Penyebab dan Manajemen Hematemesis pada Anak

Oleh :
dr. Utari Nur Alifah

Identifikasi penyebab hematemesis pada anak-anak penting dilakukan agar dokter bisa memilih langkah manajemen yang sesuai. Hematemesis atau muntah darah merupakan salah satu manifestasi klinis perdarahan saluran cerna bagian atas. Kondisi ini harus dibedakan dari hemoptisis yang merupakan batuk dengan dahak berdarah.[1-3]

Penyebab hematemesis pada anak-anak bervariasi tergantung usia. Mayoritas kasus tidak mengalami komplikasi serius tetapi perdarahan yang masif dapat menyebabkan ketidakstabilan hemodinamik.[2-4]

HematemesisAnak

Contoh tanda kegawatan pada anak yang mengalami hematemesis adalah kulit pucat, ekstremitas dingin, capillary refill time memanjang, hingga penurunan kesadaran. Anak dengan perdarahan mayor memerlukan penanganan segera untuk menjaga stabilitas hemodinamik, mengestimasi kehilangan darah, dan melacak sumber perdarahan serta etiologinya.[5]

Penyebab Hematemesis pada Anak

Penyebab hematemesis pada anak dapat diperkirakan berdasarkan usianya, yaitu usia neonatus, usia 1 bulan hingga 1 tahun, usia 1–2 tahun, dan usia >2 tahun.[2,5,6]

Penyebab Hematemesis pada Neonatus

Pada neonatus, penyebab umum hematemesis adalah darah maternal yang tertelan, defisiensi vitamin K, dan stress ulcers. Stress ulcers mungkin terjadi karena hipoksia perinatal atau penggunaan dexamethasone untuk maturasi paru bayi prematur. Hal lain yang juga bisa menyebabkan hematemesis pada neonatus adalah koagulopati, dengan angka kejadian sekitar 0,25%-0,5%.[2,5,6]

Penyebab Hematemesis pada Bayi Berusia 1 Bulan Hingga 1 Tahun

Hematemesis pada kelompok usia 1 bulan hingga 1 tahun umumnya disebabkan oleh esofagitis akibat refluks gastroesofagus. Penyebab lain yang umum adalah gastritis primer, yang bisa terjadi akibat infeksi Helicobacter pylori, pemakaian obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), sindrom Zollinger-Ellison, dan penyakit Crohn.[2]

Gastritis sekunder juga mungkin menjadi penyebab hematemesis. Gastritis sekunder berhubungan dengan penyakit sistemik berat yang menyebabkan iskemia mukosa dan erosi mukosa gaster.[2]

Dokter juga perlu mempertimbangkan kemungkinan hematemesis akibat tertelannya bahan kaustik yang tidak disengaja atau akibat tertelannya benda asing.[1,2]

Penyebab Hematemesis pada Anak Berusia 1–2 Tahun

Pada kelompok usia 1–2 tahun, penyebab umum hematemesis adalah ulkus peptikum. Etiologi ulkus peptikum dapat berupa penggunaan OAINS atau infeksi H. pylori seperti pada kelompok usia 1 bulan hingga 1 tahun. Namun, ulkus peptikum pada kelompok usia 1–2 tahun lebih sering terjadi karena penyakit sistemik seperti sepsis atau trauma kepala (ulkus Cushing).[2]

Kemungkinan hematemesis akibat tertelannya bahan kaustik atau benda asing secara tidak sengaja juga tetap dipertimbangkan.[1,2]

Penyebab Hematemesis pada Anak Berusia >2 Tahun

Pada kelompok usia >2 tahun, hematemesis dapat disebabkan oleh ulkus peptikum, ruptur varises esofagus atau varises gaster, dan laserasi longitudinal pada mukosa esofagus distal (Mallory-Weiss syndrome). Pada anak-anak yang mengalami epistaksis  berulang, pertimbangkan juga kemungkinan hematemesis akibat darah epistaksis yang tertelan.[1,2,5]

Pendekatan Diagnosis Hematemesis pada Anak

Hematemesis dilaporkan sebagai muntah dengan darah yang berwarna merah terang atau berwarna kecoklatan seperti kopi. Warna kecoklatan disebabkan oleh perubahan hemoglobin ketika berkontak dengan asam lambung.[2,7]

Muntah dengan sedikit saja darah, terutama yang hanya terjadi 1 kali, umumnya tidak memerlukan tindakan diagnostik invasif dan dapat menjalani observasi terlebih dahulu. Darah yang tertelan saat bayi disusui atau tertelan akibat epistaksis lalu dimuntahkan merupakan hal yang umum pada anak. Namun, pada kasus hematemesis yang parah atau berulang, terutama pada anak yang dicurigai memiliki etiologi serius, investigasi lebih lanjut diperlukan.[2,7]

Pendekatan Diagnosis Hematemesis pada Neonatus

Pada kasus neonatus yang mengalami hematemesis, tanyakan riwayat injeksi vitamin K saat lahir, riwayat proses persalinan, dan ada tidaknya luka di puting ibu yang mungkin menyebabkan darah tertelan oleh neonatus saat disusui. Tinjau juga apakah neonatus prematur dan apakah ada riwayat maturasi paru dengan dexamethasone.[1,2,7]

Dokter dapat melakukan Apt-Downey test untuk membedakan apakah darah dalam muntah berasal dari ibu atau neonatus. Tes ini dilakukan dengan cara mencampurkan darah dengan air steril dan sodium hydroxide 1% dalam tabung. Jika darah berubah warna menjadi kuning-kecoklatan, darah berasal dari ibu. Jika darah tidak berubah warna, darah berasal dari neonatus. Namun, hasil positif palsu dapat terjadi jika sampel mengandung darah denaturasi seperti melena.[2]

Diagnosis stress ulcers pada neonatus umumnya bersifat presumptive. Akan tetapi, bila perlu, diagnosis definitif dapat ditegakkan dengan endoskopi. Bila koagulopati dicurigai sebagai penyebab hematemesis, dokter dapat melakukan tes faktor koagulasi.[1,2,7]

Pendekatan Diagnosis Hematemesis pada Anak yang Berusia Lebih Tua

Pada anak-anak yang berusia lebih tua, tanyakan riwayat penggunaan OAINS, riwayat benda asing atau bahan kaustik yang mungkin tertelan, dan riwayat epistaksis.[1,2,7]

Pada kasus yang parah, lakukan pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui kadar hemoglobin dan memperkirakan derajat perdarahan.[2]

Pada anak 1 bulan hingga 1 tahun, jika ada kecurigaan esofagitis akibat refluks, dokter dapat melakukan pemeriksaan barium swallow atau esofagoskopi. Bila ada kecurigaan gastritis akibat infeksi H. pylori, dokter dapat melakukan rapid urease test.[2,7]

Pada anak usia 1–2 tahun dengan hematemesis yang tidak berhubungan dengan infeksi H. pylori, pemeriksaan kadar plasma gastrin dapat dilakukan untuk mengeksklusi sindrom Zollinger-Ellison. Pada pasien dengan hematemesis yang signifikan, diagnosis dapat dilakukan melalui endoskopi dan biopsi jika perlu.[2]

Pada anak usia >2 tahun, endoskopi merupakan modalitas yang dipilih untuk diagnosis sekaligus terapi. Esofagus dan lambung merupakan fokus utama untuk melihat apakah ada varises ataupun ulkus.[2]

Manajemen Hematemesis pada Anak

Apabila ada tanda-tanda ketidakstabilan hemodinamik akibat perdarahan aktif, lakukan stabilisasi hemodinamik terlebih dahulu. Persiapkan dua akses IV line besar untuk resusitasi cairan. Transfusi darah dapat dilakukan jika perlu. Setelah cukup stabil, rujuk pasien ke fasilitas kesehatan yang mempunyai ICU pediatrik. Tanda vital seperti denyut nadi dan tekanan darah harus dimonitor secara ketat.[2,7]

Manajemen Hematemesis pada Neonatus

Manajemen stress ulcers pada neonatus umumnya bersifat suportif. Obat proton pump inhibitor (PPI) dapat diberikan secara intravena jika perlu. Manajemen invasif biasanya jarang diperlukan. Pada kasus yang disebabkan oleh defisiensi vitamin K, pemberian 1 mg vitamin K secara intravena dapat dilakukan.[1,2]

Manajemen Hematemesis pada Anak yang Berusia Lebih Tua

Pada kasus hematemesis akibat esofagitis refluks, dokter memberikan obat penekan asam lambung, menganjurkan posisi badan tegak saat feeding, dan memberikan obat prokinetik bila perlu.[1,2]

Ulkus peptikum yang disebabkan oleh OAINS harus ditangani dengan penghentian obat yang menyebabkan ulkus, sedangkan ulkus yang disebabkan oleh infeksi H. pylori bisa diterapi dengan kombinasi antibiotik dan obat penekan asam lambung, yang biasanya dikenal sebagai triple therapy.[1,2]

Nasogastric tube (NGT) dapat dipasang untuk melihat apakah perdarahan masih aktif. Perdarahan signifikan memerlukan penanganan segera dengan endoskopi. Endoskopi yang dilakukan <24 jam memiliki peluang deteksi lesi perdarahan hingga >80%. Peluang berkurang signifikan (hingga <40%) jika endoskopi dilakukan setelah 48 jam.[7]

Pada hematemesis yang tidak melibatkan varises, modalitas yang dapat dipilih adalah injeksi adrenalin, termokoagulasi, dan terapi mekanik berupa klip. Injeksi adrenalin yang diencerkan dengan cairan salin normal dapat dilakukan untuk membuat tamponade lokal dan hemostasis. Injeksi adrenalin direkomendasikan untuk dilakukan bersamaan dengan modalitas lain.[7,8]

Octreotide sebagai analog somatostatin dapat diberikan sebagai terapi tambahan pada kasus yang tidak berhubungan dengan varises. Octreotide diberikan setelah pasien stabil. Octreotide tidak memperpendek durasi perdarahan tetapi dapat mengurangi kebutuhan transfusi darah.[9]

Pada kasus hematemesis yang diakibatkan oleh varises, endoscopic variceal ligation (EVL) merupakan pilihan terapi karena dapat mengeradikasi varises lebih dini dengan kemungkinan komplikasi yang lebih sedikit. Namun, pada neonatus dan anak yang lebih muda, ukuran alat ligasi tidak memungkinkan, sehingga skleroterapi dapat dipilih untuk mengontrol perdarahan akibat varises.[7]

Kesimpulan

Penyebab hematemesis pada anak-anak bervariasi tergantung usia. Pada anak yang tampak sehat, penyebab umum hematemesis adalah darah yang tertelan dari puting ibu yang terluka saat menyusui atau tertelan dari epistaksis. Pada usia neonatus, selain penyebab tersebut, penyebab umum lain adalah defisiensi vitamin K dan stress ulcers.

Pada anak usia 1 bulan hingga 1 tahun, penyebab umum adalah esofagitis akibat refluks dan gastritis. Sementara itu, pada anak usia 1–2 tahun, penyebab umum adalah ulkus peptikum. Pada anak-anak usia >2 tahun, penyebab bisa berupa ruptur varises esofagus, Mallory-Weiss syndrome, dan ulkus peptikum.

Kasus dengan ketidakstabilan hemodinamik harus diresusitasi terlebih dahulu sebelum investigasi lebih lanjut. Nasogastric tube (NGT) dapat dipasang untuk melihat apakah perdarahan masih aktif. Perdarahan signifikan memerlukan penanganan segera dengan endoskopi. Terapi lain diberikan sesuai dengan penyebab masing-masing kasus.

Referensi