Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Indikasi dan Dosis Paromomycin annisa-meidina 2026-10-15T10:13:21+07:00 2026-10-15T10:13:21+07:00
Paromomycin
  • Pendahuluan
  • Farmakologi
  • Formulasi
  • Indikasi dan Dosis
  • Efek Samping dan Interaksi Obat
  • Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui
  • Kontraindikasi dan Peringatan
  • Pengawasan Klinis

Indikasi dan Dosis Paromomycin

Oleh :
dr. Lina Yohanes, Sp.FK
Share To Social Media:

Indikasi paromomycin adalah untuk terapi amebiasis, giardiasis, leishmaniasis, ensefalopati hepatik, dan kriptosporidiosis. Dosis yang biasa digunakan adalah 25-35 mg/kg/hari, dibagi dalam tiga dosis, digunakan selama 5-10 hari.[1,11]

Amebiasis

Pada amebiasis yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica, paromomycin diindikasikan untuk mengobati amebiasis intestinal akut maupun kronis. Paromomycin terutama digunakan sebagai amebisida luminal untuk mengeradikasi kista yang berada di lumen usus.

Paromomycin dapat menjadi pilihan utama pada pasien tanpa gejala yang hanya membawa kista (asymptomatic cyst passers), termasuk pasien anak dan ibu hamil, tetapi tidak efektif jika digunakan sendiri untuk amebiasis ekstraintestinal, seperti abses hati amebik. Pada kondisi tersebut, paromomycin diberikan setelah amebisida jaringan seperti metronidazole atau tinidazole untuk memastikan eradikasi trofozoit jaringan sekaligus kista intestinal.[1,11]

Dosis

Dosis paromomycin untuk dewasa maupun anak-anak adalah 25–35 mg/kg per hari secara oral, dibagi menjadi 3 dosis, diberikan selama 5–10 hari. Durasi yang umumnya digunakan adalah 7 hari.

Untuk amebiasis intestinal simptomatik maupun penyakit ekstraintestinal, termasuk abses hati, dosis tersebut digunakan sebagai terapi lanjutan setelah pemberian metronidazole atau tinidazole. Sementara itu, pada amebiasis intestinal asimtomatik dosisnya sama dan dapat diberikan sebagai terapi luminal.[1,11]

Giardiasis (Off Label)

Pada giardiasis yang disebabkan oleh Giardia duodenalis (juga dikenal sebagai G. lamblia atau G. intestinalis), paromomycin digunakan sebagai terapi alternatif secara off-label.

Obat pilihan utama untuk giardiasis adalah metronidazole, tinidazole, atau nitazoxanide, sedangkan paromomycin dapat menjadi alternatif karena absorpsinya dari saluran gastrointestinal sangat rendah. Karakteristik farmakologi ini dapat membuat paromomycin berguna pada pasien hamil, meskipun efektivitasnya mungkin lebih rendah dibandingkan beberapa obat pilihan utama.[1,11]

Dosis

Dosis paromomycin untuk dewasa maupun anak-anak adalah 25–35 mg/kgBB per hari secara oral, dibagi menjadi 3 dosis, diberikan selama 5–10 hari. Penggunaan ini diberikan untuk mengatasi infeksi Giardia di saluran gastrointestinal, dengan pemilihan durasi terapi disesuaikan dengan respons klinis dan kondisi pasien.[1,11]

Leishmaniasis (Off Label)

Pada leishmaniasis kutan, paromomycin digunakan secara topikal sebagai terapi off-label, umumnya dalam kombinasi dengan methylbenzethonium chloride. Penggunaannya terutama dipertimbangkan pada daerah dengan spesies Leishmania yang memiliki risiko rendah menyebar ke mukosa, karena terapi topikal tidak dapat mengatasi infeksi pada kelenjar limfe maupun mencegah penyakit mukosa apabila penyebaran telah terjadi.

Dosis pada dewasa maupun anak-anak adalah sediaan paromomycin 15% + methylbenzethonium chloride 12% dalam white petrolatum, dioleskan 2 kali sehari selama 10–20 hari. Pada leishmaniasis recidivans, terapi dapat diperpanjang hingga sekitar 3 bulan. Perlu diketahui bahwa sediaan topikal tidak ada di Indonesia.

Pada leishmaniasis visceral, paromomycin telah digunakan secara intramuskuler (IM) sebagai salah satu pilihan terapi alternatif, selain obat seperti amphotericin B dan miltefosine. Dosis paromomycin untuk dewasa maupun anak-anak adalah 11–20 mg/kg sekali sehari secara IM selama 10–21 hari. Perlu diketahui bahwa sediaan injeksi tidak ada di Indonesia.[1,11]

Ensefalopati Hepatik (Off Label)

Pada ensefalopati hepatik, paromomycin pernah digunakan sebagai adjuvan dalam penatalaksanaan koma hepatik, dengan tujuan membantu mengendalikan faktor intestinal yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Namun, paromomycin bukan merupakan terapi pilihan maupun alternatif yang direkomendasikan, karena saat ini laktulosa dan beberapa obat lain seperti rifaximin lebih umum digunakan dalam penatalaksanaan ensefalopati hepatik.[1,11]

Dosis

Untuk dewasa, dosis paromomycin pada kondisi ini adalah 4 gram per hari secara oral dalam dosis terbagi, yang diberikan selama 5–6 hari. Penggunaannya bersifat terbatas dan sebaiknya dipertimbangkan hanya sebagai terapi tambahan.[1,11]

Kriptosporidiosis (Off Label)

Pada kriptosporidiosis, paromomycin digunakan secara off-label, terutama untuk infeksi Cryptosporidium parvum pada pasien imunokompromais, termasuk pasien dengan infeksi HIV, baik sebagai terapi tunggal maupun dikombinasikan dengan azithromycin atau nitazoxanide.

Namun, paromomycin tidak dapat diandalkan untuk mengeradikasi Cryptosporidium secara menyeluruh dan umumnya hanya membantu menekan infeksi. Pada pasien HIV, penatalaksanaan utama tetap berupa terapi antiretroviral untuk memulihkan fungsi imun, disertai rehidrasi, penggantian elektrolit, dan terapi simptomatik diare.[1]

Dosis

Pada anak-anak, dosis paromomycin 25–35 mg/kg per hari secara oral, dibagi dalam 2–4 dosis, diberikan selama 14 hari. Obat digunakan terutama pada pasien imunokompromais atau penyakit yang tidak responsif terhadap nitazoxanide.

Pada dewasa dengan HIV, dosis paromomycin 500 mg secara oral 4 kali sehari selama ≥14–21 hari, sementara regimen 1,5–2,25 g per hari dalam 3–6 dosis terbagi, diberikan selama 10–14 hari pernah digunakan. Pada beberapa kasus, terapi yang lebih lama, hingga 4–8 minggu, mungkin diperlukan.[1]

Referensi

1. ASHP. Paromomycin (Monograph). 2026. https://www.drugs.com/monograph/paromomycin.html
11. Medscape. Paromomycin. 2026. https://reference.medscape.com/drug/humatin-paromomycin-342665#6

Formulasi Paromomycin
Efek Samping dan Interaksi Obat ...

Artikel Terkait

  • Pedoman Penanganan Gastroenteritis dari IDSA 2017 dan Penerapannya di Indonesia
    Pedoman Penanganan Gastroenteritis dari IDSA 2017 dan Penerapannya di Indonesia
  • Gastroenteritis Akut pada Anak – Panduan E-Prescription Alomedika
    Gastroenteritis Akut pada Anak – Panduan E-Prescription Alomedika
Diskusi Terbaru
Anonymous
Dibalas 10 jam yang lalu
Konsul wanita umur 47 th keluhan menstruasi sudah lebih 1 bulan dan deras
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Siang dokterIzin konsul wanita umur 47th keluhan menstruasi sudah lebih 1bln sudah minum obat regumen , haid berenti tetapi abis obat 5hr haid nya deras...
dr. ALOMEDIKA
Dibalas 16 jam yang lalu
Trending! TOP 5 Artikel di Bulan Oktober 2026 🧐
Oleh: dr. ALOMEDIKA
1 Balasan
ALO Dokter!  Segera update pengetahuan Anda dengan artikel medis terpopuler bulan Oktober di ALOMEDIKA.  1. Tata Laksana Kritis Pes Pneumonia: Pembelajaran...
Anonymous
Dibalas 18 jam yang lalu
Lokasi suntikan vaksin apakah bisa di otot perut
Oleh: Anonymous
1 Balasan
apakah boleh melakukan penyuntikan vaksin influenza di otot perut?

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.