Peran Obat Pelemas Otot dalam Terapi Nyeri Punggung Bawah Nonspesifik

Oleh dr.Della Puspita

Obat pelemas otot (muscle relaxant) dapat mengurangi gejala nyeri punggung bawah (low back pain) non-spesifik akut, namun dapat meningkatkan efek samping berupa sedasi, mual, sakit kepala serta rawan disalahgunakan.

Nyeri punggung bawah atau low back pain (LBP) adalah nyeri yang dirasakan di antara skapula dan lipatan gluteus inferior, dengan atau tanpa penjalaran ke lutut, dan tidak disebabkan karena etiologi spesifik seperti infeksi, keganasan, metastasis, osteoporosis, fraktur, kelainan saraf atau kondisi patologis lainnya.[1]

Depositphotos_26490681_m-2015_compressed

Pada pasien dengan nyeri akut, nyeri umumnya dapat berkurang tanpa intervensi, namun tidak jarang nyeri tersebut timbul kembali bahkan menetap hingga menyebabkan hambatan dalam aktivitas sehari-hari dan membuat pasien datang ke dokter.[2]

Obat pelemas otot merupakan salah satu pilihan terapi farmakologi yang cukup sering digunakan dalam tata laksana nyeri punggung bawah non-spesifik baik akut, subakut maupun kronis. Diperkirakan sekitar 35% pasien yang datang ke dokter layanan primer dengan keluhan nyeri punggung bawah diresepkan obat pelemas otot.[3] Walau demikian, penggunaan obat ini masih menjadi kontroversi terutama karena manfaatnya yang belum jelas dan cukup banyaknya efek samping yang ditimbulkan. Berbagai studi juga memberikan rekomendasi yang berbeda terkait penggunaan obat ini.

Jenis Obat Pelemas Otot (Muscle Relaxant)

Obat pelemas otot merupakan kelompok obat dengan berbagai indikasi dan mekanisme kerja yang berbeda namun memiliki efek akhir yang sama, yaitu melemaskan otot. Secara umum, obat pelemas otot dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu antispasmodik dan antispastisitas. Benzodiazepin sering dikategorikan sebagai obat pelemas otot. Walau demikian, benzodiazepin merupakan gamma-aminobutyric acid ( GABA) receptor agonist yang tidak dapat bekerja di otot karena tidak memiliki reseptor GABA tersebut. Kesalahpahaman ini terjadi karena benzodiazepin menyebabkan terjadinya relaksasi akibat efek ansiolitiknya sehingga seakan memiliki efek melemaskan otot.

Antispasmodik adalah obat yang berfungsi untuk menurunkan ketegangan otot, seperti antidepresan trisiklik, cyclobenzaprine, dan carisoprodol. Kategori lainnya yaitu obat antispastisitas berfungsi untuk mengurangi kekakuan seperti yang terjadi pada serebral palsi, multiple sklerosis dan jejas pada korda spinalis. Obat pelemas otot jenis antispasmodik seperti carisoprodol dan cyclobenzaprine adalah obat yang paling sering diresepkan untuk pasien dengan nyeri punggung bawah.[3]

Efektivitas Penggunaan Obat Pelemas Otot sebagai Terapi Nyeri Punggung Bawah

Sebuah studi meta terdiri atas 15 studi dilakukan untuk mengetahui efektifitas dan keamanan penggunaan obat pelemas otot untuk terapi nyeri punggung bawah. Dari 15 studi tersebut, terdapat 5 randomized control trial dengan kualitas baik (495 partisipan) yang membandingkan langsung efek obat pelemas otot dengan plasebo dalam mengurangi skala nyeri pada nyeri punggung bawah. Didapatkan bahwa penggunaan obat pelemas otot mengurangi nyeri punggung bawah akut secara signifikan dalam jangka pendek dengan beda rerata penurunan skor nyeri -21.3, (95% CI -29 hingga -13.5; p < 0.001). Sedangkan untuk nyeri punggung bawah kronis, penggunaan obat pelemas otot tidak terbukti mengurangi nyeri secara signifikan (beda rerata -4,0 [95% CI -8.6 hingga 0.6]; p = 0.09). Dalam meta analisis tersebut, 3 studi juga membandingkan kemampuan obat pelemas otot dalam mengurangi disabilitas pada pasien dengan nyeri punggung bawah. Didapatkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan klinis pengurangan disabilitas yang bermakna dalam jangka pendek setelah penggunaan obat pelemas otot.[1]

Studi meta analisis terkini yang terdiri atas 22 studi juga menunjukkan bahwa penggunaan obat pelemas otot lebih superior dibandingkan plasebo dalam mengurangi nyeri jangka pendek setelah penggunaan 2-4 hari (RR 1,25 [CI 1,12-1,41]; I2 = 0%) dan 5-7 hari (RR 1,72 [CI 1,32-2,22]; I2 = 0%).[4]

Kombinasi Obat Pelemas Otot dengan Analgesik Lainnya

Pemberian terapi farmakologis untuk nyeri punggung bawah sering menggunakan kombinasi obat antara NSAID, obat pelemas otot dan opiod. Diperkirakan 26% pasien mendapatkan kombinasi NSAID dan obat pelemas otot, selain itu 16% pasien medapatkan kombinasi NSAID, pelemas otot dan opiod bersamaan.[5]

Sebuah meta analisis membandingkan efektivitas penggunaan NSAID saja dengan NSAID ditambah obat pelemas otot efektivitas untuk terapi nyeri punggung bawah. Didapatkan hasil bahwa penambahan obat pelemas otot tidak memberikan efek anti-nyeri tambahan bila dibandingkan pemberian NSAID saja untuk terapi nyeri punggung bawah akut.[6]

Efek Samping Obat Pelemas Otot

Salah satu komponen yang menjadi pertimbangan penggunaan obat pelemas otot adalah risiko timbulnya efek samping. Studi yang dilakukan menunjukkan bila dibandingkan plasebo, obat pelemas otot meningkatkan risiko timbulnya efek samping (mual, mengantuk dan sakit kepala) dengan RR 1,50 (CI 1,14-1,98) dan efek samping sususan saraf pusat, terutama sedasi dengan RR 2.04 (CI 1,23-3,37; I2 = 50%). Obat pelemas otot juga dapat menimbulkan ketergantungan dan rawan untuk disalahgunakan. Hingga saat ini belum ada studi yang mengevaluasi hal kondisi tersebut.[4]

Kesimpulan

Penggunaan obat pelemas otot pada nyeri punggung bawah akut dapat mengurangi nyeri dalam jangka pendek. Efeknya dalam mengatasi nyeri punggung bawah kronik tidak terbukti secara signifikan. Penggunaan obat pelemas otot meningkatkan efek samping berupa sedasi, mual, sakit kepala serta rawan disalahgunakan. Oleh karena itu, pemberian obat ini harus dilakukan secara hati-hati dan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien secara spesifik. Bukti yang ada saat ini tidak mendukung pemberian obat pelemas otot dalam jangka panjang untuk pasien dengan nyeri punggung bawah.

Referensi