Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Indikasi dan Dosis Moxifloxacin general_alomedika 2026-08-25T17:30:57+07:00 2026-08-25T17:30:57+07:00
Moxifloxacin
  • Pendahuluan
  • Farmakologi
  • Formulasi
  • Indikasi dan Dosis
  • Efek Samping dan Interaksi Obat
  • Penggunaan Pada Kehamilan dan Ibu Menyusui
  • Kontraindikasi dan Peringatan
  • Pengawasan Klinis

Indikasi dan Dosis Moxifloxacin

Oleh :
dr. Reren Ramanda
Share To Social Media:

Indikasi moxifloxacin adalah terapi infeksi bakteri spektrum luas, yang efektif terhadap bakteri gram positif, bakteri gram negatif, dan patogen atipikal. Obat ini umumnya diberikan pada keadaan pneumonia, sinusitis bakterial akut, bronkitis kronik dengan eksaserbasi bakterial akut, infeksi kulit, dan infeksi intraabdomen.

Bakteri yang sensitif terhadap moxifloxacin antara lain adalah:

  • Gram positif: Corynebacterium spp., Micrococcus luteus, Staphylococcus aureus, S. epidermidis, S. haemolyticus, S. hominis, S. warneri, Streptococcus pneumoniae, viridans streptococci

  • Gram negatif: Acinetobacter lwoffii, Haemophilus influenzae, dan Parainfluenzae

  • Lainnya: Chlamydia trachomatis.[2,3]

Dosis

Dosis moxifloxacin yang dianjurkan, baik melalui rute per oral dan intravena, adalah 400 mg tiap 24 jam. Sediaan intravena diberikan pada pasien yang tidak memungkinkan untuk diberikan terapi per oral.[3,5,9,11]

Sinusitis Bakterial Akut

Dosis moxifloxacin yang diberikan pada sinusitis adalah 400 mg, dapat diberikan per oral ataupun intravena tiap 24 jam, selama 5-10 hari. Moxifloxacin sebaiknya diberikan bila tidak ada alternatif terapi sinusitis lain bagi pasien.[3,5,9,11]

Bronkitis Kronik dengan Eksaserbasi Bakterial Akut

Moxifloxacin diindikasikan pada kondisi bronkitis kronik eksaserbasi akut akibat infeksi bakteri. Dosis yang diberikan adalah 400 mg per oral maupun intravena tiap 24 jam, selama 5 hari.[3,5,9,11]

Infeksi Kulit

Pada infeksi kulit tanpa komplikasi, dosis moxifloxacin yang diberikan adalah 400 mg per oral atau intravena tiap 24 jam, selama 7 hari. Pada infeksi kulit dengan komplikasi, dosis pemberian diperpanjang menjadi 7-21 hari.[3,5,9,11]

Pneumonia

Pada pneumonia, moxifloxacin dapat diberikan dengan dosis 400 mg per oral atau intravena, tiap 24 jam, selama 7-14 hari. Rerata lamanya terapi adalah 10 hari.[3,13]

Infeksi Intraabdomen

Dosis moxifloxacin yang diberikan adalah 400 mg, per oral atau intravena, tiap 24 jam, selama 5-14 hari.[3,5,9,11]

Konjungtivitis Bakterialis

Pada konjungtivitis bakterial, teteskan 1 tetes larutan moxifloxacin tetes mata 0,5% pada bagian mata yang sakit sebanyak tiga kali sehari, selama 7 hari.[9]

Penyakit Radang Panggul

Pada penyakit radang panggul, moxifloxacin per oral diberikan bersama antibiotik lain, dengan dosis 400 mg tiap 24 jam, selama 14 hari.[9]

Tuberkulosis Resisten Obat

Pada kasus tuberkulosis resisten obat, moxifloxacin digunakan dalam regimen kombinasi BpaLM (bedaquiline, pretomanid, linezolid, dan moxifloxacin). Dalam regimen tersebut, moxifloxacin digunakan dalam dosis 400 mg, sekali sehari, diberikan selama 6 bulan.[12]

Penyesuaian Dosis pada Geriatri

Penyesuaian dosis moxifloxacin tidak diperlukan pada pasien lanjut usia karena studi farmakokinetik menunjukkan bahwa usia tidak memberikan pengaruh bermakna terhadap absorpsi, distribusi, maupun eliminasi obat.

Meski demikian, penggunaan moxifloxacin pada populasi geriatri memerlukan kehati-hatian karena kelompok ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami efek samping serius yang terkait dengan fluoroquinolone, seperti tendinitis dan ruptur tendon, terutama jika digunakan bersamaan dengan kortikosteroid.

Selain itu, pasien lanjut usia lebih rentan mengalami pemanjangan interval QT serta peningkatan risiko aneurisma dan diseksi aorta, sehingga penggunaan moxifloxacin sebaiknya dihindari pada pasien dengan faktor risiko aritmia atau yang sedang menerima obat lain yang juga memperpanjang interval QT.[3]

Penyesuaian Dosis pada Insufisiensi Ginjal

Moxifloxacin tidak memerlukan penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan ginjal ringan, sedang, berat, maupun penyakit ginjal stadium akhir, termasuk pasien yang menjalani hemodialisis (HD) atau continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD). Perubahan farmakokinetik yang terjadi pada pasien dengan gangguan ginjal relatif kecil dan tidak dianggap bermakna secara klinis.

Meskipun beberapa metabolit moxifloxacin, terutama konjugat sulfat (M1) dan glukuronida (M2), dapat mengalami peningkatan kadar pada pasien dengan gangguan ginjal, metabolit tersebut tidak memiliki aktivitas antimikroba. Selain itu, prosedur HD maupun CAPD hanya menghilangkan sebagian kecil moxifloxacin dari tubuh, sehingga tidak diperlukan dosis tambahan setelah dialisis.[3]

Penyesuaian Dosis pada Insufisiensi Hati

Pada pasien dengan insufisiensi hati ringan hingga berat (Child-Pugh A, B, maupun C), penyesuaian dosis moxifloxacin juga tidak direkomendasikan. Studi farmakokinetik menunjukkan bahwa paparan sistemik moxifloxacin pada pasien dengan gangguan hati ringan dan sedang relatif serupa dengan individu sehat, sehingga perubahan dosis tidak diperlukan.

Namun, karena gangguan fungsi hati dapat disertai perubahan metabolik yang meningkatkan kecenderungan terjadinya pemanjangan interval QT, penggunaan moxifloxacin pada pasien dengan penyakit hati harus dilakukan secara hati-hati. Pemantauan klinis dan elektrokardiografi dapat dipertimbangkan pada pasien dengan faktor risiko aritmia.[3]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

2. PubChem. Bethesda (MD): National Library of Medicine (US), National Center for Biotechnology Information; 2026. PubChem Compound Summary for CID 152946, Moxifloxacin. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Moxifloxacin
3. FDA. Highlights of prescribing information: Avelox (Moxifloxacin). 2025. https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2025/021085s069,021277s065lbl.pdf
5. Medscape. Moxifloxacin. 2026. https://reference.medscape.com/drug/avelox-moxifloxacin-systemic-moxifloxacin-342537
9. MIMS. Moxifloxacin. 2026. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/moxifloxacin/
11. ASHP. Moxifloxacin. 2026. https://www.drugs.com/monograph/moxifloxacin.html
12. World Health Organization (WHO). WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 4: Treatment and care. 2025.
13. Kuzman I, Bezlepko A, Kondova Topuzovska I, Rókusz L, Iudina L, Marschall HP, Petri T. Efficacy and safety of moxifloxacin in community acquired pneumonia: a prospective, multicenter, observational study (CAPRIVI). BMC Pulm Med. 2014 Jun 30;14:105.

Formulasi Moxifloxacin
Efek Samping dan Interaksi Obat ...

Artikel Terkait

  • Tata Laksana Febrile Neutropenia Pasca Kemoterapi
    Tata Laksana Febrile Neutropenia Pasca Kemoterapi
  • Obat Baru Untuk Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat
    Obat Baru Untuk Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat
  • Antibiotik Oral vs Kombinasi Antibiotik Oral dan Intravena untuk Terapi Appendicitis Akut Tanpa Komplikasi – Telaah Jurnal
    Antibiotik Oral vs Kombinasi Antibiotik Oral dan Intravena untuk Terapi Appendicitis Akut Tanpa Komplikasi – Telaah Jurnal
  • Manfaat dan Pilihan Antibiotik Profilaksis untuk Penyakit Paru Obstruksi Kronik
    Manfaat dan Pilihan Antibiotik Profilaksis untuk Penyakit Paru Obstruksi Kronik
  • Menelaah Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Tuberkulosis 2019
    Menelaah Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Tuberkulosis 2019

Lebih Lanjut

Diskusi Terbaru
Anonymous
Dibalas kemarin, 14:25
Cikunguyah
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Sore dok izin diskusiSaya kedatangan pasien permepuan usia 36 thn mengeluhkan 3 minggu yang lalu sempat demam ± 3hari ( sekarang sdh tdk demam) di sertai...
dr.Elizabeth Anastasya
Dibalas 26 Agustus 2026, 14:12
Ikuti e-Course ber SKP Kemenkes - Infeksi Soil-Transmitted Helminth dan Protozoa
Oleh: dr.Elizabeth Anastasya
1 Balasan
ALO Dokter! Link daftar: https://www.alomedika.com/ecourse/infeksi-soil-transmitted-helminth-dan-protozoa-usus  Link LMS:...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 24 Agustus 2026, 13:10
Acne bukan sekadar masalah kulit! Ikuti e-Course Update Terkini Acne Vulgaris: Dari Skincare hingga Terapi Sistemik
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
1 Balasan
ALO Dokter!Acne bukan sekadar masalah kulit— terapi terbaru dapat mengubah cara Anda memilih kombinasi terapi untuk setiap pasien.Segera daftar dan ikuti...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.