Pendahuluan Hemartrosis
Hemartrosis adalah kondisi perdarahan di dalam ruang sendi. Perdarahan pada hemartrosis dapat disebabkan oleh cedera traumatik seperti trauma saat olahraga, jatuh, kecelakaan, dan pascaoperasi. Penyebab lain adalah penyebab atraumatik seperti gangguan koagulasi, hemofilia, gangguan neurologi, infeksi sendi, gangguan vaskular, dan neoplasma sendi.
Pada hemartrosis terjadi kerusakan pembuluh darah intraartikular yang mengakibatkan darah masuk dan terkumpul di ruang sendi. Predileksi sendi yang paling sering mengalami hemartrosis adalah bahu dan lutut, tetapi dapat juga terjadi di sendi siku, sendi panggul, dan pergelangan kaki.[1,2]
Secara klinis, pasien umumnya mengeluhkan keterbatasan gerak sendi yang terkena, kesemutan atau gangguan sensasi, nyeri, dan pembengkakan sendi. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan bengkak sendi, deformitas sendi, rasa hangat saat diraba, perubahan warna kulit (kemerahan) di sekitar sendi, dan kekakuan atau keterbatasan gerak sendi. Gangguan koagulasi, seperti hemofilia, perlu dipikirkan pada pasien dengan hemartrosis berulang.
Pemeriksaan penunjang seperti radiografi, CT scan, MRI, ultrasonografi (USG) dapat dilakukan untuk mengarahkan diagnosis dan mencari kelainan sendi lainnya seperti fraktur atau ruptur ligamen. Konfirmasi diagnosis pasti hemartrosis ditegakkan melalui analisis cairan sinovial.[1,3]
Secara umum, tata laksana awal hemartrosis meliputi immobilisasi sendi, kompres es, kompresi dan elevasi, serta pemberian analgesik. Artrosentesis dapat dilakukan sebagai langkah diagnostik sekaligus terapeutik. Intervensi bedah (sinovektomi atau penggantian sendi) dapat dilakukan jika terapi konservatif tidak memberikan hasil yang memadai.[1,3]
Secara khusus, tata laksana hemartrosis bergantung pada penyebab dasarnya. Pada hemartrosis traumatik, tata laksana difokuskan pada evaluasi struktural dan kontrol nyeri akut. Pada hemartrosis atraumatik, tata laksana diutamakan pada koreksi kelainan sistemik dan pencegahan perdarahan berulang. Secara garis besar, tujuan akhir tata laksana adalah menghentikan perdarahan, mempertahankan fungsi sendi, dan mencegah komplikasi.[1-3]
