Manfaat Terapi Oksigen Hiperbarik untuk Ulkus pada Kaki

Oleh :
dr.Wendy Damar

Terapi oksigen hiperbarik saat ini dikembangkan sebagai terapi untuk banyak kondisi, salah satunya untuk ulkus pada kaki. Berikut adalah informasi medis terkini mengenai manfaat terapi oksigen hiperbarik untuk ulkus pada kaki.

Ulkus merupakan luka kronis yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh dan seringkali mengalami rekurensi. Ulkus biasanya dihubungkan dengan kondisi diabetes atau gangguan dari sirkulasi pembuluh darah arteri atau vena yang menyebabkan jaringan kekurangan suplai oksigen. Hilangnya sensasi rasa atau terjadinya kerusakan pada sistem saraf otonom membuat kulit akan kering, dan mengalami penebalan permukaan kulit hingga akhirnya pecah-pecah dan menyebabkan munculnya ulkus. Kondisi ini sering ditemukan pada kaki penderita yang memiliki aliran pembuluh darah paling jauh, dan yang paling sering mendapatkan tekanan atau gesekan dari luar. Apabila tidak diterapi dengan baik, maka dampak yang disebabkan oleh ulkus akan semakin berat  seperti gangren, infeksi berat, hingga osteomielitis.

Hyperbaric Chamber. Sumber: Mckeeman, Wikimedia commons, 2008. Hyperbaric Chamber. Sumber: Mckeeman, Wikimedia commons, 2008.

Terapi oksigen hiperbarik merupakan terapi yang dirancang untuk meningkatkan suplai oksigen ke jaringan luka yang sudah tidak merespon terapi lain yang diberikan. Terapi oksigen hiperbarik memiliki 2 mekanisme utama, yaitu hiperoksigenasi dan penurunan ukuran gelembung. Terapi oksigen hiperbarik dilakukan dengan menempatkan pasien dalam kamar bertekanan tinggi, untuk kemudian bernapas menggunakan aliran oksigen murni. Oksigen yang diberikan adalah oksigen 100% dengan tekanan atmosfer 2 sampai 3 kali lebih besar dari normal. Kondisi ini sama dengan keadaan saat menyelam pada kedalaman 50 kaki di bawah permukaan laut. Pada kondisi ini, diharapkan konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam darah akan meningkat dari 0,32% menjadi 6,8%, sehingga oksigenasi ke jaringan yang mengalami perlukaan akan semakin baik (meningkat 2-3 kali dari nilai normal). Dengan terapi ini, diharapkan penyembuhan luka kronis dapat terjadi karena oksigen yang dibutuhkan untuk proses perbaikan jaringan meningkat.[1-3]

Fungsi Terapi Oksigen Hiperbarik pada Ulkus

Terapi oksigen hiperbarik dinilai sebagai salah satu pilihan terapi yang cukup baik dalam mengatasi ulkus pada pasien, misalnya ulkus diabetes pada kaki, selain untuk terapi pada keracunan karbon monoksida (CO) atau sianida (CN), gangguan dekompresi (terutama pada penyelam), embolisme, sindrom kompartemen, hingga luka bakar. Terapi ini memberikan efek antimikroba dan meningkatkan oksigenasi ke jaringan luka yang mengalami hipoksia. Pemberian terapi akan meningkatkan kemampuan neutrofil dalam membunuh bakteri, menstimulasi terjadinya angiogenesis, meningkatkan aktivitas fibroblas serta sintesis kolagen pada ulkus, meningkatkan perfusi oksigen, mengurangi edema dan menurunkan sitokin penyebab inflamasi.[2,4]

Terapi oksigen hiperbarik akan meningkatkan gradien konsentrasi oksigen di jaringan perifer yang akan memicu terjadinya angiogenesis dengan meningkatkan Growth factor, terutama Vascular endothelial growth factor (VEGF). Siklus Krebs kemudian akan meningkatkan kerjanya sehingga terjadi peningkatan sintesis nikotinamid adenin dinukleotida hidrogen (NADH) yang akan memicu peningkatan fibroblas. Fibroblas bersama dengan VEGF akan meningkatkan sintesis kolagen untuk penyembuhan luka dan neovaskularisasi jaringan. Oksigen juga berperan dalam proses hidroksilasi lisin dan prolin selama proses sintesis dan pematangan dari kolagen. Hal lainnya, terapi oksigen hiperbarik akan meningkatkan hadirnya reactive oxygen species (ROS) yang mengatur aktivitas antioksidan pada jaringan. ROS berperan sebagai senyawa messenger yang meregulasi penyembuhan luka, proliferasi dan migrasi sel, angiogenesis serta sintesis matriks ekstraseluler. Edema pada luka ulkus akan menyebabkan terjadinya hipoksia, dan terapi ini akan mengondisikan jaringan menjadi hiperoksia yang memicu vasokonstriksi pembuluh darah yang menyebabkan pengurangan edema. Kadar oksigen yang tinggi juga secara efektif membunuh bakteri anaerob melalui proses oksidasi protein dan lipid membran, merusak DNA, dan menghambat fungsi metabolik dari bakteri. Tekanan parsial oksigen jaringan yang meningkat lebih dari 30 mmHg akan meningkatkan kerja makrofag, sehingga makrofag akan lebih aktif dalam melawan bakteri. Kondisi tekanan oksigen tinggi juga akan meningkatkan kerja antibiotik seperti florokuinolon, amfoterisin B, dan aminoglikosida yang menggunakan oksigen sebagai transpor dalam melewati membran sel. Hal-hal tersebut kemudian akan memicu terjadinya proses penyembuhan pada ulkus. [2,4]

Penelitian yang dilakukan secara random pada beberapa kondisi ulkus menunjukan terapi oksigen hiperbarik dapat menjadi salah satu alternatif terapi dalam penyembuhan ulkus. Pada pasien dengan ulkus diabetes di kaki, terapi ini meningkatkan kemampuan penyembuhan luka dalam waktu yang cukup singkat (hasil tampak pada minggu ke-6 terapi) namun hasil lebih lanjut tidak tampak untuk terapi jangka panjang. Penelitian pada pasien dengan ulkus diabetes pada kaki dan mendapatkan terapi oksigen  hiperbarik, sebesar 61% mengalami penyembuhan dibandingkan dengan plasebo (27%).[4] Penelitian lainnya memberikan hasil 52% pasien dengan ulkus kaki kronik (lebih dari 3 bulan) pada diabetes mengalami penyembuhan setelah 1 tahun pemberian terapi, dibandingkan dengan 29 % pada plasebo. Proses penyembuhan dimulai sejak 2 bulan pemberian terapi dan meningkat hingga 1 tahun pemberian terapi. Terapi tradisional akan memberikan hasil yang lebih baik jika dikombinasikan dengan terapi oksigen hiperbarik dalam penyembuhan ulkus. Namun demikian, pada Mei 2015, International Working Group on the Diabetic Foot (IWGDF) hanya memberikan rekomendasi “weak/moderate” untuk penggunaan terapi ini pada kasus ulkus kaki diabetes, meskipun sudah cukup banyak penelitian yang mengatakan bahwa terapi oksigen hiperbarik cukup baik bagi terapi ulkus. [5]

Terapi oksigen hiperbarik telah menurunkan angka kebutuhan operasi (debridement, skin flap atau graft) hingga kejadian amputasi pada pasien diabetes dengan ulkus diabetes kronis. Pada ulkus yang disebabkan oleh gangguan aliran darah vena, terapi ini berhasil memperkecil ukuran ulkus. Tetapi dalam terapi untuk ulkus dengan gangguan aliran darah karena masalah arteri atau tekanan, belum secara jelas diketahui fungsi dari terapi oksigen hiperbarik pada proses penyembuhannya.[1,2,5,6]

Pelaksanaan Terapi Oksigen Hiperbarik

Sebelum pelaksanaan terapi, pasien harus dipersiapkan kondisinya terutama bagi pasien yang baru pertama kali menjalani terapi. Pasien dilarang menggunakan parfum, cat kuku, perhiasan atau jam tangan, alat bantu dengar, dan kacamata/lensa kontak selama proses terapi berlangsung. Pasien dengan ulkus pada kaki, diharapkan tidak menggunakan kaos kaki saat terapi berlangsung agar oksigen juga dapat kontak dengan permukaan luka.

Terapi oksigen hiperbarik tidak menimbulkan rasa sakit selama proses pelaksanaan terapi. Pasien mungkin akan mengalami sedikit perasaan tidak nyaman pada telinga atau sinus karena adanya peningkatan tekanan. Kondisi ini mirip seperti kondisi ketika naik pesawat terbang yang sedang landing atau take off, dan biasanya muncul pada 5 menit pertama terapi. Apabila kondisi ini muncul, pasien dianjurkan untuk menguap, menggerakan rahang bawah, atau memencet hidung dan meniup dengan mulut terkatup (valsava manuver). Selama proses terapi berlangsung, pasien dapat tidur, membaca atau menonton. Kebutuhan terapi bervariasi pada setiap orang karena tergantung pada kondisi masing-masing. Untuk terapi ulkus pada kaki, terapi berkisar antara 20 hingga 40 kali pemberian, dengan lama 1 hingga 2 jam tiap sesinya tergantung dari progres penyembuhan ulkus.[2,4]

Efek Samping dan Kontraindikasi Terapi

Terapi oksigen hiperbarik memiliki kontraindikasi absolut dan relatif. Kontraindikasi absolut adalah kondisi pneumotoraks yang belum ditatalaksana. Sedangkan kontraindikasi relatifnya adalah kondisi umum lemah, tekanan sistolik lebih dari 170 mmHg atau kurang dari 90 mmHg, dan tekanan diastolik lebih dari 110 mmHg atau kurang dari 60 mmHg, Infeksi saluran napas akut, sinusitis, asma, emfisema, infeksi kuman aerob seperti TBC, lepra, riwayat neuritis optik, hingga sedang menjalani kemoterapi.

Secara umum, terapi ini sangat aman dan jarang menimbulkan efek samping. 1 dari 10.000 orang dapat mengalami intoksikasi oksigen, atau efek yang lainnya berupa perubahan fungsi penglihatan hingga batuk kering yang akan hilang setelah terapi dihentikan. Pasien yang mengalami klaustrophobia (ketakutan terhadap ruangan tertutup) membutuhkan edukasi berupa teknik relaksasi selama terapi berlangsung, atau pada kasus khusus membutuhkan obat sedatif. [2] Pada sebuah penelitian ulkus diabetes pada kaki, tampak terapi oksigen hiperbarik dapat menimbulkan beberapa efek samping, seperti hipoglikemia, kehilangan kesadaran, hingga otitis barotrauma karena ketidakmampuan telinga untuk menyeimbangkan tekanan telinga tengah melalui tuba Eustachius sehingga dilakukan miringotomi. Namun demikian, angka kejadian dari efek samping ini sangat rendah. [4]

Referensi