Pedoman penanganan migraine akut di Unit Gawat Darurat dipublikasikan oleh American Headache Society pada tahun 2025. Pedoman ini berfokus utamanya pada pilihan farmakoterapi parenteral untuk pasien dewasa, yang mana prochlorperazine 10–12,5 mg intravena (IV) dianjurkan sebagai terapi lini pertama.
Lebih lanjut, pedoman ini juga merekomendasikan alternatif berupa metoclopramide jika prochlorperazine tidak tersedia atau tidak dapat diberikan. Pilihan lain adalah chlorpromazine, droperidol, dan haloperidol.[1]
Tabel 1. Tentang Pedoman Klinis Ini
| Penyakit | Migraine akut |
| Tipe | Penatalaksanaan |
| Yang Merumuskan | American Headache Society (AHS) |
| Tahun | 2025 |
| Negara Asal | Amerika Serikat |
| Dokter Sasaran | Spesialis Neurologi, Dokter Umum, dan Dokter Jaga IGD |
Penentuan Tingkat Bukti
Tingkat bukti ditentukan berdasarkan tinjauan sistematik dan meta analisis. Setiap studi yang memenuhi kriteria inklusi dari tinjauan sistematik dinilai secara independen untuk risiko bias berdasarkan kriteria American Academy of Neurology (AAN) untuk intervensi terapeutik, yang mempertimbangkan aspek metodologis seperti metode randomisasi, blinding, concealment alokasi, kelengkapan data luaran, serta penerapan analisis intention-to-treat.
Berdasarkan penilaian tersebut, studi diklasifikasikan ke dalam kelas I hingga IV, yang mana kelas I merepresentasikan kualitas metodologis tertinggi dengan risiko bias paling rendah, sedangkan kelas IV dianggap tidak memadai secara metodologis dan tidak digunakan dalam penyusunan rekomendasi.
Tingkat kekuatan rekomendasi kemudian ditetapkan dengan mengintegrasikan kelas dan kualitas bukti, konsistensi serta besar manfaat klinis, dan potensi risiko atau efek samping, sehingga menghasilkan kategori rekomendasi Level A (harus/tidak diberikan), Level B (sebaiknya diberikan/sebaiknya tidak diberikan), Level C (boleh/dapat tidak diberikan), dan Level U (bukti tidak cukup untuk memberikan rekomendasi).[1]
Rekomendasi Utama untuk Diterapkan dalam Praktik Klinis Anda
Pedoman penanganan migraine akut oleh American Headache Society ini memberikan rekomendasi mengenai pilihan farmakoterapi parenteral. Pedoman ini berfokus pada pilihan terapi intravena karena pasien di Unit Gawat Darurat sering memerlukan awitan kerja obat yang cepat, atau pasien memiliki gejala seperti mual-muntah yang membuat pemberian per oral menjadi kurang efektif.[1]
Rekomendasi Terapi Utama
Terapi lini pertama yang dianjurkan dalam pedoman klinis ini adalah:
- Prochlorperazine: diberikan dalam dosis 10–12,5 mg IV; perlu ditawarkan pada pasien dewasa yang mengalami serangan migraine di Unit Gawat Darurat dan memerlukan terapi parenteral.
Jika prochlorperazine tidak tersedia atau tidak dapat diberikan pada pasien, maka pilihan terapi adalah:
Metoclopramide 10 mg IV.
- Dexketoprofen 50 mg IV
Ketorolac 30-60 mg IV.[1]
Rekomendasi Terapi Alternatif
Jika prochlorperazine atau metoclopramide tidak tersedia atau tidak dapat diberikan, alternatif terapi adalah:
Chlorpromazine 12-25 mg IV
-
Droperidol 2,75-8,25 mg intramuskular (IM)
Haloperidol 5 mg IV
Saat meresepkan obat golongan antagonis reseptor dopamin (seperti obat-obat yang disebutkan di atas) risiko gejala ekstrapiramidal harus dipertimbangkan.[1]
Penggunaan Obat Antiinflamasi Nonsteroid:
Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) merupakan alternatif terapi migraine akut yang telah dilaporkan sama efektif dengan metoclopramide. Beberapa pilihan OAINS untuk terapi migraine akut adalah:
Aspirin 0,5–1,8 g IV
Diklofenak 75 mg IM.[1]
Rekomendasi Terkait Penggunaan Kortikosteroid
Dalam studi ini, dexamethasone adalah satu-satunya kortikosteroid yang dianalisis. Menurut hasil tinjauan, penggunaan dexamethasone 8-16 mg IV dapat diberikan pada kasus migraine akut pada pasien dengan paparan steroid risiko rendah. Tujuan pemberian dexamethasone adalah untuk mencegah serangan berulang.[1]
Rekomendasi pada Kasus Ringan
Sumatriptan 3-6 mg subkutan (SC) dapat diberikan pada pasien migraine akut yang datang ke Unit Gawat Darurat, tanpa kontraindikasi triptan, dan terutama akan efektif pada kasus dengan gejala ringan.[1]
Terapi Yang Tidak Direkomendasikan
Terapi menggunakan opioid, seperti morfin dan hidromorfon, tidak boleh diberikan pada pasien migraine akut yang datang ke Unit Gawat Darurat. Hal ini karena telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa efikasi opioid inferior terhadap prochlorperazine. Terapi lain yang juga tidak direkomendasikan adalah ketamine, propofol, diphenhydramine, dan paracetamol.[1]
Rekomendasi Terkait Tindakan Medis
Tindakan medis yang dianjurkan untuk mengatasi migraine akut menurut pedoman ini adalah greater occipital nerve block (GONB) 0,5-3 mL menggunakan bupivacaine 0,5% atau lidocaine 1%. Alternatifnya adalah supraorbital nerve blocks (SONB) 0,25 mL dengan lidocaine 1% apabila GONB tidak memungkinkan.[1]
Perbandingan dengan Pedoman Klinis di Indonesia
Pedoman penanganan untuk migraine merujuk pada Panduan Praktik Klinis Neurologi yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI) pada tahun 2023. Meski demikian, pedoman ini tidak bersifat spesifik terhadap kasus serangan akut.
Dalam pedoman PERDOSNI, masih disarankan penggunaan ibuprofen dan paracetamol, tetapi pedoman oleh AHS sudah tidak menganjurkan penggunaan kedua obat tersebut lagi. Lebih lanjut, terapi abortif menurut PERDOSNI masih menganjurkan rute oral, sedangkan pedoman AHS ini lebih membahas mengenai terapi abortif parenteral.
Perlu dicatat pula bahwa meskipun AHS menganjurkan prochlorperazine sebagai terapi pilihan untuk migraine akut, PERDOSNI tidak menyebutkan mengenai prochlorperazine sama sekali. Obat prochlorperazine juga masih jarang tersedia di fasilitas kesehatan di Indonesia.[1,2]
Kesimpulan
American Headache Society mempublikasikan pedoman penanganan migraine akut di tahun 2025 yang berfokus pada pilihan terapi parenteral. Berikut adalah rekomendasi yang penting diperhatikan:
- Pilihan terapi utama adalah prochlorperazine 10–12,5 mg IV. Jika prochlorperazine tidak tersedia atau tidak dapat diberikan, maka alternatifnya adalah metoclopramide, dexketoprofen, atau ketorolac.
- Terapi lini kedua adalah chlorpromazine, droperidol, haloperidol, aspirin, dan diklofenak.
- Dexamethasone bisa digunakan untuk mencegah rekurensi.
- Sumatriptan bisa dipilih jika pasien tidak memiliki kontraindikasi penggunaan triptan, utamanya pada kasus dengan gejala ringan.
- Opioid, seperti morfin dan hidromorfon, tidak dianjurkan diberikan untuk kasus migraine akut.
