Epidemiologi Hantavirus
Data epidemiologi mengindikasikan bahwa infeksi hantavirus merupakan infeksi zoonotik yang jarang namun berpotensi fatal. Secara global, diperkirakan ada 10.000 hingga 100.000 kasus setiap tahunnya. Angka fatalitas mencapai 15% di Asia dan Eropa, serta mencapai 50% di Amerika.[1]
Global
Secara global, infeksi hantavirus diperkirakan terjadi 10.000 hingga 100.000 kasus per tahun. Di Asia Timur, Cina melaporkan kejadian hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) sejak tahun 2004 hingga 2016 sebanyak 8.853–25.041 atau rerata 12.800 kasus per tahun, sedangkan Korea Selatan sekitar 300–600 kasus per tahun.
Sementara itu, di Asia Tenggara prevalensi hantavirus pada hewan pengerat mencapai 6,07%. Angka tertinggi dilaporkan di Indonesia (17,49%) dan Singapura (10,53%).
Di sisi lain, hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS) dilaporkan sebanyak 864 kasus di Amerika Serikat dalam periode 1993–2022. Di Eropa, pada tahun 2023 dilaporkan 1.885 kasus di 28 negara Uni Eropa (0,4 per 100.000 penduduk). Sebanyak 60,5% kasus berasal dari Finlandia dan Jerman.[1,15-19]
Indonesia
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa hantavirus tidak hanya ditemukan di daerah terpencil, tetapi juga di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Denpasar. Hal ini menegaskan bahwa urbanisasi dan kepadatan penduduk meningkatkan risiko penularan, terutama pada lingkungan dengan sanitasi buruk dan pengelolaan limbah yang tidak optimal.
Selama periode 2024 hingga Mei 2026, tercatat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Tren kasus terkonfirmasi menunjukkan peningkatan, dari 1 kasus pada 2024, menjadi 17 kasus pada 2025, dan 5 kasus hingga Mei 2026.[3,20]
Mortalitas
Case fatality rate (CFR) infeksi hantavirus secara global bervariasi, yaitu sekitar <1–15% di Asia dan Eropa, serta dapat mencapai hingga 50% di kawasan Amerika.
Di kawasan Amerika, hingga epidemiological week (EW) ke-47 tahun 2025, delapan negara terutama di Southern Cone melaporkan 229 kasus HCPS, dengan 59 kematian (CFR 25,7%), meliputi Argentina, Brasil, Bolivia, Chili, Panama, Paraguay, Amerika Serikat, dan Uruguay.
Di Indonesia selama periode 2024 hingga Mei 2026 dilaporkan 23 kasus terkonfirmasi HFRS, dengan 20 pasien sembuh dan 3 pasien meninggal dunia.[1,18,20,21]