Madu sebagai Balutan Luka Ulkus Diabetikum

Oleh dr. Nathania S.

Madu menjadi salah satu pilihan balutan luka (wound dressing) dalam pengobatan dan perawatan ulkus diabetikum atau luka kaki diabetes karena berbagai fitur yang dimilikinya seperti efek antibakteri, antiinflamasi, antioksidan dan debridemen autolitik.

Salah satu komplikasi dari diabetes mellitus adalah masalah pada kaki, yaitu ulserasi, infeksi dan gangren. Ulkus Diabetikum atau luka kaki diabetes (diabetic foot ulcer) merupakan penyebab paling banyak dari rawat inap pada pasien diabetes. Prinsip pengobatan dari ulkus diabetikum adalah debridemen, penurunan beban dan kontrol infeksi. Salah satu bagian dari proses debridemen adalah dengan melakukan perawatan luka dengan wound dressing atau balutan luka[1].

Depositphotos_56634797_m-2015_compressed

Angka amputasi yang tidak terkait dengan trauma pada diabetes adalah 50 – 70% dan paling banyak disebabkan karena ulkus diabetikum. Pengobatan dan perawatan ulkus diabetikum, edukasi kepada pasien dan keluarganya serta kontrol yang komprehensif diharapkan dapat menurunkan angka amputasi ini[2].

Beberapa contoh regimen topikal yang digunakan sebagai balutan luka adalah wet-to-dry dressing (menggunakan kassa dan cairan salin normal bersih), antibiotik topikal (contoh: gel metronidazol), balutan tulle, lapisan poliuretan, balutan hidrogel, balutan hidrokoloid, balutan alginat, balutan yang mengandung madu, enzim topikal dan peralatan mekanik[3].

Madu dipertimbangkan sebagai pembalut luka primer (primary wound dressing) pada[4]:

  • Luka nekrotik yang kering untuk membuang jaringan non-viabel, dan
  • Luka yang memiliki slough, berwarna kuning kecoklatan hingga hitam dan memiliki eksudat yang rendah hingga kering

Rekomendasi ini harus disesuaikan kembali dengan keputusan klinis dan protokol lokal yang berlaku.

Fitur yang terdapat dalam madu yang terkait dengan penyembuhan ulkus diabetikum antara lain[5]:

  • Keasaman (pH 3.2 – 4.5) dapat mencegah terbentuknya lapisan biofilm dan bersamaan dengan kandungan gula dapat membantu makrofag untuk membunuh kuman. Selain itu, keasaman madu dapat menciptakan kondisi lingkungan yang meningkatkan pelepasan oksigen dari hemoglobin yang akan merangsang penyembuhan luka melalui proses granulasi serta dapat menurunkan aktivitas protease untuk peningkatan aktivitas fibroblas
  • Efek osmotik. Madu bersifat hiperosmolar yang menciptakan lingkungan yang tidak konduktif untuk kuman bertumbuh. Cairan akan tertarik ke daerah luka dan kemudian dapat membentuk lapisan protektif terhadap kontaminasi silang. Cairan limfa juga dapat tertarik dan merangsang terjadinya debridemen autolitik. Perlu diperhatikan bila madu sudah tercampur dengan eksudat dari luka maka akan menurunkan efek hiperosmolar ini.
  • Hidrogen peroksida (H2O2) dalam konsentrasi rendah yang dihasilkan dari aktivitas enzim glucose oxidase dapat merangsang fibroblas, sel epitel, angiogenesis in vivo dan bersama dengan neutrofil dapat membunuh bakteri.
  • Nitrit oksida (NO) yang sangat dibutuhkan saat stadium proliferatif saat penyembuhan luka. Selain NO, produk akhir dari NO juga berpotensi untuk membantu penyembuhan luka.

Aktivitas Antibakteri

Aktivitas antibakteri memiliki spektrum yang luas terhadap bakteri gram positif, gram negatif, aerob dan anaerob, tetapi kurang efektif terhadap jamur. Beberapa ahli juga mengatakan madu efektif terhadap bakteri yang memiliki resistensi terhadap antibiotik seperti antara lain MRSA (Methycillin-resistant Staphylococcus aureus), VRE (Vancomycin-resistant Enterococci), pseudomonas, Acinetobacter baumanii dan Stenotrophomonas maltophilia. Pada pemberian madu konsentrasi tinggi yang sesuai dengan pemakaian klinis, maka resistensi bakteri terhadap efek antibakteri dari madu bisa dihindari[6].

Aktivitas Penghambat Biofilm

Biofilm banyak terdapat pada luka yang kronis dan menyulitkan penyembuhan luka. Zat aktif madu dapat menembus matriks biofilm yang telah terbentuk. Selain itu, madu dapat membunuh bakteri-bakteri yang berpotensi membentuk biofilm[6,7].

Aktivitas Debridemen

Pada infeksi kronis, terdapat peningkatan protease yang akan menurunkan kadar faktor-faktor pertumbuhan dan komponen matriks ekstraselular yang menghambat proses penyembuhan luka. Protease membutuhkan kondisi basa untuk bekerja optimal. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, karena fitur pH yang rendah, madu dapat menurunkan aktivitas dari protease. Efek osmotik madu juga dapat menarik cairan limfa ke daerah yang terluka dan membuatnya menjadi lembap, sehingga dapat merangsang terjadinya debridemen autolitik[5,6].

Efek Anti-inflamasi dan Antioksidan

Efek anti-inflamasi pada madu kemungkinan disebabkan oleh inaktivasi reactive oxygen species (ROS) dan gula yang terdapat dalam madu memberikan makrofag bahan bakar untuk memproduksi H2O2 serta energi. Plant phenolics pada madu juga memiliki efek antioksidan yang dapat membuang radikal bebas. Proses-proses ini dapat memotong siklus inflamasi kronik[5,6].

Pemilihan Madu untuk Ulkus Diabetikum

Pemilihan jenis madu yang efektif untuk ulkus diabetikum menjadi tantangan tersendiri karena perbedaan dari komposisi masing-masing madu. Terdapat produk komersil balutan luka yang mengandung madu, tetapi efeknya mungkin dapat berbeda-beda dari setiap produsen[6]. Jenis madu yang telah terbukti dapat memberikan keuntungan pada ulkus diabetikum, antara lain:

  • Madu Manuka adalah madu monofloral murni dari lebah pada tanaman manuka (Leptospermum scoparium) yang banyak terdapat di Australia dan Selandia Baru. Dalam suatu penelitian (n=63) yang membandingkan balutan luka dengan madu manuka dibandingkan dengan balutan konvensional (kassa lembap dengan salin normal), ditemukan waktu penyembuhannya lebih cepat pada kelompok madu (31 ± 4 hari vs 43 ± 3 hari, p < 0.05)[8]. Penggunaan madu manuka dan metode konvensional ditemukan menurunkan angka amputasi ibu jari kaki (akibat komplikasi) dibandingkan dengan metode konvensional saja (9.7% vs 34.6%; p < 0.05)[9].
  • Dalam sebuah penelitian di Malaysia, diteliti madu tidak steril yang dijual secara komersil untuk makanan dibandingkan dengan povidon iodin dan salin normal (kontrol) pada luka kaki diabetes Wagener-II. Ditemukan waktu penyembuhan pada kelompok madu adalah 14.4 hari (7 – 26 hari) dan kelompok kontrol adalah 15.4 hari (9 – 36 hari). Perbedaan ini ditemukan tidak signifikan secara statistik, tetapi pada kelompok madu ditemukan keuntungan lain yaitu penurunan edema dan bau pada luka[10].
  • Salah satu sediaan balutan luka yang mengandung madu yang dijual di Indonesia adalah Medihoney (merek dagang). Belum ada standar penggunaan madu sebagai balutan luka ulkus diabetikum di Indonesia. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan.

Frekuensi penggantian balutan luka dengan madu adalah sehari sekali pada 9 dari 11 penelitian yang menyatakan kesuksesan tata laksana ulkus diabetikum. Penggantian balutan dapat dilakukan lebih sering bila terdapat banyak eksudat dan dapat dilakukan lebih jarang bila jumlah drainase berkurang (4 – 7 hari sekali). Pada luka yang keras, dapat dilakukan dengan kompres madu yang dicairkan dengan salin normal dengan perbandingan 1:3[5].

Kesimpulan

  • Ulkus diabetikum merupakan komplikasi dari diabetes mellitus yang paling sering membuat rawat inap dan dapat berujung pada amputasi
  • Madu merupakan salah satu balutan luka (wound dressing) pada pengobatan dan perawatan ulkus diabetikum
  • Fitur yang dimiliki oleh madu sebagai balutan luka pada ulkus diabetikum adalah: pH yang rendah, bersifat hiperosmotik, mengandung H2O2 (hidrogen oksida) dan NO (nitrit oksida).
  • Fitur tersebut dapat membuat madu memiliki efek anti-bakteri, penghambat biofilm, debridemen autolitik, anti-inflamasi, anti-oksidan dan mengurangi bau dari luka.
  • Pemilihan jenis madu merupakan sebuah tantangan klinisi karena kandungan madu berbeda-beda.
  • Madu manuka ditemukan dapat menurunkan waktu penyembuhan dan mengurangi komplikasi yang berujung pada amputasi
  • Balutan luka dengan madu yang tidak steril dan dijual secara komersil untuk makanan ditemukan tidak memiliki perbedaan waktu penyembuhan dengan balutan luka dengan povidon iodin, tetapi dapat mengurangi edema dan bau pada luka
  • Salah satu sediaan balutan luka yang mengandung madu yang dijual di Indonesia adalah Medihoney (merek dagang). Belum ada standar penggunaan madu sebagai balutan luka ulkus diabetikum di Indonesia.
  • Frekuensi penggantian balutan luka pada penelitian balutan luka dengan madu yang dilaporkan sukses rata-rata adalah sehari sekali. Penggantian balutan dapat dilakukan lebih sering bila terdapat banyak eksudat dan dapat dilakukan lebih jarang bila jumlah drainase berkurang.
  • Diperlukan penelitian mengenai jenis-jenis madu yang ada di Indonesia, misal madu lengkeng, untuk menemukan jenis madu yang memiliki manfaat yang sama seperti madu manuka

Referensi