Terapi Oksigen Hiperbarik untuk Peremajaan Kulit

Oleh dr. Hunied Kautsar

Walau telah diakui untuk berbagai kondisi lainnya seperti decompression sickness dan luka bakar, penggunaan terapi oksigen hiperbarik untuk peremajaan kulit belum mendapat persetujuan FDA terkait manfaat dan keamanannya.

Depositphotos_63057055_m-2015_compressed

Pasien yang menjalani terapi oksigen hiperbarik akan menghirup oksigen murni (100%) dalam ruangan yang memiliki tekanan lebih dari tekanan atmosfir normal (biasanya 2,5 kali lebih tinggi dari tekanan normal atmosfir). Ketika diberikan oksigen 100% dalam tekanan yang lebih tinggi, oksigen tidak hanya terikat di dalam hemoglobin namun juga larut dalam plasma darah. Dengan konsentrasi oksigen dalam darah yang lebih tinggi, jumlah oksigen yang didistribusikan ke jaringan dan organ menjadi lebih banyak.

Terapi oksigen hiperbarik sudah dinyatakan aman oleh FDA sebagai terapi tambahan dalam tata laksana 13 kondisi, termasuk tata laksana untuk emboli udara atau emboli gas, keracunan karbon monoksida, decompression sickness, dan luka bakar.[1] Namun, FDA belum menyatakan manfaat dan keamanan dari terapi oksigen hiperbarik untuk peremajaan kulit. Di beberapa rumah sakit di Indonesia, terapi oksigen hiperbarik tersedia sebagai pengobatan utama penyakit penyelaman (decompression sickness dan emboli gas arteri) dan keracunan gas (CO, HCN, dan H2S) serta sebagai terapi adjuvan pada luka yang sulit sembuh seperti pada penderita diabetes. Di sisi lain, terdapat juga penggunaan terapi hiperbarik yang belum terbukti secara klinis, baik dari segi manfaat maupun keamanannya, di antaranya untuk gangguan saraf seperti stroke, gangguan telinga, gangguan keseimbangan seperti vertigo, penyempitan pembuluh darah mata, infeksi jamur dan alergi.[2]

Mekanisme Pencegahan Pembentukan Kerutan Pada Kulit dengan Terapi Oksigen Hiperbarik

Paparan radiasi ultraviolet dari sinar matahari akan menyebabkan perubahan pada kulit yang merupakan gejala dari penuaan kulit (cutaneous aging) atau photoaging. Gejala dari photoaging meliputi hiperplasia atau atrofi epidermis, penebalan stratum korneum, kehilangan papila dermis, jumlah keratinosit dan melanosit yang tidak wajar, degradasi molekul matriks seperti kerusakan serabut kolagen, deposisi serabut elastis yang berlebih, dan peningkatan kadar glycosaminoglycans. Photoaging juga ditandai dengan kulit kering, lipatan kulit yang dalam dan kerutan pada kulit.[3]

Paparan radiasi UV-B memicu aktivitas matrix metalloproteinases (MMPs) yang merusak membran basal dan juga memicu aktivitas kolagenase tipe I sehingga merusak kolagen tipe I yang mempunyai peran penting dalam menjaga kesehatan kulit. Paparan radiasi UV-B juga memicu protein HIF-1 yang merupakan salah satu faktor terjadinya angiogenesis pada kulit yang berujung pada pembentukan kerutan di kulit. Angiogenesis adalah pembentukan pembuluh darah baru dari pembuluh darah yang sudah ada. HIF-1 memiliki dua subunit protein, yakni α dan β. HIF-1α pada keadaan dengan kadar oksigen yang normal akan mengalami degradasi proteasomal.[4] Hal ini memberi kesan jika kadar oksigen ditingkatkan melalui terapi oksigen hiperbarik, degradasi proteosomal HIF-1α akan meningkat sehingga angiogenesis menurun dan pembentukan kerutan pada kulit diperlambat.

Hipotesis tersebut dibuktikan melalui penelitian terhadap dua puluh empat tikus yang dibagi menjadi tiga kelompok (kelompok kontrol, kelompok paparan radiasi UV-B, dan kelompok paparan radiasi UV-B + oksigen hiperbarik). Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa pembentukan kerutan dan ketebalan epidermis meningkat secara signifikan setelah paparan radiasi UV-B selama 5 minggu pada kelompok radiasi UV-B dan kelompok radiasi UV-B+oksigen hiperbarik dibandingkan dengan kelompok kontrol, namun terapi oksigen hiperbarik terbukti dapat menahan peningkatan tersebut (pada kelompok UV-B+oksigen hiperbarik). Jumlah protein HIF-1α juga meningkat secara signifikan pada kelompok paparan radiasi UV-B dibandingkan dengan kelompok kontrol dan kelompok paparan radiasi UV-B+oksigen hiperbarik.[5]

Penelitian lain pada tahun 2012 mengenai manfaat proteksi hyperbaric oxygen preconditioning (terhadap kerusakan oksidatif pada kulit yang dipicu oleh paparan radiasi UV-A. Penelitian dilakukan terhadap tiga puluh tujuh tikus percobaan yang dibagi menjadi empat kelompok; kelompok kontrol, kelompok paparan radiasi UV-A, kelompok paparan radiasi UV-A+terapi oksigen hiperbarik 2x/minggu, dan kelompok paparan radiasi UV-A+terapi oksigen hiperbarik 4x/minggu. Dosis terapi oksigen hiperbarik yang digunakan sama dengan dosis yang biasa digunakan secara klinis yakni oksigen murni dengan tekanan 2,4 atm yang diberikan selama 1 jam di dalam inkubator hiperbarik. Paparan radiasi UV-A diberikan selama 22 minggu dengan dosis paparan yang ditingkatkan sebanyak 10%/minggu. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa terapi oksigen hiperbarik secara signifikan dapat mengurangi apoptosis dan proliferasi jaringan kulit yang dipicu oleh paparan radiasi UV-A. Terapi oksigen hiperbarik juga mencegah terbentuknya lipatan jaringan mikroskopik yang disebabkan oleh paparan radiasi UV-A. Elastisitas kulit yang paling tinggi juga ditunjukkan oleh kelompok paparan radiasi UV-A + terapi oksigen hiperbarik 4 x/minggu.[6]

Kesimpulan

Terapi oksigen hiperbarik sudah dinyatakan aman oleh FDA untuk tiga belas kategori namun penggunaan terapi oksigen hiperbarik untuk peremajaan kulit masih belum teruji secara klinis manfaat dan keamanannya, hanya berupa uji pada binatang saja.

Uji pada binatang menemukan bahwa terapi oksigen hiperbarik dapat memperlambat pembentukan kerutan pada kulit dengan cara meningkatkan degradasi proteosomal dari HIF-1α sehingga memperlambat angiogenesis. Di sisi lain, penelitian terhadap manfaat terapi oksigen hiperbarik pada ulkus dan luka yang sulit sembuh justru menemukan hasil sebaliknya bahwa terapi oksigen hiperbarik akan meningkatkan angiogenesis sehingga membantu penyembuhan luka.[7, 8].

Belum adanya penelitian pada hewan dan kontradiksi mengenai efek terhadap angiogenesis tersebut membuat terapi oksigen hiperbarik belum diindikasikan untuk peremajaan kulit dan memerlukan penelitian lebih lanjut, terkait mekanisme kerja, manfaat, dan keamanannya.

Referensi