Kontroversi Kopi secara Medis - Bermanfaat atau Berbahaya bagi Kesehatan

Oleh :
dr. Nathania S. Sutisna

Kopi merupakan minuman non-alkohol yang tidak hanya populer dikonsumsi masyarakat luas namun juga menuai kontroversi apakah minuman ini bermanfaat atau justru berdampak buruk bagi kesehatan. Perdagangan kopi di seluruh dunia sendiri merupakan komoditas perdagangan terbesar kedua setelah minyak[1]. Komponen aktif yang terbanyak terdapat di kopi adalah kafein, asam klorogenik, kafesol dan kahweol.potensi-manfaat-kopi-terkandung-di-tiap-kenikmatan-seruputnya-alodokter

Kafein merupakan derivat metil-xantin yang dikenal dengan alkaloid yang digunakan sebagai stimulan dan bronkodilator. Kandungan kafein pada kopi tergantung dari cara prosesnya (rebus, saring atau espreso). Di Amerika, kadar standar kafein pada kopi sangrai (roasted coffee) sekitar 85 mg, kopi instan berkisar 60 mg, kopi dekafein berkisar 3 mg, dan satu porsi espreso sekitar 200 – 300 mg[2-4]. Kafein dalam darah berperan sebagai antagonis dari reseptor adenosin yang terdapat di berbagai jaringan seperti sistem saraf pusat, endotelium, jantung, hati, jaringan lemak dan otot. Kafein diketahui berpengaruh pada sistem kardiovaskular dan sistem saraf pusat, modifikasi metabolisme karbohidrat, mempengaruhi proses inflamasi, meningkatkan laju metabolik dan diuresis[2].

Komponen kedua adalah asam klorogenik salah satu bentuk dari polifenol, terdapat pada tanaman coklat dan kopi yang memiliki potensi anti-oksidan. Dalam satu takaran saji, kopi mengandung 20 – 675 mg asam klorogenik yang bergantung pada cara dan jumlah yang digunakan saat proses. Komponen berikutnya adalah kafesol dan kahweol merupakan komponen pada kopi yang tersaring di saringan kertas[2].

Batasan Studi terkait Kopi

Seperti dijelaskan di awal, kandungan komponen aktif pada kopi bervariasi, tergantung dari cara dan jumlah yang digunakan saat proses. Walau demikian, studi mengenai kopi umumnya tidak mencantumkan cara proses dari kopi yang diminum, hanya jumlah kopi yang dikonsumsi (gelas per hari). Hal ini tentunya menyebabkan bias sehingga muncul kesulitan untuk membandingkan penelitian yang satu dengan yang lain.

Efek pada Sistem Kardiovaskular

Efek pada sistem kardiovaskular masih dalam perdebatan. Salah satu komponen yang berperan adalah kafein. Kafein memiliki efek-efek berikut yang berhubungan dengan sistem kardiovaskular[5]:

  • Endotelium (efek langsung)

    • Aktivasi kanal ryanodin di retikulum endoplasma

  • Sel otot polos di pembuluh darah (efek langsung)

    • Menghambat reseptor IP3
    • Menghambat MLC kinase
    • Meningkatkan Ca2+ non-kontraktil
    • Menghambat kanal kalsium voltage-dependent

    • Menutup reseptor adenosin

  • Sel otot polos di pembuluh darah (efek tidak langsung)

    • Meningkatkan produksi nitric oxide

    • Meningkatkan produksi renin
    • Menstimulasi sistem simpatetik

Dalam sebuah studi meta analisis yang melibatkan 35 studi kohort dan lebih dari 1 juta sampel, ditemukan bahwa terdapat asosiasi non-linear antara konsumsi kopi dengan kejadian kardiovaskular[6]. Ditemukan pada studi meta analisis yang lain, bahwa konsumsi kopi sedang (1 – 4 gelas per hari) secara signifikan menurunkan risiko penyakit jantung koroner (RR 0.82, CI 95% 0.73 – 0.92, p < 0.001 pada wanita dan RR 0.87, CI 95% 0.80 – 0.86, p = 0.001). Sedangkan pada konsumsi yang lebih banyak (lebih dari 4 – 5 gelas per hari) ditemukan risiko penyakit jantung koroner yang tidak berbeda bermakna dengan konsumsi kopi ringan (kurang dari 1 – 2 gelas per hari), nilai p > 0.05. Terdapat rentang yang tumpang tindih karena terdapat perbedaan definisi konsumsi kopi “ringan”, “sedang” dan “berat” pada studi yang diikutsertakan[7]. Tetapi terdapat beberapa penelitian yang lain justru ditemukan bahwa konsumsi kopi berpengaruh terhadap kenaikan risiko infark miokard[8]. Jadi, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk menyimpulkan efek kopi pada penyakit jantung.

Satu gelas kopi dapat meningkatkan tekanan sistolik sebanyak 2.04 mmHg (CI 95%, 1.10 – 2.99) dan diastolik 0.73 mmHg (CI 95%, 0.14 – 1.31)[9]. Konsumsi kopi sebanyak 1 – 3 gelas per hari meningkatkan risiko hipertensi tetapi konsumsi lebih dari 3 gelas per hari tidak meningkatkan risiko. Hal ini kemungkinan karena kosumsi yang lebih tinggi meningkatkan toleransi terhadap efek hemodinamik akut akibat kafein[10].

Sebuah meta-analisis yang melibatkan 5 studi prospektif menunjukkan bahwa terdapat hubungan J-shaped antara kopi dan gagal jantung, dimana penurunan risiko gagal jantung tertinggi ada pada konsumsi 4 gelas per hari (penurunan 11%) dan konsumsi di bawah 4 gelas per hari dan di atas 10 gelas per hari kembali ke garis dasar. Dalam analisisnya, tidak ditemukan adanya hubungan dengan jenis kelamin atau riwayat jantung atau diabetes[11].

Kafein tidak berhubungan dengan peningkatan risiko atrial fibrilasi (OR 0.92, CI 95%, 0.82 – 1.04). Kafein dosis rendah (tidak disebutkan dosisnya) mungkin dapat memiliki efek protektif karena odd ratio turun 13% (OR 0.85, CI 95%, 0.78 – 0.92)[12]. Tidak ditemukan hubungan antara konsumsi kafein jangka panjang dengan Premature Atrial Contraction (PAC) atau Premature Ventricular Contraction (PVC)[13].

Efek pada Sistem Serebrovaskular

Konsumsi kopi jangka panjang tidak berkaitan dengan peningkatan risiko stroke pada wanita. Konsumsi kopi dekafein rutin berhubungan dengan penurunan risiko dari stroke (RR 0.89; 95% CI, 0.73 – 1.08). Konsumsi hingga 4 gelas per hari menurunkan risiko stroke sebanyak 17% (RR 0.83, CI 95%, 0.77 – 0.97) dibandingkan dengan tidak konsumsi kopi. RR ini tidak jauh berbeda antara stroke hemoragik dan iskemik. Asam klorogenik diketahui memiliki efek penurunan tekanan darah dan kemungkinan penurunan peroksidasi lipid[14-16].

Diabetes Mellitus

Dalam sebuah meta-analisis yang melibatkan 6 studi ditemukan bahwa konsumsi 3 – 4 gelas kopi dekafein per hari dapat menurunkan risiko terjadi diabetes mellitus hingga 46% (RR 0.64, CI 95%, 0.54 – 0.77). Ditemukan lebih jauh lagi bahwa konsumsi kopi baik kopi biasa maupun dekafein sebaiknya dikonsumsi pada saat setelah makan siang karena kemungkinan berpengaruh terhadap metabolisme glukosa[17].

Kanker

Konsumsi kopi tidak berhubungan dengan risiko kanker secara garis besar. Dalam beberapa studi ditemukan bahwa kopi menurunkan risiko pada beberapa kanker[18-21]:

  • Kanker hati sebanyak 15% pada konsumsi kopi 1 gelas per hari (RR 0.85, CI 95%, 0.81 – 0.96)
  • Kanker endometrium sebanyak 8% (RR 0.92, CI 95% 0.88 – 0.96) pada konsumsi kopi 1 gelas per hari
  • Kemungkinan penurunan risiko pada kanker orofaring
  • Kanker payudara sebanyak 8% pada konsumsi kopi lebih atau sama dengan 4 gelas per hari terutama pada wanita pasca menopause
  • Kanker prostat pada konsumsi kopi lebih dari atau sama dengan 6 gelas per hari, kemunginan karena efek dari komponen selain kafein
  • Karsinoma sel basal pada konsumsi lebih dari 3 gelas per hari
  • Kemungkinan penurunan risiko pada melanoma maligna
  • Kanker kolorektal pada konsumsi lebih dari 2.5 gelas per hari (OR 0.46, CI 95% 0.39 – 0.54, p<0.001)

Efek pada Sistem Saraf Pusat dan Kesehatan Jiwa

  • Selain berefek secara cepat meningkatkan konsentrasi, efek jangka panjang konsumsi kopi 3 – 5 gelas per hari dapat menurunkan risiko dari perburukan pada mild cognitive impairment[22].
  • Kemungkinan kopi dapat menurunkan risiko dari dementia/penyakit Alzheimer dan Parkinson[23].
  • Kopi ditemukan dapat menurunkan risiko dari depresi. Pada konsumsi lebih dari 4 gelas per hari, risiko depresi turun sebanyak 20% (RR 0.8, CI 95% 0.64 – 0.99)[24].

Efek terhadap Hepatitis

  • Jumlah kafein yang dikonsumsi ditemukan berhubungan terhadap keparahan penyakit hati non-alkoholik (p < 0.05)[25]

  • Kafein juga ditemukan menurunkan risiko sirosis dalam beberapa studi case-control[8]

  • Pada orang-orang dengan predesposisi genetik pada hepatitis alkoholik, mereka yang tidak mengkonsumsi kopi secara rutin berisiko lebih tinggi terjadi hepatitis[26].

Efek terhadap Mata

  • Kopi yang mengandung setidaknya 182 mg kafein secara statistik dapat meningkatkan tekanan intraokular dan perfusi okluar, namun hal ini tidak bermakna secara klinis[27].

Efek terhadap Penyerapan Mineral

  • Konsumsi kopi sebanyak 150 – 250 mL dapat menurunkan penyerapan zat besi sebanyak 24 – 73% dan bersifat reversibel dengan penghentian konsumsi kopi.
  • Bioavailability dari zink secara in vitro dihambat oleh kopi sebanyak 21 – 32%, hal ini diduga karena adanya senyawa kelasi zink yang terdapat di kopi[8].

Kesimpulan

Konsumsi kopi dalam jangka panjang ditemukan banyak memiliki efek untuk kesehatan dan berpengaruh pada sistem kardiovaskular, serebrovaskular, diabetes mellitus, kanker, kesehatan jiwa dan neurodegenerasi, hepatitis, mata dan penyerapan mineral. Akan tetapi, tetap perlu diingat bahwa efek ini timbul bergantung pada jenis, cara proses dan zat tambahan yang digunakan seperti gula atau susu pada kopi yang dikonsumsi. Kebanyakan dari studi yang ditulis adalah bersifat asosiasi dan bukan sebab-akibat, sehingga untuk penyakit-penyakit yang telah disebutkan di atas juga perlu dilakukan kontrol terhadap faktor risiko yang lain. Selain itu, bias dalam penelitian akibat tidak terstandarnya jenis dan cara proses kopi yang digunakan juga meningkatkan bias terhadap penelitian mengenai kopi.

Referensi