Pengawasan Klinis Paromomycin
Pengawasan klinis pada pasien yang mendapat paromomycin mencakup evaluasi respons terhadap terapi dan munculnya efek samping, khususnya keluhan gastrointestinal seperti mual, kram atau nyeri abdomen, dan diare.[1-3,11]
Respons Terapi
Pemantauan selama terapi perlu mencakup respons terhadap terapi, seperti perbaikan gejala infeksi, frekuensi dan konsistensi diare, nyeri atau kram abdomen, demam, serta tanda-tanda infeksi yang menetap atau memburuk.[1-3]
Pemantauan Efek Samping
Efek samping gastrointestinal seperti mual, muntah, kram abdomen, dan diare bisa terjadi. Selain itu, meskipun sebagian besar paromomycin oral tidak diserap secara sistemik, absorpsi dapat meningkat jika terdapat kerusakan mukosa intestinal. Pada pasien yang memiliki lesi atau ulkus intestinal, gangguan ginjal, atau kondisi lain yang berpotensi meningkatkan absorpsi sistemik, pemantauan fungsi ginjal dapat dipertimbangkan untuk mendeteksi nefrotoksisitas secara dini.
Selain itu, perlu dilakukan pemantauan terhadap ototoksisitas dan efek neuromuskular, terutama pada pasien dengan faktor risiko. Pasien dapat ditanyakan secara berkala mengenai munculnya tinnitus, penurunan pendengaran, rasa penuh pada telinga, pusing, atau gangguan keseimbangan.
Pada pasien dengan varian MT-RNR1 yang diketahui meningkatkan risiko ototoksisitas akibat aminoglikosida, pemantauan fungsi pendengaran selama dan setelah terapi mungkin perlu dilakukan secara lebih ketat. Pada populasi pasien ini, penggunaan aminoglikosida sebaiknya dihindari.
Pemantauan klinis juga dapat mencakup tanda-tanda superinfeksi, misalnya munculnya infeksi baru atau infeksi jamur, serta evaluasi keberhasilan eradikasi organisme penyebab sesuai indikasi. Jika terapi tidak memberikan respons yang diharapkan, evaluasi ulang diagnosis, kepatuhan pasien, kemungkinan resistensi, dan bila diperlukan dapat dilakukan kultur serta uji sensitivitas.[1-3]