Diagnosis Hantavirus
Diagnosis infeksi hantavirus dicurigai pada pasien dengan demam, gejala respirasi progresif atau gangguan ginjal akut, terutama bila ada riwayat paparan terhadap hewan pengerat atau lingkungan yang terkontaminasi kotoran hewan pengerat. Diagnosis dikonfirmasi melalui deteksi antibodi, deteksi RNA virus dengan reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR), atau identifikasi antigen virus pada sampel klinis.[9,11,12,15,23]
Anamnesis
Pasien dengan infeksi hantavirus umumnya mengeluhkan gejala onset akut berupa demam tinggi, menggigil, malaise, sakit kepala, mialgia yang menonjol terutama pada otot-otot besar seperti punggung, paha, dan bahu, serta gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, nyeri perut, atau diare. Pada fase awal, gejala sering kali tidak spesifik dan menyerupai infeksi virus lainnya sehingga dapat menyulitkan diagnosis dini.
Seiring perkembangan penyakit, pasien dengan hantavirus pulmonary syndrome (HPS) dapat melaporkan batuk nonproduktif, sesak napas yang semakin memberat, rasa sesak di dada, dan penurunan toleransi aktivitas. Pasien dengan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) dapat mengeluhkan nyeri pinggang, oliguria, poliuria pada fase pemulihan, atau gejala perdarahan seperti epistaksis dan perdarahan mukosa.
Riwayat paparan merupakan komponen anamnesis yang sangat penting. Klinisi perlu menanyakan adanya kontak dengan hewan pengerat atau ekskretanya dalam 1–8 minggu sebelum timbul gejala, termasuk:
- Aktivitas membersihkan gudang, lumbung, rumah kosong, kabin, atau bangunan tertutup yang lama tidak dihuni
- Bekerja di bidang pertanian, kehutanan, atau konstruksi
- Berkemah
- Tinggal atau bekerja di lingkungan dengan infestasi tikus.
Riwayat perjalanan ke daerah endemis dan adanya kasus serupa di lingkungan sekitar juga perlu dieksplorasi. Identifikasi faktor risiko paparan ini sangat membantu meningkatkan kecurigaan klinis terhadap infeksi hantavirus, terutama ketika gejala awal masih bersifat nonspesifik.[9,11,12,15]
Pemeriksaan Fisik
Pada fase awal, temuan fisik umumnya non-spesifik berupa demam, takikardia, dan kondisi umum lemah, kadang disertai hiperemia konjungtiva atau flushing wajah.
Seiring progresi penyakit, pada HPS dapat ditemukan takipnea, hipoksia, dan ronki basah akibat edema paru yang dapat berkembang menjadi distres napas hingga syok. Pada HFRS, lebih menonjol manifestasi perdarahan seperti petekiae, disertai hipotensi serta tanda gangguan ginjal berupa edema dan oliguria.[11,12,15]
Diagnosis Banding
Diagnosis banding infeksi hantavirus penting dipertimbangkan karena manifestasi klinisnya sering menyerupai berbagai penyakit infeksi lain. Penegakan diagnosis memerlukan identifikasi faktor pembeda utama, terutama riwayat paparan rodensia serta kombinasi temuan hematologis dan keterlibatan organ spesifik.[9,15,22]
Infeksi Virus Sistemik
Pada fase awal, hantavirus sering sulit dibedakan dari infeksi virus sistemik seperti demam dengue, COVID-19, influenza, dan leptospirosis karena semuanya dapat menyebabkan demam, mialgia, sakit kepala, dan malaise. Leptospirosis merupakan diagnosis banding yang penting karena sama-sama merupakan penyakit zoonotik yang berkaitan dengan paparan tikus dan dapat menyebabkan gagal ginjal akut.
Meski demikian, leptospirosis lebih sering disertai riwayat paparan air atau tanah yang terkontaminasi urin hewan, ikterus, hiperemia konjungtiva, serta bukti infeksi bakteri pada pemeriksaan laboratorium, sedangkan hantavirus lebih kuat berhubungan dengan paparan hewan pengerat dan umumnya tidak menimbulkan ikterus yang menonjol.[9,15,22]
Infeksi Saluran Napas
Pada pasien dengan manifestasi respiratorik berat, terutama hantavirus pulmonary syndrome (HPS), diagnosis banding meliputi pneumonia bakterial berat, pneumonia virus, acute respiratory distress syndrome, dan edema paru kardiogenik.
HPS biasanya diawali fase prodromal berupa demam dan mialgia selama beberapa hari sebelum muncul perburukan respiratorik yang cepat akibat peningkatan permeabilitas kapiler paru. Berbeda dengan edema paru akibat gagal jantung, pasien HPS umumnya tidak memiliki riwayat penyakit jantung yang jelas dan sering menunjukkan hemokonsentrasi serta trombositopenia.[9,26-28]
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada infeksi hantavirus menunjukkan temuan laboratorium berupa trombositopenia, hemokonsentrasi, leukositosis, serta peningkatan hematokrit. Pada HFRS ditemukan peningkatan ureum dan kreatinin sebagai tanda keterlibatan ginjal, sedangkan pada HPS dijumpai gangguan oksigenasi serta infiltrat bilateral pada radiologi dada.[9,11,12,15]
Serologi (IgM/IgG Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)
Pemeriksaan serologi merupakan metode utama dalam konfirmasi diagnosis hantavirus dengan mendeteksi antibodi imunoglobulin M (IgM) dan imunoglobulin G (IgG) terhadap virus, terutama efektif setelah fase awal infeksi.[9,11,15,23]
Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR)
RT-PCR digunakan untuk mendeteksi RNA virus secara langsung, terutama pada fase akut sebelum terbentuknya antibodi, sehingga bermanfaat untuk diagnosis dini.[5,9,23]
Imunohistokimia
Pemeriksaan imunohistokimia digunakan pada kasus tertentu, terutama pada spesimen jaringan, untuk mengidentifikasi antigen virus secara langsung dan mendukung konfirmasi diagnosis.[9,23]