Studi Literatur Akupuntur untuk Nyeri Kronis

Oleh dr. Yelvi Levani

Akupuntur merupakan tindakan menusukkan jarum pada titik-titik tertentu di tubuh manusia untuk tujuan kesehatan, salah satunya untuk mengatasi nyeri kronis. Akupuntur modern saat ini sudah banyak dilakukan, bahkan terdapat spesialisasi kedokteran di bidang ini. Berbeda dengan konsep akupuntur tradisional Tiongkok mengenai stimulasi titik energi untuk melancarkan aliran Qi, akupuntur modern menggunakan konsep stimulasi dan modulasi sistem saraf melalui titik saraf secara anatomis. Selain itu peneliti percaya penggunaan akupuntur diduga dapat membantu pengeluaran hormon endorfin, walaupun sebagian masih berpikiran skeptik menganggap akupuntur hanya memberikan efek plasebo.[1]

Sumber: J Kennemer, Wikimedia commons, 2009. Sumber: J Kennemer, Wikimedia commons, 2009.

Gambar: akupuntur medis yang dilakukan oleh dokter tentara Amerika Serikat untuk mengatasi nyeri yang dialami tentara

Nyeri kronis

Nyeri kronis merupakan nyeri yang dirasakan selama 3 sampai 6 bulan bahkan lebih. Nyeri kronis dapat dibagi menjadi dua yaitu nyeri nosiseptif dan nyeri neuropatik, Nyeri nosiseptif merupakan nyeri yang disebabkan oleh kerusakan jaringan, sedangkan nyeri neuropatik merupakan nyeri yang disebabkan oleh kerusakan saraf. Nyeri kronis dapat berdampak pada kondisi fisik dan mental serta menurunkan kualitas hidup pasien. Untuk mengurangi nyeri, biasanya dokter dapat memberikan obat penghilang nyeri dalam waktu lama seperti obat golongan NSAID, antidepresan, relaksan otot dan opioid bila nyerinya berat. Nyeri kronis dapat disebabkan oleh:[2]

  • Gangguan sendi seperti osteoarthritis
  • Nyeri punggung
  • Sakit kepala
  • Cedera otot
  • Fibromialgia
  • Kerusakan saraf
  • Penyakit lyme
  • Patah tulang
  • Kanker
  • Pembedahan

Manfaat Akupuntur

Akupuntur diketahui memiliki efek fisiologis yang relevan sebagai analgesia. Sehingga dapat digunakan untuk membantu mengurangi nyeri kronis walaupun mekanisme kerja secara pastinya masih belum diketahui.[3] Hal ini yang menyebabkan terapi akupuntur masih menjadi kontroversi di kalangan tenaga medis. Survey kesehatan yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 3 juta orang di Amerika Serikat pernah melakukan terapi akupuntur. Pada tahun 1996, badan pengawas obat Amerika Serikat (FDA) menyetujui penggunaan akupuntur dengan mengklasifikasikan jarum akupuntur sebagai alat kesehatan.[4] Akupuntur dapat digunakan untuk:

  • Mengurangi nyeri leher
  • Mengurangi nyeri punggung
  • Mengurangi sakit kepala kronis
  • Mengurangi nyeri bahu
  • Mengurangi nyeri lutut yang disebabkan oleh osteoarthritis
  • Mengurangi nyeri yang disebabkan oleh kanker
  • Mengurangi kram perut saat haid

Pentingnya terapi alternatif pada nyeri kronis

Penemuan alternatif terapi yang efektif untuk pasien dengan nyeri kronis sangatlah penting. Pasien dengan nyeri kronis derajat sedang sampai berat biasanya diterapi dengan opioid. Peningkatan penggunaan opioid pada pasien nyeri kronis dapat menyebabkan ketergantungan dan peningkatan kasus kematian yang berhubungan dengan penggunaan opioid tersebut. Kematian yang disebabkan oleh overdosis peresepan obat opiod meningkat 4x lipat pada tahun 2015 bila dibandingkan dengan tahun 1999. Di Amerika Serikat terdapat lebih dari 15 ribu kasus kematian yang berhubungan dengan penggunaan opiod pada tahun 2015.[5]

Peningkatan insiden nyeri kronis biasanya ditemukan seiring dengan peningkatan usia. Semakin besar populasi orang lanjut usia,maka kemungkinan semakin banyak pula penderita nyeri kronis. Persentase usia 65 tahun keatas pada tahun 2012 adalah sekitar 13% dan diperkirakan persentase orang lanjut usia tersebut akan bertambah menjadi 20% pada tahun 2050.[5] Penggunaan obat-obatan anti nyeri atau opioid dalam jangka panjang tentunya dapat memberikan efek samping yang cukup banyak pada orang lanjut usia termasuk risiko kematian akibat overdosis. Overdosis bukan satu-satunya risiko dari peresepan opioid, penyalahgunaan resep opioid dapat menyebabkan kecanduan atau ketergantungan. Berdasarkan survey, 1 di antara 4 orang yang mendapatkan resep opioid untuk mengatasi nyeri kronis non kanker di fasilitas kesehatan primer mengalami kecanduan atau ketergantungan.[6]

Studi klinis akupuntur terhadap nyeri kronis

Vickers AJ et al membuat ulasan sistematik metaanalisis untuk mengetahui efektivitas akupuntur pada pasien yang mengalami nyeri kronis.[7] Studi tersebut mengumpulkan data publikasi dari 29 percobaan (trial) yang membandingkan kelompok pasien yang mengalami nyeri kronis yang mendapatkan terapi akupuntur dengan kelompok pasien nyeri kronis yang tidak mendapatkan terapi akupuntur. Selain itu, studi tersebut juga membandingkan pemberian akupuntur yang benar dan akupuntur sham (akupuntur plasebo dengan berbagai metodologi seperti penusukan jarum yang tidak dilakukan di tempat yang seharusnya, penggunaan jarum yang ditumpulkan sehingga tidak memberikan efek stimulasi saraf, penggunaan jarum khusus yang ketika ditusukkan akan tertarik masuk ke badan jarum) dengan pasien nyeri kronis yang tidak mendapatkan terapi akupuntur. Studi tersebut melibatkan pasien sebanyak 17.922 orang dengan beragam keluhan nyeri kronis seperti nyeri leher, nyeri punggung, osteoartritis di lutut, sakit kepala dan migrain.

Hasil studi tersebut menyebutkan kelompok pasien nyeri kronis yang mendapatkan terapi akupuntur merasakan nyeri yang jauh berkurang secara signifikan bila dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapatkan terapi akupuntur. Kelompok pasien yang mendapatkan terapi akupuntur yang benar juga merasakan nyeri yang jauh berkurang dibandingkan kelompok pasien yang mendapatkan terapi akupuntur yang kosong, walaupun perbedaannya jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan kelompok pasien yang tidak mendapatkan terapi akupuntur. Hal ini menunjukkan terapi akupuntur bukan hanya memberikan efek plasebo saja.[7] Hasil studi ini menunjukkan bahwa akupuntur dapat menjadi terapi tambahan untuk mengurangi nyeri pada pasien nyeri kronis.

Walau demikian, studi metanalisis tersebut perlu dikritisi dengan melihat aspek berikut:

  • Tidak ada standarisasi antara titik terapi akupuntur dan prinsip di balik pemilihan titik tersebut (ada yang menerapkan titik akupuntur tradisional dengan prinsip aliran energi/qi, ada yang menerapkan titik akupuntur modern dengan prinsip modulasi sistem saraf)
  • Tidak ada standarisasi antara metode akupuntur sham yang dilakukan
  • Masalah dengan kontrol penelitian yang mendapat terapi akupuntur sham tapi tetap menunjukkan efek penurunan nyeri yang signifikan

Pertimbangan sebelum melakukan terapi akupuntur

Untuk mendapatkan hasil terapi yang optimal sebaiknya terapi akupuntur juga dikombinasikan dengan terapi medis konvensional seperti penggunaan obat-obatan anti nyeri dan obat-obatan anti inflamasi dibawah pengawasan dokter. Akupuntur tidak dapat digunakan untuk semua pasien dan tidak memberikan efek yang sama pada setiap orang. Pasien yang menderita neuropati perifer umumnya tidak memberikan respon yang baik bila dilakukan terapi akupuntur. Selain itu, pasien yang menggunakan pacu jantung (pacemaker), pasien yang memiliki risiko infeksi yang tinggi, pasien dengan gangguan koagulasi darah, ibu hamil atau pasien yang memiliki penyakit kulit kronis seperti psoriasis, sebaiknya berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter sebelum melakukan terapi akupuntur.

Akupuntur umumnya dapat menimbulkan efek samping ringan seperti perdarahan minor, hematom dan nyeri saat penusukan atau pencabutan jarum. Efek samping terapi akupuntur yang berat jarang terjadi. Efek samping terapi akupuntur yang berat yang pernah dilaporkan adalah pneumothorax dan lesi pada sumsum tulang belakang (spinal cord) setelah menjalani akupuntur.[8] Oleh karena itu, untuk menghindari kejadian yang tidak diharapkan, sebaiknya terapi akupuntur dilakukan oleh dokter spesialis akupuntur. Higienitas dari klinik dan jarum akupuntur juga harus diperhatikan. Pastikan jarum akupuntur yang digunakan sudah disterilkan dengan baik atau menggunakan jarum sekali pakai sehingga tidak menimbulkan infeksi menular seperti hepatitis.

Masih diperlukan penelitian dengan metodologi yang terstandar dan memisahkan antara akupuntur medis dan tradisional untuk menentukan apakah akupuntur benar bermanfaat, tidak hanya untuk nyeri tapi juga untuk kondisi lain.

Referensi