Deteksi Demensia Pada Pasien Parkinson Dengan MoPaRDS

Oleh :
dr. Paulina Livia Tandijono

Montreal Parkinson Risk of Dementia Scale (MoPaRDS) adalah suatu penilaian menggunakan sistem skor yang digunakan untuk memprediksi atau skrining demensia pada pasien dengan penyakit Parkinson. Sistem skoring ini adalah sistem skoring yang masih baru dan belum secara rutin digunakan di Indonesia.

Telah diketahui bahwa mayoritas pasien dengan penyakit Parkinson akan mengalami demensia di kemudian hari. Demensia dapat menurunkan fungsi, kualitas hidup, dan survival pasien Parkinson. Selain itu, komplikasi ini juga menyebabkan pasien menjadi semakin bergantung pada care giver (seseorang/keluarga yang merawat pasien).[1]

elderly with doctor

Penyakit Parkinson adalah gangguan motorik kronik dengan ciri khas berupa tremor pada saat istirahat (resting tremor), bradikinesia, dan rigiditas. Prevalensi penyakit Parkinson di dunia diperkirakan mencapai 7,5 juta. Onset gejala biasanya muncul di atas usia 40 tahun, paling sering pada usia 65 tahun. Meskipun demikian, penyakit Parkinson juga dapat ditemui pada usia di bawah 21 tahun (disebut juvenile parkinsonism) dan 21–40 tahun (disebut young onset Parkinson Disease).[2]

Demensia merupakan sindrom yang ditandai dengan penurunan kognitif secara signifikan sehingga menimbulkan masalah dan gangguan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Penyebab demensia sebagian besar adalah proses degeneratif atau vaskular. Diperkirakan, sekitar 1% populasi berusia 60 tahun mengalami demensia. Prevalensi tersebut akan meningkat seiring bertambahnya usia, bahkan mencapai 30–50% pada usia 85 tahun.[3]

Penyakit Parkinson dan demensia merupakan dua kondisi yang kerap terjadi pada orang berusia lanjut. Bahkan, keduanya sering kali terjadi bersamaan. Diperkirakan, sekitar 75–90% pasien Parkinson juga mengalami demensia. Berbagai penelitian menyatakan bahwa demensia merupakan komplikasi non-motorik dari penyakit Parkinson yang dikenal dengan nama Parkinson’s disease dementia (PDD). [4]

Mekanisme pasti yang mendasari hubungan antara penyakit Parkinson dan demensia masih belum sepenuhnya dipahami. Diperkirakan, terjadi berbagai mekanisme patofisiologis pada tahap seluler yang turut melibatkan badan Lewy, neurofibrillary tangles, senile plaques, argyrophilic inclusions, dan penyakit mikrovaskular. Berbagai penelitian juga telah mempelajari berbagai perubahan struktur otak yang terjadi pada Parkinson’s disease dementia. Meskipun sudah banyak penelitian yang dilakukan, temuan yang didapat terlalu bervariasi. Selain itu, tidak seluruh perubahan patologis ini menimbulkan makna klinis.[4]

 

Pemeriksaan Biomarker Dan Pencitraan

Belakangan ini, berbagai pemeriksaan penunjang untuk memprediksi demensia pada pasien Parkinson telah dipublikasi. Salah satu di antaranya adalah pemeriksaan biomarker. Jenis biomarker yang sering diteliti adalah alpha-synucleic, amyloid-beta, badan Lewy, dan neurofibrillary tangles. Selain itu, PDD juga sering dihubungkan dengan rendahnya kadar asetilkolis esterase yang merupakan enzim untuk memecah asetilkolin.[5]

Volume substansia nigra pasien Parkinson dengan demensia dilaporkan lebih sedikit dibandingkan pasien Parkinson saja. Perbedaan volume ini terutama ditemukan di area korteks prefrontal, insula, hipokampus, dan kaudatus. Pemeriksaan electroencephalography (EEG) juga dapat digunakan untuk mengetahui penurunan fungsi otak. Peningkatan gelombang frekuensi rendah dan penurunan gelombang frekuensi tinggi pada EEG saat istirahat (resting EEG) berhubungan dengan demensia pada pasien Parkinson.[5]

Montreal Parkinson Risk Of Dementia Scale (MoPaRDS)

Montreal Parkinson Risk of Dementia Scale (MoPaRDS) adalah suatu penilaian yang digunakan pada pasien Parkinson. Tujuannya adalah memprediksi atau skrining demensia. MoPaRDS terdiri dari delapan item, yaitu:

  • Usia lebih muda dari 70 tahun.
  • Jenis kelamin laki-laki.
  • Mild cognitive impairment (MCI).

  • Onset gejala bilateral berdasarkan auto/alo-anamnesis.
  • Gangguan tidur fase rapid eye movement (REM) yang dinilai melalui rapid eye movement sleep behaviour disorder screening questionnaire (RBDSQ).

  • Adanya halusinasi.
  • Kategori jatuh atau akinesia (freezing) yang diukur berdasarkan Movement Disorder Society-Unified Parkinson Disease Rating Scale (MDS-UPDRS).

  • Hipotensi ortostatik, yaitu penurunan tekanan darah ortostatik >10 mmHg.[1]

Setiap item yang positif memiliki poin 1, sedangkan yang negatif memiliki poin 0. Kemudian, poin dari kedelapan item tersebut dijumlahkan. Hasil penjumlahan poin MoPaRDS dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu risiko rendah (nilai 0–3), sedang (nilai 4–5), dan tinggi (nilai 6–8).[1]

Sebuah artikel yang dipublikasi tahun 2018 menilai akurasi MoPaRDS dalam memprediksi demensia pada pasien Parkinson. Artikel tersebut menggunakan cohort dengan total subjek 607 pasien Parkinson tanpa demensia. Setelah 1–8 tahun (rata-rata 4,4 tahun), sebanyak 70 subjek (11,5%) dinyatakan mengalami demensia dengan skor Mini Mental State Examination (MMSE) <26.[1]

Pada artikel tersebut, angka 4 dijadikan patokan atau cutt-off untuk skrining. Hal ini berarti bahwa nilai MoPaRDS >4 dianggap sebagai positif dan sebaliknya, nilai MoPaRDS <4 dianggap negatif. Berdasarkan patokan tersebut, MoPaRDS memiliki sensitivitas 77,1% dan spesifisitas 87,2%. Disimpulkan bahwa MoPaRDS dapat digunakan sebagai prediktor munculnya demensia pada pasien Parkinson. Nilai akurasinya mendekati pemeriksaan biomarker yang saat ini merupakan prediktor utama. Meskipun demikian, diperlukan studi lebih lanjut untuk membandingkan akurasi keduanya secara langsung.[1]

Penggunaan MoPaRDS Di Indonesia

MoPaRDS merupakan pemeriksaan yang lebih sederhana dan dapat dilakukan di Indonesia dibandingkan pemeriksaan lainnya, seperti biomarker. Meskipun demikian, penggunaan MoPaRDS secara rutin di Indonesia masih sulit dilaksanakan. Berikut adalah kendala penerapan MoPaRDS di Indonesia:

  • Minimnya penelitian mengenai MoPaRDS

Hingga saat ini, penelitian tentang akurasi MoPaRDS masih sedikit. Masih diperlukan penelitian lain, terutama dengan jumlah sampel yang besar. Selain itu, penelitian hendaknya membandingkan MoPaRDS dan prediktor lain (biomarker, pencitraan, dan EEG) secara langsung.

  • Waktu pemeriksaan yang lama

Meskipun tidak membutuhkan pemeriksaan penunjang khusus, MoPaRDS memiliki poin-poin pemeriksaan yang memakan waktu cukup lama.

  • Manfaat klinis

Saat ini, belum ada panduan dan algoritma khusus untuk mencegah demensia pada pasien Parkinson yang berisiko tinggi. Selain itu, obat-obatan yang digunakan untuk mengurangi gejala demensia justru memiliki efek samping yang dapat memperberat gejala penyakit Parkinson.

  • Aplikasi spesifik di Indonesia

Kendati sistem skoring ini mudah dan sederhana digunakan di ruang praktik tanpa memerlukan alat tambahan lainnya, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah sistem skoring ini dapat diaplikasikan di Indonesia.

Kesimpulan

Montreal Parkinson Risk of Dementia Scale (MoPaRDS) adalah suatu penilaian menggunakan sistem skor yang digunakan untuk memprediksi atau skrining demensia pada pasien dengan penyakit Parkinson. Sistem skoring ini masih baru dan belum ada cukup banyak studi yang meneliti mengenai spesifisitas dan sensitifitasnya.

Sebuah studi kohort melaporkan bahwa MoPaRDS memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang cukup tinggi. Sistem skoring MoPaRDS juga memiliki kelebihan yaitu mudah dan sederhana digunakan di ruang praktik tanpa memerlukan alat-alat tambahan yang khusus, namun studi lanjutan terutama mengenai kesesuaian penerapannya di Indonesia masih diperlukan.

Referensi