Peran Obat Sitoprotektor pada GERD dan Gastritis

Oleh dr. Sunita

Sitoprotektor atau mukoprotektor, seperti sukralfat dan alginat, merupakan salah satu pilihan terapi farmakologis yang dapat digunakan untuk GERD dan gastritis. Sitoprotektor bermanfaat mengatasi jejas mukosa lambung akibat penyakit-penyakit tersebut dengan meningkatkan perlindungan terhadap mukosa lambung.

Penggunaan sitoprotektor dianggap lebih bermanfaat pada populasi Asia karena perbedaan faktor pejamu dan bakterial yang menimbulkan penyakit lambung. Sebagai contoh, tingkat keasaman lambung tampak lebih tinggi dan menjadi faktor primer pada kejadian gastritis di negara-negara Eropa dan Amerika dibandingkan beberapa negara Asia seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok[1]. Peningkatan perlindungan mukosa lambung dapat dicapai dengan pemberian beberapa jenis obat seperti antasida yang mengandung aluminium, sucralfate, alginat, dan rebamipid.

Depositphotos_3094046_m-2015_compressed

Walau telah banyak penelitian in vitro yang mempelajari peran obat sitoprotektor dalam penanganan gastritis[1–3], bukti klinis manfaat obat sitoprotektor pada GERD dan gastritis juga mulai bermunculan[4–6]. Artikel ini akan membahas mekanisme kerja beberapa obat sitoprotektor, bukti manfaat sitoprotektor pada penyakit gastritis dan GERD, serta implikasi klinis dari berbagai bukti yang ada tentang peran sitoprotektor.

Mekanisme Kerja Obat Sitoprotektor atau Mukoprotektor

Mekanisme kerja obat sitoprotektor dipengaruhi dari properti kimiawi masing-masing jenis obat.

Mekanisme Kerja Antasida yang Mengandung Aluminium

Kandungan aluminium hidroksida dalam antasida mengaktifkan sistem oksida nitrat yang kemudian akan meningkatkan mikrosirkulasi mukosa lambung. Selain itu, aluminium dalam antasida meningkatkan pembentukan prostaglandin pada jaringan mukosa lambung dan sekresi prostaglandin ke lumen lambung[4].

Mekanisme Kerja Sukralfat

Sukralfat merupakan salah satu obat pelindung mukosa yang telah lama digunakan. Obat ini merupakan bentuk garam aluminium dari sukrosa sulfat yang dapat mengikat asam empedu serta membentuk kompleks stabil dengan molekul protein sehingga lebih resistan terhadap aktivitas pepsin. Sukralfat mempunyai afinitas yang baik terhadap mukosa yang meradang berkat adanya sambungan polivalen antara senyawa sukralfat bermuatan negatif dan protein yang bermuatan positif pada mukosa yang memiliki lesi[7]. Selain itu, sukralfat juga bersifat sitoprotektif sebagaimana ditunjukkan oleh peran sukralfat dalam meningkatkan kadar faktor pertumbuhan fibroblas dan memicu kenaikan prostaglandin di mukosa yang kemudian merangsang penyembuhan lesi di mukosa[4].

Mekanisme Kerja Alginat

Senyawa lain yang juga banyak digunakan sebagai sitoprotektor adalah alginat. Alginat dapat membentuk raft yang melayang di lapisan atas isi lambung dan mengurangi kejadian refluks asam lambung. Kelebihan lain dari alginat adalah kemampuannya dalam menghilangkan kantung-kantung asam lambung yang dapat muncul setelah makan pada pasien dengan gejala refluks lambung[4,7]. Selain itu, bukti yang ada juga menunjukkan potensi senyawa alginat dalam melindungi mukosa esofagus yang berkaitan erat dengan properti bioadhesif sehubungan dengan panjang rantai polimer dan gugus pengion dalam senyawa ini[7].

Mekanisme Kerja Rebamipid

Pada populasi Asia, rebamipid juga mulai dikenal sebagai agen sitoprotektor. Penelitian in vitro dan pada hewan coba membuktikan bahwa rebamipid dapat menghambat aktivasi dan penempelan leukosit terhadap sel endotel. Selain itu, rebamipid juga dapat memicu pembentukan prostaglandin. Penggunaan jangka panjang rebamipid juga dapat menurunkan ekspresi hypoxia inducible factor-1 α pada sel epitel lambung manusia yang mengindikasikan adanya peran rebamipid dalam meningkatkan aliran darah ke lambung[1].

Manfaat Sitoprotektor pada GERD dan Gastritis

Manfaat masing-masing jenis sitoprotektor pada penyakit refluks lambung (GERD) dan gastritis telah banyak dipelajari pada berbagai tingkat bukti ilmiah.

Manfaat Antasida untuk GERD dan Gastritis

Sebuah meta analisis oleh Tran, et al. membandingkan hasil 4 uji klinis acak yang membandingkan efek antasida dibandingkan plasebo dalam pengobatan GERD dengan jumlah sampel 578 pada kelompok antasida dan 577 pada kelompok plasebo. Penilaian subjektif tentang terapi yang diterima partisipan kemudian dievaluasi pada minggu kedua dan keempat setelah terapi dimulai. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa perbedaan manfaat antara antasida dibandingkan plasebo sebesar 8% dan partisipan cenderung merasakan perbaikan gejala GERD saat mendapat antasida dibandingkan plasebo. Perbedaan manfaat relatif antara penggunaan antasida dibandingkan plasebo adalah sebesar 11% dengan NNT (number needed to treat) sebanyak 13[8].

Holtmeier et al. membandingkan hidrotalsit dosis tunggal 1000 mg dengan famotidin 10 mg atau plasebo sebagai terapi apabila muncul gejala nyeri ulu hati. Mereka menemukan bahwa hidrotalsit secara signifikan mengurangi keparahan nyeri ulu hati dalam 10 menit pertama dibandingkan plasebo dan memiliki efikasi yang lebih baik hingga 30-180 menit pascakonsumsi[9]. Antasida juga dapat menjadi alternatif esomeprazol sebagai terapi pereda gejala GERD pada pasien dengan penyakit refluks nonerosif[10].

Manfaat Sukralfat untuk GERD dan Gastritis

Terdapat sejumlah bukti yang mendukung ekuivalensi efektivitas sukralfat dibandingkan dengan antagonis reseptor histamin 2 (H2RA) pada pasien dengan GERD. Pemberian suspensi sukralfat 6 g/hari menunjukkan hasil penyembuhan yang lebih baik dibandingkan dengan ranitidin 150 mg dua kali sehari yang dibuktikan dengan pemeriksaan endoskopi. Selain itu, perbaikan gejala nyeri ulu hati dan regurgitasi asam lambung sama baiknya pada kedua kelompok partisipan yang mendapat sukralfat atau H2RA. Namun, efek tersebut umumnya baru terlihat setelah terapi antara 6-8 minggu[4].

Manfaat Alginat untuk GERD dan Gastritis

Beberapa studi juga telah mempelajari peran alginat yang dikombinasikan dengan inhibitor pompa proton (PPI) dalam mengurangi gejala nyeri ulu hati pada penderita GERD. Pemberian alginat sebagai terapi tambahan PPI pada pasien refluks dengan respons parsial dapat mengurangi gejala nyeri ulu hati dan memperbaiki kualitas hidup pasien secara signifikan dibandingkan terapi PPI saja[11]. Di sisi lain, pemberian alginat sebagai terapi tambahan PPI pada pasien dengan gejala refluks persisten hanya menunjukkan perbaikan gejala yang minimal saja. Dibandingkan dengan plasebo, pemberian alginat 20 ml setelah makan dan sebelum tidur tiga kali sehari hanya mengurangi gejala refluks di malam hari sebanyak 1 malam saja[12]. Perbedaan yang tidak terlalu besar antara efek alginat dibandingkan plasebo tersebut diduga dipengaruhi metode seleksi partisipan yang berpotensi mencakup  kelompok pasien dengan gejala fungsional yang berespons baik terhadap plasebo maupun obat apa pun[13].

Manfaat Rebamipid untuk GERD dan Gastritis

Walaupun studi in vitro dan hewan coba mendukung potensi peran rebamipid sebagai agen sitoprotektor, uji klinis yang mempelajari manfaat rebamipid masih menunjukkan hasil yang bertentangan. Dalam sebuah uji klinis di Thailand, rebamipid memberikan perbaikan gejala dispepsia yang bermakna (perbaikan nyeri ulu hati, rasa kembung, nafsu makan menurun, dan diare) pada pasien dengan gastritis kronik yang refrakter terhadap terapi PPI. Sementara itu, dalam penelitian uji klinis terkontrol dengan penyamaran ganda di Amerika Serikat dan Jepang, rebamipid tidak menunjukkan perbaikan bermakna pada gejala individu setelah 8 minggu terapi. Meskipun demikian, pada populasi Jepang, perbaikan skor gejala untuk keluhan kembung dan nyeri ulu hati lebih baik pada kelompok yang mendapat rebamipid dibandingkan plasebo[14].

Manfaat Obat Sitoprotektor untuk Gastritis yang diakibatkan oleh Helicobacter pylori

Penanganan infeksi Helicobacter pylori dilakukan menggunakan regimen triple therapy yang terdiri dari kombinasi 2 antibiotik dan inhibitor pompa proton atau antagonis H2 (PPI/H2RA). Obat sitoprotektor memiliki potensi untuk digunakan sebagai alternatif pengganti PPI/H2RA tetapi efektivitasnya masih belum dibuktikan oleh penelitian.

Implikasi Klinis Penggunaan Sitoprotektor untuk GERD dan Gastritis

Dalam kondisi tertentu, beberapa jenis agen pelindung mukosa dapat menjadi terapi alternatif atau tambahan pada pasien dengan GERD dan gastritis. Hal tersebut bukan berarti bahwa obat pelindung mukosa dapat menggantikan peran inhibitor pompa proton (PPI) sebagai terapi pilihan pertama dalam meredakan gejala GERD dan memicu penyembuhan esofagitis erosif[15]. Namun, obat pelindung mukosa dapat menjadi pilihan bila ketersediaan PPI dan H2RA tidak terjamin atau pasien masih menunjukkan gejala walau telah mendapat terapi PPI optimal. Pilihan obat sitoprotektor yang dapat digunakan adalah sukralfat, antasida yang mengandung aluminium, alginat, dan rebamipid.

Referensi