Indikasi dan Dosis Paromomycin
Indikasi paromomycin adalah untuk terapi amebiasis, giardiasis, leishmaniasis, ensefalopati hepatik, dan kriptosporidiosis. Dosis yang biasa digunakan adalah 25-35 mg/kg/hari, dibagi dalam tiga dosis, digunakan selama 5-10 hari.[1,11]
Amebiasis
Pada amebiasis yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica, paromomycin diindikasikan untuk mengobati amebiasis intestinal akut maupun kronis. Paromomycin terutama digunakan sebagai amebisida luminal untuk mengeradikasi kista yang berada di lumen usus.
Paromomycin dapat menjadi pilihan utama pada pasien tanpa gejala yang hanya membawa kista (asymptomatic cyst passers), termasuk pasien anak dan ibu hamil, tetapi tidak efektif jika digunakan sendiri untuk amebiasis ekstraintestinal, seperti abses hati amebik. Pada kondisi tersebut, paromomycin diberikan setelah amebisida jaringan seperti metronidazole atau tinidazole untuk memastikan eradikasi trofozoit jaringan sekaligus kista intestinal.[1,11]
Dosis
Dosis paromomycin untuk dewasa maupun anak-anak adalah 25–35 mg/kg per hari secara oral, dibagi menjadi 3 dosis, diberikan selama 5–10 hari. Durasi yang umumnya digunakan adalah 7 hari.
Untuk amebiasis intestinal simptomatik maupun penyakit ekstraintestinal, termasuk abses hati, dosis tersebut digunakan sebagai terapi lanjutan setelah pemberian metronidazole atau tinidazole. Sementara itu, pada amebiasis intestinal asimtomatik dosisnya sama dan dapat diberikan sebagai terapi luminal.[1,11]
Giardiasis (Off Label)
Pada giardiasis yang disebabkan oleh Giardia duodenalis (juga dikenal sebagai G. lamblia atau G. intestinalis), paromomycin digunakan sebagai terapi alternatif secara off-label.
Obat pilihan utama untuk giardiasis adalah metronidazole, tinidazole, atau nitazoxanide, sedangkan paromomycin dapat menjadi alternatif karena absorpsinya dari saluran gastrointestinal sangat rendah. Karakteristik farmakologi ini dapat membuat paromomycin berguna pada pasien hamil, meskipun efektivitasnya mungkin lebih rendah dibandingkan beberapa obat pilihan utama.[1,11]
Dosis
Dosis paromomycin untuk dewasa maupun anak-anak adalah 25–35 mg/kgBB per hari secara oral, dibagi menjadi 3 dosis, diberikan selama 5–10 hari. Penggunaan ini diberikan untuk mengatasi infeksi Giardia di saluran gastrointestinal, dengan pemilihan durasi terapi disesuaikan dengan respons klinis dan kondisi pasien.[1,11]
Leishmaniasis (Off Label)
Pada leishmaniasis kutan, paromomycin digunakan secara topikal sebagai terapi off-label, umumnya dalam kombinasi dengan methylbenzethonium chloride. Penggunaannya terutama dipertimbangkan pada daerah dengan spesies Leishmania yang memiliki risiko rendah menyebar ke mukosa, karena terapi topikal tidak dapat mengatasi infeksi pada kelenjar limfe maupun mencegah penyakit mukosa apabila penyebaran telah terjadi.
Dosis pada dewasa maupun anak-anak adalah sediaan paromomycin 15% + methylbenzethonium chloride 12% dalam white petrolatum, dioleskan 2 kali sehari selama 10–20 hari. Pada leishmaniasis recidivans, terapi dapat diperpanjang hingga sekitar 3 bulan. Perlu diketahui bahwa sediaan topikal tidak ada di Indonesia.
Pada leishmaniasis visceral, paromomycin telah digunakan secara intramuskuler (IM) sebagai salah satu pilihan terapi alternatif, selain obat seperti amphotericin B dan miltefosine. Dosis paromomycin untuk dewasa maupun anak-anak adalah 11–20 mg/kg sekali sehari secara IM selama 10–21 hari. Perlu diketahui bahwa sediaan injeksi tidak ada di Indonesia.[1,11]
Ensefalopati Hepatik (Off Label)
Pada ensefalopati hepatik, paromomycin pernah digunakan sebagai adjuvan dalam penatalaksanaan koma hepatik, dengan tujuan membantu mengendalikan faktor intestinal yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Namun, paromomycin bukan merupakan terapi pilihan maupun alternatif yang direkomendasikan, karena saat ini laktulosa dan beberapa obat lain seperti rifaximin lebih umum digunakan dalam penatalaksanaan ensefalopati hepatik.[1,11]
Dosis
Untuk dewasa, dosis paromomycin pada kondisi ini adalah 4 gram per hari secara oral dalam dosis terbagi, yang diberikan selama 5–6 hari. Penggunaannya bersifat terbatas dan sebaiknya dipertimbangkan hanya sebagai terapi tambahan.[1,11]
Kriptosporidiosis (Off Label)
Pada kriptosporidiosis, paromomycin digunakan secara off-label, terutama untuk infeksi Cryptosporidium parvum pada pasien imunokompromais, termasuk pasien dengan infeksi HIV, baik sebagai terapi tunggal maupun dikombinasikan dengan azithromycin atau nitazoxanide.
Namun, paromomycin tidak dapat diandalkan untuk mengeradikasi Cryptosporidium secara menyeluruh dan umumnya hanya membantu menekan infeksi. Pada pasien HIV, penatalaksanaan utama tetap berupa terapi antiretroviral untuk memulihkan fungsi imun, disertai rehidrasi, penggantian elektrolit, dan terapi simptomatik diare.[1]
Dosis
Pada anak-anak, dosis paromomycin 25–35 mg/kg per hari secara oral, dibagi dalam 2–4 dosis, diberikan selama 14 hari. Obat digunakan terutama pada pasien imunokompromais atau penyakit yang tidak responsif terhadap nitazoxanide.
Pada dewasa dengan HIV, dosis paromomycin 500 mg secara oral 4 kali sehari selama ≥14–21 hari, sementara regimen 1,5–2,25 g per hari dalam 3–6 dosis terbagi, diberikan selama 10–14 hari pernah digunakan. Pada beberapa kasus, terapi yang lebih lama, hingga 4–8 minggu, mungkin diperlukan.[1]