Epidemiologi Hemartrosis
Data epidemiologi menunjukkan bahwa hemartrosis terjadi paling banyak pada penderita hemofilia. Selain itu, hemartrosis pada lutut paling banyak berkaitan dengan cedera anterior cruciate ligament (ACL).[1,5]
Global
Prevalensi hemartrosis dalam populasi umum belum dapat ditentukan secara pasti, namun dilaporkan bahwa sekitar 50% penderita hemofilia dapat mengalami hemartrosis setidaknya sekali dalam hidup mereka. Trauma sendi diketahui meningkatkan kemungkinan terjadinya hemartrosis pada populasi ini. Hemartrosis dilaporkan terjadi pada 75-90% pasien dengan hemofilia berat (aktivitas faktor normal <1%), dengan serangan pertama biasanya muncul pada usia 2-3 tahun.[1,5]
Berdasarkan sebuah studi kohort terhadap 1.145 pasien yang mengalami hemartrosis pada lutut, sekitar setengah dari kasus tersebut disertai cedera anterior cruciate ligament (ACL). Pada kelompok usia 16 tahun atau lebih muda, dislokasi patela lateral merupakan cedera struktural yang paling sering ditemukan pada kasus hemartrosis traumatik lutut, baik pada anak laki-laki (39%) maupun anak perempuan (43%).[1,3]
Indonesia
Data epidemiologi nasional mengenai hemartrosis di Indonesia belum tersedia.
Mortalitas
Hemartrosis tidak menyebabkan kematian secara langsung. Hemartrosis lebih menyebabkan morbiditas akibat kondisi yang mendasari seperti hemofilia, gangguan koagulasi lain, infeksi sendi, atau penyakit penyerta lain.
Risiko kematian lebih berkaitan dengan komplikasi dari kondisi terkait, seperti perdarahan sistemik, komplikasi vaskular, koagulopati berat, atau sepsis pada infeksi sendi. Oleh karena itu, dalam penatalaksanaan hemartrosis perlu diperhatikan pencegahan komplikasi kondisi penyerta yang dapat berisiko fatal.[1,5,8]