Penatalaksanaan Hemartrosis
Penatalaksanaan hemartrosis meliputi imobilisasi sendi, kompres es, elevasi, dan aspirasi darah intraartikular. Koreksi gangguan hemostasis, seperti pemberian faktor VIII pada hemofilia, dapat diperlukan. Intervensi bedah, seperti artroskopi atau sinovektomi, diindikasikan bila terjadi hemartrosis rekuren, adanya bekuan darah besar, atau kerusakan struktur intraartikular signifikan.[1,3]
Penatalaksanaan Umum
Penanganan awal pada setiap kasus hemartrosis akut, terlepas dari penyebabnya, meliputi immobilisasi sendi, kompres es, kompresi, dan elevasi untuk mengontrol perdarahan dan pembengkakan. Analgesik selektif cyclooxygenase (COX)-2 bisa diberikan untuk mengatasi nyeri akibat distensi kapsul sendi, terutama pada fase akut.
Artrosentesis atau aspirasi cairan sendi dapat dilakukan sebagai langkah diagnostik sekaligus terapeutik untuk mengurangi tekanan intraartikular yang menyebabkan nyeri. Artrosentesis terutama diindikasikan pada kasus pembengkakan hebat, nyeri berat, risiko kerusakan neurovaskular ekstremitas, kecurigaan infeksi, dan tidak ada perbaikan dalam 24 jam setelah terapi konservatif.
Pada kasus yang lebih berat seperti sinovitis kronik atau artropati berat, dapat dipertimbangkan intervensi bedah, yaitu penggantian sendi (joint replacement) pada kerusakan sendi lanjut, dan sinovektomi pada perdarahan berulang. Metode sinovektomi yang dapat digunakan antara lain sinovektomi kimia, sinovektomi artroskopik, sinovektomi surgikal (bedah terbuka), atau sinovektomi radioisotopik menggunakan β-emitter (phosphorus-32 atau yttrium-90).[1,3]
Penatalaksanaan Spesifik Berdasarkan Penyebab
Penatalaksanaan hemartrosis dibedakan menjadi dua kelompok besar berdasarkan penyebabnya, yaitu hemartrosis traumatik dan hemartrosis atraumatik.[1,3]
Hemartrosis Traumatik
Tata laksana hemartrosis traumatik berfokus pada menghentikan perdarahan dan mengatasi penyebab struktural yang mendasari, seperti cedera ligamen, meniskus, atau fraktur intraartikular. Artrosentesis dini (<2 hari) setelah perdarahan dapat membantu mengurangi risiko kerusakan tulang rawan jangka panjang dan mencegah osteoartritis, terutama pada pasien anak dan remaja.
Artrosentesis sebaiknya dilakukan pada fase akut (<5 hari). Efektivitas artrosentesis menurun bila dilakukan lebih dari satu minggu setelah perdarahan karena fibrin intraartikular sudah terbentuk.[1,3]
Pada kasus hemartrosis pascaoperasi dapat dilakukan imobilisasi sendi, penghentian sementara (jika ada) obat antikoagulan, dan intervensi bedah (sinovektomi, embolisasi, angioplasti) bila perdarahan berulang. Pendekatan tambahan untuk mengurangi efek merugikan hemartrosis dapat dipertimbangkan, yaitu dengan pemberian agen pengikat besi (iron-chelating agents) atau terapi antioksidan.[2,3]
Hemartrosis Atraumatik
Hemartrosis atraumatik umumnya disebabkan oleh kelainan pembekuan darah seperti hemofilia, gangguan kolagen, terapi antikoagulan, atau kelainan vaskular. Pendekatan utama terapi adalah menghentikan perdarahan dan mengatasi faktor penyebabnya untuk mencegah kerusakan sendi permanen.[1,3]
Hemartrosis pada Hemofilia:
Pemberian faktor koagulasi spesifik pada hemofilia harus dilakukan sesegera mungkin, idealnya dalam waktu 2 jam sejak tanda pertama hemartrosis teridentifikasi, termasuk pada fase prodromal yang ditandai kekakuan atau rasa kesemutan, sebelum timbul nyeri dan pembengkakan.
Untuk hemartrosis pada sendi panggul, target joint (sendi yang rentan terhadap perdarahan berulang dan mengalami proses destruktif progresif), atau perdarahan yang berhubungan dengan trauma, kadar faktor koagulasi perlu ditingkatkan hingga 80%-100%, dengan pemberian faktor VIII 50 unit/kg berat badan untuk hemofilia A, dan pemberian faktor IX 100-120 unit/kg berat badan untuk hemofilia B.
Untuk hemartrosis pada sendi perifer seperti lutut, siku, atau pergelangan kaki, kadar faktor koagulasi perlu dinaikkan minimal hingga 40%-50%, dengan dosis faktor VIII 25 unit/kg berat badan untuk hemofilia A, dan dosis faktor IX 50–60 unit/kg berat badan untuk hemofilia B.[1,3,5]
Artrosentesis dilakukan bila perdarahan berat dan menyebabkan distensi sendi. Tindakan artrosentesis hanya boleh dilakukan setelah kadar faktor pembekuan mencapai target aman. Sinovektomi dapat dilakukan pada hemartrosis berulang akibat sinovitis kronik, untuk mengurangi frekuensi perdarahan, meski tidak sepenuhnya mencegah artropati sekunder.[1,5]
Untuk mengontrol nyeri, dapat diberikan analgesik selektif COX-2 yang dinilai lebih aman, sedangkan non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID) sebaiknya dihindari karena efek antiplatelet yang dapat memperburuk perdarahan. Pada pasien hemofilia dengan sinovitis berulang (target joint), pemberian glukokortikoid jangka pendek dapat membantu mengurangi nyeri dan inflamasi, dengan syarat tidak ada tanda infeksi sendi.[1,3,5]
Penyebab Non-Hemofilik:
Pada kasus neoplasma jinak seperti pigmented villonodular synovitis atau tenosynovial giant cell tumor, dapat dilakukan sinovektomi untuk mencegah perdarahan berulang. Pada tumor jinak sendi, dapat dilakukan sinovektomi artroskopik atau surgikal untuk mencegah kekambuhan.
Pada perdarahan akibat aneurisma intraartikular dapat dilakukan embolisasi arteri atau intervensi bedah vaskular. Pada pasien yang menjalani terapi antikoagulan, hemartrosis signifikan jarang terjadi. Jika muncul dan bersifat persisten, dapat dipertimbangkan artrosentesis, dilanjutkan dengan reversal antikoagulan atau pemberian plasma segar beku (fresh frozen plasma).[1,3]
Rehabilitasi
Setelah perdarahan sendi teratasi, pasien dianjurkan menjalani program rehabilitasi yang bertujuan meningkatkan rentang gerak (ROM), kemampuan menopang beban, serta mengoptimalkan kekuatan otot sekitar sendi. Pasien dianjurkan untuk istirahat, menggunakan kruk atau arm sling bila perlu, guna mengurangi beban pada sendi tanpa menyebabkan atrofi otot.
Fisioterapi dilakukan untuk memulihkan mobilitas, kekuatan otot, serta mencegah kontraktur akibat imobilisasi yang terlalu lama. Pasien hemartrosis dengan hemofilia perlu ditangani oleh fisioterapis yang memiliki keahlian khusus mengingat adanya kebutuhan dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan risiko perdarahan berulang.[1,5]
Rujukan
Pendekatan tata laksana hemartrosis perlu dilakukan secara interprofesional, melibatkan dokter spesialis ortopedi, hematologi, fisioterapis, serta tenaga medis lainnya. Pada hemartrosis fase akut, apabila terdapat bukti atau kecurigaan tinggi terhadap fraktur intraartikular maupun cedera jaringan lunak seperti robekan ligamen, kapsul, atau meniskus, perlu dilakukan rujukan konsultasi ke dokter spesialis ortopedi.
Meskipun tidak semua kasus fraktur intraartikular atau cedera jaringan lunak memerlukan tindakan operasi, hasil pemeriksaan radiologi dan kondisi klinis pasien perlu didiskusikan dengan dokter ortopedi untuk menentukan langkah tata laksana yang tepat. Kolaborasi interpersonal dalam pendekatan tata laksana penting dalam memulihkan kekuatan otot, koordinasi, dan fungsi neuromuskular yang optimal, sekaligus mendukung kesehatan tulang serta menjaga berat badan ideal pasien.[1,3]