Pendahuluan Hantavirus
Hantavirus adalah kelompok virus yang bisa menyebabkan infeksi pada manusia dan menimbulkan penyakit serius, yakni gangguan pernapasan atau hantavirus pulmonary syndrome/HPS, serta gangguan pembuluh darah dan ginjal atau hemorrhagic fever with renal syndrome/HFRS. Hantavirus terutama ditularkan ke manusia melalui kontak dengan urin, feses, atau air liur hewan pengerat seperti tikus yang terinfeksi.
Hantavirus merupakan kelompok virus dari famili Hantaviridae yang bersifat zoonotik. Gejala infeksi hantavirus biasanya diawali dengan demam, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan, kemudian pada sebagian pasien dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat atau gangguan ginjal. Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang dan hanya dilaporkan pada beberapa jenis hantavirus.[1-3]
Bisakah Hantavirus Ditularkan Antar Manusia?
Pada tahun 2026, wabah hantavirus terjadi di kapal pesiar ekspedisi MV Hondius saat berlayar di Atlantik Selatan dan Antartika. Berdasarkan laporan WHO, hingga akhir Mei 2026 terdapat sekitar 13 kasus dengan beberapa kematian yang seluruhnya berkaitan dengan penumpang dan kru kapal tersebut.
Wabah hantavirus tersebut dikaitkan dengan infeksi Andes virus, salah satu varian Hantavirus yang diketahui memiliki potensi transmisi antar manusia secara terbatas, yakni melalui kontak erat dan intensif. Meski demikian, tidak terdapat bukti terjadinya penyebaran luas di masyarakat, dan risiko penularan terhadap populasi umum dinilai rendah.[1,2,4]
Deteksi dan Manajemen Hantavirus
Diagnosis hantavirus ditegakkan berdasarkan kombinasi kecurigaan klinis, riwayat paparan rodensia, serta konfirmasi laboratorium. Pasien umumnya datang dengan gejala awal nonspesifik seperti demam, mialgia, dan malaise, yang dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat atau keterlibatan ginjal.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan melalui deteksi antibodi spesifik, Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk identifikasi materi genetik virus, atau pemeriksaan serologi lain. Indikasi pemeriksaan terutama pada pasien dengan gejala kompatibel disertai riwayat paparan atau perjalanan ke daerah risiko, sehingga deteksi dini dan pelaporan menjadi penting dalam penanganan kasus.[2,5,6]
Pengendalian infeksi dilakukan melalui isolasi pasien, penggunaan alat pelindung diri (APD) sesuai standar, serta pelacakan dan pemantauan kontak erat selama masa inkubasi untuk mendeteksi gejala secara dini. Edukasi mengenai kebersihan lingkungan dan pencegahan paparan rodensia juga menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan.
Tata laksana bersifat suportif karena belum tersedia terapi antivirus spesifik yang terbukti efektif. Terapi suportif meliputi stabilisasi hemodinamik dengan terapi cairan, pemberian oksigen, serta ventilasi mekanik pada kasus dengan gangguan pernapasan berat. Selain itu, diperlukan pemantauan fungsi ginjal, keseimbangan cairan, dan elektrolit diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.[6,7]
