Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • SKP
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Diagnosis Tinea Pedis yogi 2022-04-13T14:30:09+07:00 2022-04-13T14:30:09+07:00
Tinea Pedis
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan
  • Panduan E-Prescription

Diagnosis Tinea Pedis

Oleh :
dr. Apri Haryono Hafid
Share To Social Media:

Diagnosis tinea pedis atau athlete’s foot dapat ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, dimana pasien umumnya mengeluhkan rasa gatal, kaki yang bersisik, dan fisura yang nyeri pada sela jari kaki.[19]

Diagnosis banding lain pada tinea pedis dapat disingkirkan melalui temuan hifa panjang dan/atau artrospora pada preparat kalium hidroksida (KOH) atau pada kultur kulit. Manifestasi klinis pada tinea pedis sendiri bervariasi karena bergantung pada tipenya.[4,6]

Anamnesis

Biasanya pasien akan menggambarkan gejala dari tinea pedis berupa rasa gatal, kaki yang bersisik, dan seringkali terdapat fisura yang nyeri di antara jari kaki. Beberapa pasien mendeskripsikan lesi ulseratif atau vesikular. Kebanyakan pasien usia tua mungkin menyebutkan kondisi kaki yang bersisik sebagai kulit kering.[19]

Berdasarkan manifestasi klinis yang ditemukan, tinea pedis diklasifikasi menjadi tipe interdigital, hiperkeratotik kronik, vesikobulosa, dan ulseratif akut. Pasien tinea pedis interdigital biasanya mengeluhkan rasa gatal, terbakar dan bau pada jari-jari kaki ke-4 dan ke-5.[4,6,20]

Biasanya tipe hiperkeratotik kronik bersifat asimtomatik namun dapat juga mengeluhkan kemerahan, sisik, gatal, dan nyeri pada saat berjalan. Pasien dengan tinea pedis vesikobulosa atau inflamatorik dapat mengeluhkan gatal dan nyeri hebat saat menapakkan kaki. Sedangkan pada tinea pedis ulseratif, terdapat ulkus, rasa gatal, dan nyeri bergantung pada keparahan lesi.[20]

Pemeriksaan Fisik

Temuan yang didapatkan pada tinea pedis bervariasi sesuai dengan klasifikasinya.[4,6,20]

Tinea Pedis Interdigital

Tinea pedis interdigital merupakan manifestasi klinis yang paling sering ditemukan, dengan gambaran eritema, skuama, maserasi dan fisura pada sela jari kaki, terutama pada tiga jari lateral. Lesi kulit dapat berekstensi ke area plantar pedis.[4,7,20]

Tinea Pedis Hiperkeratotik Kronik

Gambaran lesi kulit pada tipe hiperkeratotik kronik atau dikenal juga sebagai tipe moccasin adalah eritema plantar kronik dengan skuama difus/lokalisata pada kedua kaki. Lesi ditemukan pada plantar pedis, dapat berekstensi ke sisi lateral, namun biasanya tidak ditemukan pada dorsal pedis. Tipe ini juga dapat tinea manus atau tinea unguium karena sering menggaruk kaki.[5,8,20]

Tinea Pedis Vesikobulosa

Tipe vesikobulosa atau inflamatorik memiliki lesi kulit berupa vesikel tegang, bula, dan pustul dengan ukuran sekitar 3 mm. Letak predileksi terdapat pada anteromedial plantar pedis. Tipe ini terkadang sulit dibedakan secara klinis dengan dermatitis pompholyx.[5,8]

Tinea Pedis Ulseratif Akut

Lesi vesikopustular disertai ulserasi dan erosi adalah gambaran klinis tinea pedis ulseratif akut. Lesi biasanya cepat menyebar, mulai dari sela jari kaki ke-3 dan ke-4 yang kemudian dapat menyebar pada lateral dorsum pedis. Pada beberapa kasus dapat menyebar ke seluruh permukaan dorsum pedis. Pada tipe ini juga dapat disertai infeksi sekunder bakteri gram negatif.[5,8]

Diagnosis Banding

Diagnosis banding tinea pedis bervariasi berdasarkan tipenya dan umumnya adalah penyakit-penyakit kulit yang disertai dengan keluhan gatal. Ketika pasien menggaruk lesi, dapat terjadi infeksi sekunder yang berpotensi mengelabui efloresensi primer sehingga menyulitkan penentuan diagnosis. Selain itu, pengambilan sampel kulit untuk kerokan yang tidak tepat juga menjadi masalah lainnya.

Eritrasma

Gambaran lesi kulit eritrasma adalah lesi makula eritema berbatas tegas. Eritrasma dan tinea pedis interdigital mempunyai lokasi predileksi yang sama, yaitu pada sela jari kaki. Eritrasma didiagnosis menggunakan lampu Wood dan didapatkan fluoresensi coral red.[21]

Infeksi Candida Interdigital

Diagnosis banding tinea pedis interdigital adalah infeksi candida interdigital yang sama-sama melibatkan sela-sela jari. Hasil kerokan kulit dengan KOH 20% mendapatkan pseudohifa.[4]

Dermatitis Kontak Kronis

Lesi kulit tinea pedis hiperkeratotik kronis dan dermatitis kontak iritan maupun alergi kronis terkadang memiliki kesamaan yaitu eritema dan skuama. Namun, pada dermatitis kontak kronis, biasanya ada riwayat paparan, dan distribusi lesi sesuai dengan bentuk paparan, misalnya alas kaki. Penyebab dapat diidentifikasi melalui tes tempel/provokasi dan bila paparan dihentikan gejala dapat mereda.[7,12]

Psoriasis

Pada kasus psoriasis dan tinea pedis, lesi hiperkeratotik atau pustular dapat ditemukan. Namun psoriasis biasanya melibatkan bagian tubuh lainnya dan terdapat riwayat yang sama pada keluarga. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan tanda Auspitz positif dan fenomena Koebner. Pada pemeriksaan histopatologis ditemukan akantosis dengan parakeratosis, mikroabses.[4,7,12]

Pompoliks (Dermatitis Dishidrotik)

Lesi kulit antara tinea pedis vesikobulosa dan pompoliks (dermatitis dishidrotik) mirip yaitu adanya vesikel atau bula. Namun, pada dermatitis dishidrotik, bentuk vesikel khas menyerupai “tapioca pudding” pada sisi lateral digiti dan lebih sering terjadi pada tangan.[7,12]

Skabies

Gambaran lesi kulit skabies dapat berupa kanalikuli disertai ekskoriasi, papul, dan vesikel, Bila terdapat infeksi sekunder makan dapat terlihat pustul. Diagnosis skabies ditegakkan dengan temuan tungau pada dermoskopi atau kerokan kulit.[22]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis tinea pedis dapat dilakukan dengan pemeriksaan preparat KOH. Pemeriksaan kultur merupakan pemeriksaan baku emas namun hanya digunakan bila terjadi kegagalan terapi.[1,4,6,13]

Pemeriksaan Preparat KOH

Pemeriksaan preparat dengan KOH 20% merupakan pemeriksaan yang dapat mendiagnosa tinea pedis. Temuan yang mengarah pada diagnosis adalah adanya hifa panjang dan/atau artrospora. Sampel yang dipakai merupakan kerokan kulit bagian tepi lesi.[4]

Pemeriksaan Kultur

Pemeriksaan kultur merupakan pemeriksaan baku emas yang dapat menentukan spesies jamur secara spesifik dan menilai resistensi jamur terhadap pengobatan apabila tidak ada perbaikan klinis setelah pemberian terapi. Pemeriksaan kultur dilakukan dengan menggunakan agar Saboraud plus pada suhu 28 C selama 1-4 minggu.[4]

Pemeriksaan Biopsi

Biopsi kulit biasanya tidak dilakukan, namun temuan biopsi pada tinea pedis adalah akantosis, hiperkeratosis, infiltrat perivaskular pada dermis. Pada tipe vesikobulosa dapat ditemukan spongiosis dan paraketosis. Pewarnaan dengan PAS atau silver methenamine menunjukkan filamen jamur.[1]

 

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Athieqah Asy Syahidah

Referensi

1. Nigam PK, Saleh D. Tinea Pedis. In: StatPearls . Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470421/.
4. Perhimpunan dokter spesialis kulit dan kelamin indonesia. Panduan praktik klinis bagi dokter spesialis kulit dan kelamin di Indonesia. Jakarta: Perdoski; 2017.
5. Martinez-Rossi NM, Peres NTA, Bitencourt TA, Martins MP, Rossi A. State-of-the-Art Dermatophyte Infections: Epidemiology Aspects, Pathophysiology, and Resistance Mechanisms. J Fungi (Basel). 2021;7(8):629.
6. Nowicka D, Nawrot U. Tinea pedis-An embarrassing problem for health and beauty-A narrative review. Mycoses. 2021 Oct;64(10):1140-1150.
7. Kovitwanichkanont T, Chong AH. Superficial fungal infections. Aust J Gen Pract. 2019 Oct;48(10):706-11.
8. Toukabri N, Dhieb C, El Euch D, Rouissi M, Mokni M, Sadfi-Zouaoui N. Prevalence, Etiology, and Risk Factors of Tinea Pedis and Tinea Unguium in Tunisia. Can J Infect Dis Med Microbiol. 2017;2017:6835725.
11. Rahadiyanti DD, Ervianti E. Studi retrospektif: karakteristik dermatofitosis. BIKKK 2018; 30: 66-72.
12. Uptodate. Dermatophyte (tinea) infections. https://www.uptodate.com/contents/dermatophyte-tinea-infections.
13. Cantelli M, Capasso G, Costanzo L, Fabbrocini G, Gallo L. Tinea pedis in a child: How reflectance confocal microscopy can help in diagnosis of dermatophytosis. Pediatr Dermatol. 2021 Mar;38(2):522-523.
19. Robbins C. (2020). Tinea pedis. https://emedicine.medscape.com/article/1091684-overview#a4
20. Matsaung B, Schellack G, Schellack N. Managing athlete’s foot. S Afr Fam Pract. 2018; 60(5):37-41.
21. Groves JB, Nassereddin A, Freeman AM. Erythrasma. In: StatPearls . Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513352/
22. Gilson RL, Crane JS. Scabies. In: StatPearls . Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544306/

Epidemiologi Tinea Pedis
Penatalaksanaan Tinea Pedis
Diskusi Terkait
Anonymous
15 September 2022
Adakah batas minimal usia untuk menggunakan antibiotik bubuk
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dok.Izin bertanya mengenai pemakaian bubuk PK.Adakah usia tertentu yang tidak boleh menggunakan PK ?Bagaimana cara yang tepat menggunakan PK ( seperti...
Anonymous
31 Maret 2022
Otomikosis kapan dirujuk? - THT Ask the Expert
Oleh: Anonymous
5 Balasan
Alo dr. Suyanti, Sp. T.H.T.K.L,Ijin bertanya dok. Pada pasien dengan otomikosis yang sudah menerima tetes telinga clotrimazole selama 2 minggu, tetapi belum...
dr.Monica Selviany Wulang
30 Maret 2022
Pasien anak perempuan usia 11 tahun dengan Tinea Pedis yang berulang
Oleh: dr.Monica Selviany Wulang
2 Balasan
Alo Dokter! Ijin berdiskusi dok. Saya memiliki pasien anak perempuan 11 thn, 22kg keluhan luka pada kedua telapak kaki seperti pada gambar. Awalnya gatal...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya, Gratis!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2021 Alomedika.com All Rights Reserved.