinergik berhubungan dengan risiko tinggi demensia. Kerusakan dan hambatan pada reseptor kolinergik merupakan patofisiologi utama pada hal ini. Demensia, terutama yang disebabkan penyakit Alzheimer, merusak sistem saraf kolinergik, sedangkan kerja agen antikolinergik adalah menghambat fungsi kolinergik. Dengan demikian, terjadi efek antikolinergik yang tidak dapat dihindari. Untuk itu, pemberian obat antikolinergik harus sangat berhati-hati pada populasi lanjut usia dengan mempertimbangkan polifarmasi, termasuk dengan obat-obatan over the counter (OTC) yang dapat juga memiliki efek antikolinergik.

Ke depannya, diharapkan tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan ulang pemberian obat dengan efek antikolinergik pada pasien yang berisiko demensia, misalnya pada pasien Parkinson, serta pada pasien dengan aktivitas fisik minim dan gaya hidup sedentari.

Referensi