Farmakologi Moxifloxacin
Secara farmakologi, moxifloxacin adalah antibiotik spektrum luas yang merupakan inhibitor DNA girase dan topoisomerase.[3]
Farmakodinamik
Moxifloxacin merupakan antibiotik golongan fluoroquinolone yang bekerja secara bakterisidal melalui penghambatan dua enzim penting bakteri, yaitu topoisomerase II (DNA gyrase) dan topoisomerase IV. Kedua enzim ini berperan dalam proses replikasi, transkripsi, perbaikan, dan rekombinasi DNA bakteri.
Inhibisi terhadap DNA gyrase mengganggu proses pelipatan dan pemisahan untai DNA selama replikasi, sedangkan inhibisi topoisomerase IV menghambat pemisahan kromosom DNA yang telah bereplikasi. Akibatnya, sintesis DNA bakteri terganggu sehingga pertumbuhan dan kelangsungan hidup bakteri tidak dapat dipertahankan, yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel bakteri.
Selain aktivitas antimikroba yang luas, moxifloxacin memiliki profil fototoksisitas yang rendah dibandingkan beberapa fluoroquinolone lain. Dalam studi pada sukarelawan sehat, pemberian moxifloxacin dosis 200 mg maupun 400 mg sekali sehari tidak menurunkan minimum erythematous dose (MED) secara bermakna dibandingkan plasebo setelah paparan sinar ultraviolet A (UVA), ultraviolet B (UVB), dan cahaya tampak.[2,3]
Farmakokinetik
Aspek farmakokinetik moxifloxacin yang diberikan per oral sangat baik. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh adanya makanan tinggi lemak.[2,3]
Absorpsi
Moxifloxacin yang diberikan per oral dapat diabsorpsi dengan baik. Bioavailabilitas absolut moxifloxacin mencapai 90%.
Pemberian bersama makanan tinggi lemak (500 kalori dari lemak) tidak mempengaruhi proses absorpsi moxifloxacin. Jika diminum bersama segelas yogurt, absorpsi juga tidak terpengaruh secara signifikan.
Konsentrasi obat di plasma meningkat secara proporsional dengan peningkatan dosis obat. Waktu paruh plasma dicapai dalam 12±1,3 jam. Kadar yang stabil di plasma dapat dicapai setelah pemberian selama tiga hari dengan dosis 400 mg per hari.[2,3]
Distribusi
Moxifloxacin yang terikat pada protein serum mencapai 30-50%. Volume distribusi moxifloxacin mencapai 1,7-2,7 L/kg. Moxifloxacin didistribusikan secara luas di seluruh tubuh, dengan kadar pada jaringan umumnya lebih tinggi dibanding plasma.
Moxifloxacin dapat dideteksi pada saliva, sekret nasal dan bronkus, mukosa sinus, jaringan subkutan, otot skeletal, dan jaringan abdominal, baik melalui rute per oral atau pun intravena dengan dosis 400 mg.[3]
Metabolisme
Sekitar 52% dari dosis oral atau intravena moxifloxacin dimetabolisme melalui konjugasi glukuronida dan sulfat. Sistem sitokrom P450 tidak berperan pada metabolisme moxifloxacin, sehingga moxifloxacin tidak mempengaruhi farmakokinetik obat-obatan yang dimetabolisme oleh enzim ini.
Oleh sebab itu, moxifloxacin menjadi kandidat yang baik sebagai terapi pada pasien tuberkulosis paru yang resisten obat dan pasien dengan komorbid infeksi HIV karena tidak mempengaruhi metabolisme obat antiretroviral bila dikonsumsi secara bersamaan.[2,3,5,6,12]
Sekitar 38% moxifloxacin diubah menjadi konjugat sulfat (M1) dan dieliminasi utamanya melalui feses. Sedangkan 14% dari dosis oral atau intravena dikonversi menjadi konjugat glukuronida (M2) yang diekskresikan melalui urin.[2,3]
Eliminasi
Ekskresi moxifloxacin adalah melalui saluran pencernaan dan saluran kemih. Sekitar 45% dari dosis oral atau intravena moxifloxacin diekskresikan dalam bentuk yang tidak berubah (sekitar 20% di urin dan 25% melalui feses). Nilai mean (± SD) dari total body clearance dan renal clearance adalah 12 ± 2 L/jam dan 2.6 ± 0.5 L/jam.[2,3]
Resistensi
Resistensi terhadap moxifloxacin terutama terjadi melalui perubahan genetik pada target kerja obat, yaitu gen yang mengode enzim topoisomerase II (DNA gyrase) dan topoisomerase IV. Mutasi pada enzim-enzim ini mengurangi kemampuan moxifloxacin untuk berikatan dengan targetnya sehingga aktivitas antibakterinya menurun.
Selain itu, resistensi juga dapat timbul akibat berkurangnya permeabilitas membran luar bakteri yang menghambat masuknya obat ke dalam sel, atau melalui peningkatan aktivitas pompa efluks (efflux pump) yang mengeluarkan obat dari dalam sel bakteri.
Berbeda dengan beberapa antibiotik lain yang dapat mengalami perkembangan resistensi secara cepat, resistensi terhadap moxifloxacin umumnya berkembang secara bertahap melalui akumulasi beberapa mutasi (multiple-step mutations), sehingga kejadian resistensi spontan secara in vitro relatif jarang.[3]
Resistensi Silang
Resistensi silang (cross-resistance) antara moxifloxacin dan fluoroquinolone lain telah dilaporkan, terutama pada bakteri Gram-negatif. Oleh karena itu, isolat Gram-negatif yang telah resisten terhadap fluoroquinolone lain sering kali juga menunjukkan penurunan sensitivitas terhadap moxifloxacin.
Namun, pada bakteri Gram-positif, pola ini tidak selalu berlaku. Beberapa strain yang resisten terhadap fluoroquinolone lain masih dapat tetap sensitif terhadap moxifloxacin karena perbedaan afinitas obat terhadap target enzim bakteri.
Selain itu, karena mekanisme kerja moxifloxacin berbeda dari antibiotik golongan makrolida, beta-laktam, aminoglikosida, dan tetrasiklin, hingga saat ini tidak diketahui adanya resistensi silang yang bermakna antara moxifloxacin dan golongan antimikroba tersebut.[3]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha