Diagnosis Hemartrosis
Diagnosis hemartrosis perlu dicurigai pada pasien dengan pembengkakan sendi akut yang terjadi cepat setelah trauma atau tanpa trauma pada individu dengan gangguan perdarahan. Pemeriksaan fisik bisa menunjukkan efusi sendi dengan nyeri dan keterbatasan gerak. Diagnosis bisa dikonfirmasi dengan aspirasi sendi atau pencitraan seperti MRI.[1,3]
Anamnesis
Pada anamnesis, perlu ditanyakan adanya riwayat trauma sendi, tumor sendi, prosedur pembedahan seperti artroplasti lutut, perdarahan berkepanjangan setelah operasi, penggunaan obat antikoagulan, riwayat penyakit hemofilia atau gangguan koagulasi lain, dan riwayat keluarga dengan gangguan perdarahan. Pada sebagian besar pasien tanpa gangguan neurologi atau gangguan koagulasi, riwayat trauma umumnya jelas, dan penyebab hemartrosis dapat disimpulkan dari anamnesis.[1,3,5]
Gejala hemartrosis bervariasi bergantung pada tingkat keparahan perdarahan dan sendi yang terlibat. Pasien umumnya mengeluhkan keterbatasan gerak pada sendi yang terkena, dan kesemutan yang mendahului munculnya nyeri dan pembengkakan sendi. Keterbatasan gerak sendi biasanya disertai rasa berat atau ketidakstabilan sendi, sehingga menyebabkan kesulitan berjalan atau menggunakan sendi tersebut, terutama bila melibatkan sendi lutut.
Munculnya pembengkakan akibat akumulasi darah dalam cairan sinovial biasanya timbul dalam beberapa jam setelah cedera intraartikular, dengan nyeri yang signifikan atau gangguan sensasi minimal. Apabila hemartrosis terjadi secara spontan atau akibat trauma ringan saja, maka perlu dicurigai adanya kelainan perdarahan seperti hemofilia. Meskipun dapat terjadi pada berbagai sendi, lutut merupakan lokasi tersering.[1-3]
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, sendi yang mengalami hemartrosis biasanya tampak bengkak secara nyata atau nampak deformitas, disertai rasa hangat saat diraba, perubahan warna kulit (kemerahan) di sekitar sendi, dan kekakuan atau keterbatasan gerak sendi.
Beberapa lokasi cedera yang lebih sering menimbulkan hemartrosis yaitu fraktur intraartikular pada siku (terutama fraktur caput radii) serta sendi lutut, yang sering terjadi akibat mekanisme putar paksa pada sendi yang menahan beban. Bila perdarahan terjadi pada sendi panggul, perlu diperhatikan adanya risiko peningkatan tekanan intraartikular dan osteonekrosis caput femur.
Sebagian besar kasus hemartrosis pasca trauma di lutut disebabkan oleh cedera ligamen atau meniskus, dengan distribusi sebagai berikut:
Ruptur ACL: ±70% kasus
- Subluksasi/dislokasi patela: 10-15% kasus
- Robekan meniskus: 10% kasus
- Fraktur osteokondral: 2-5% kasus
- Cedera lain (ligamen krusiatum posterior, kapsul sendi): ±5% kasus.[1,3]
Diagnosis Banding
Diagnosis banding hemartrosis mencakup berbagai kondisi yang menimbulkan efusi sendi akut, seperti artritis septik, osteoartritis, dan gout.[1,2]
Artritis Septik
Pada hemartrosis, cairan sinovial berwarna merah darah homogen akibat adanya perdarahan intraartikular. Di lain pihak, pada artritis septik, cairan sinovial tampak keruh atau purulen (kuning-hijau) disertai leukositosis dan kultur bakteri positif.[8]
Gout dan Pseudogout
Gout dan pseudogout ditandai oleh kristal monosodium urat atau kalsium pirofosfat pada pemeriksaan mikroskopis cairan sinovial. Pada hemartrosis, tidak ditemukan kristal urat pada cairan sinovial.[9]
Artritis Reumatoid
Pada artritis reumatoid dan lupus eritematosus sistemik, efusi sendi biasanya bersifat nonhemoragik, dengan disertai penanda autoimun positif seperti faktor reumatoid atau antibodi antinuklear.[10,11]
Osteoartritis
Osteoartritis, juga dapat menimbulkan efusi, namun umumnya terjadi secara kronik dengan nyeri mekanik dan tidak ada darah pada cairan sinovial. Bila efusi sendi terjadi akibat trauma ringan atau tanpa trauma jelas, perlu dicurigai adanya kelainan perdarahan herediter atau didapat seperti hemofilia atau gangguan koagulasi lain.[12]
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk evaluasi kasus hemartrosis yaitu analisis cairan sendi dan pemeriksaan radiologi yang meliputi rontgen (plain radiograph), CT scan, MRI, dan ultrasonografi (USG).[1,3,13]
Rontgen
Radiografi polos adalah pemeriksaan awal yang biasa dilakukan pada sendi yang dicurigai mengalami hemartrosis traumatik. Radiografi polos dapat menilai tulang dan struktur di sekitar tulang. Secara spesifik, radiografi polos dapat menunjukkan pergeseran struktur normal akibat hemartrosis.
Pada sendi siku, dapat ditemukan bantalan lemak anterior dan posterior yang terangkat atau tampak lebih jelas/menonjol. Pada sendi lutut, dapat ditemukan pergeseran anterior pada patela dan tendon kuadrisep. Pada sendi bahu, dapat ditemukan pergeseran humerus ke inferior, menyerupai dislokasi.[1,13]
CT Scan dan MRI
CT scan dan MRI dapat dilakukan sebagai evaluasi lanjutan jika tidak ditemukan kelainan signifikan jaringan lunak pada radiografi polos namun kecurigaan klinis tinggi. Cedera jaringan lunak intraartikular, seperti robekan ligamen atau meniskus, akan nampak lebih jelas pada pemeriksaan MRI.[1,3]
Ultrasonografi (USG)
USG dapat digunakan untuk mengidentifikasi cairan intraartikular. Pada USG, hemartrosis tampak sebagai efusi sendi dengan/tanpa echo internal, tergantung pada lamanya perdarahan, disertai lapisan sel (hematocrit effect).[1,13]
Analisis Cairan Sendi
Artrosentesis atau aspirasi cairan sendi dan analisis cairan sinovial dapat membantu menegakkan diagnosis definitif. Cairan sinovial pada hemartrosis akan tampak merah, merah muda, atau cokelat, bergantung pada penyebab perdarahan. Analisis cairan sinovial dapat membedakan antara efusi sederhana, hemartrosis, lipohemartrosis, atau artritis septik.
Jika aspirat awal tidak berdarah tetapi kemudian muncul darah merah terang saat cairan ditarik, hal ini menandakan hemartrosis traumatik. Cairan pada hemartrosis sejati tidak menggumpal karena adanya fibrinolisis, sedangkan darah akibat aspirasi traumatik akan menggumpal.
Pemeriksaan lebih lanjut dengan sentrifugasi dan observasi supernatan dapat membantu membedakan kedua kondisi tersebut, pada hemartrosis sejati akan terlihat supernatan serosa dengan xanthochromia.[1,14]
Temuan Lipohemartrosis
Lipohemartrosis dapat dideteksi melalui artrosentesis, radiografi polos, CT scan, MRI, dan USG (dalam beberapa kasus). Pada analisis cairan sendi melalui artrosentesis, akan ditemukan globula lemak dalam aspirat yang menunjukkan kebocoran lemak sumsum tulang ke dalam cairan sinovial. Gambaran interface linear antara dua densitas berbeda dalam efusi menandakan lipohemartrosis.
Pada radiografi polos, akan nampak lapisan cairan ganda (lemak-darah), sedangkan pada USG, CT scan, dan MRI akan nampak lapisan tiga cairan (lemak, darah, serum). Temuan ini bersifat spesifik untuk lipohemartrosis.
Temuan lipohemartrosis berkaitan erat dengan adanya fraktur dengan ekstensi intraartikular atau cedera jaringan lunak intraartikular berat seperti kerusakan ligamen atau meniskus, yang memerlukan evaluasi lanjutan dengan CT scan dan MRI.
Bila lipohemartrosis ditemukan pada lutut, kemungkinan diagnosis meliputi fraktur plateau tibia, avulsi spina tibialis, atau fraktur kondilus femur, yang dapat disertai cedera arteri poplitea atau saraf fibularis.[1,4]