Saat ini sudah ditemukan beberapa opsi obat baru untuk penatalaksanaan tuberkulosis resistan obat, misalnya bedaquiline, delamanid, pretomanid, dan linezolid. Tuberkulosis resistan obat, khususnya tuberkulosis multiresistan (MDR-TB), meningkatkan beban penyakit secara signifikan, sehingga diperlukan opsi terapi baru yang efektif.[1]
Kasus MDR-TB kini bertanggung jawab atas sekitar 3,3% dari kasus baru tuberkulosis yang didiagnosis dan mencapai 18% pada pasien yang sebelumnya sudah pernah menjalani pengobatan. Oleh karena itu, dibutuhkan pengetahuan terbaru tentang obat yang efektif untuk TB-MDR.[2,3]
Bedaquiline (B)
Bedaquiline merupakan golongan diarylquinoline yang bekerja secara selektif dengan menghambat enzim ATP sintase pada mycobacteria, yang secara efektif menghentikan produksi energi seluler baik pada bakteri yang aktif maupun bakteri yang dorman.[2]
Dari sisi efikasi, penggunaan bedaquiline dalam rejimen oral jangka pendek (BPaLM) telah meningkatkan tingkat keberhasilan pengobatan secara drastis hingga mencapai 89% dibandingkan rejimen lama. Namun, risiko keamanan yang perlu diwaspadai mencakup hepatotoksisitas dan perpanjangan interval QT yang memerlukan pemantauan berkala.[1,4,5]
Pretomanid (Pa)
Agen nitroimidazole ini bekerja sebagai prodrug yang merusak dinding sel bakteri dengan menghambat sintesis asam mikolat dan melepaskan spesies nitrogen reaktif yang meracuni bakteri.[2,6]
Pretomanid menunjukkan efikasi yang tinggi melalui uji klinis Nix-TB, dengan angka kesembuhan mencapai 90% pada kasus resistansi tingkat tinggi. Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah neuropati perifer dan mielosupresi, terutama jika dikombinasikan dengan linezolid.[1,3,4]
Linezolid (L)
Linezolid bekerja dengan cara berikatan pada subunit 50S dari ribosom bakteri untuk menghambat sintesis protein yang diperlukan untuk pertumbuhan kuman.[2,6]
Efikasi linezolid sangat kuat dengan tingkat keberhasilan pengobatan antara 84–93% dalam berbagai studi rejimen singkat. Namun, obat ini memiliki risiko toksisitas yang tergantung pada dosis. Dosis 600 mg/hari saat ini direkomendasikan karena terbukti mengurangi risiko anemia, trombositopenia, dan kerusakan saraf secara signifikan tanpa mengurangi efikasi.[1,7]
Delamanid (D)
Delamanid adalah turunan nitroimidazole yang bekerja dengan cara menghambat pembentukan asam mikolat, yang merupakan suatu komponen esensial dinding sel Mycobacterium tuberculosis.[2]
Efikasi delamanid telah terbukti untuk meningkatkan angka konversi dahak. Obat ini menjadi pilihan utama dalam rejimen BDLLfxC karena profil keamanannya yang baik untuk anak-anak dan ibu hamil. Efek samping utamanya adalah potensi perpanjangan interval QT, tetapi risiko ini dianggap moderat dan dapat dikelola.[1,3,4,6]
Clofazimine (C)
Clofazimine bekerja dengan cara mengganggu metabolisme lipid dan fungsi membran sel Mycobacterium tuberculosis.[2,3]
Obat ini memiliki sifat sterilisasi yang sangat baik untuk mencegah kekambuhan, seperti yang ditunjukkan dalam keberhasilan penggunaan "Regimen C". Efek samping yang paling khas dan menjadi hambatan sosial bagi pasien adalah hiperpigmentasi atau perubahan warna kulit menjadi kecoklatan atau kemerahan.[2,6,8]
Levofloxacin/Moxifloxacin
Obat golongan fluoroquinolone ini bekerja dengan menghambat enzim DNA gyrase bakteri, sehingga menghentikan proses replikasi DNA bakteri.[2,6]
Efikasinya sangat krusial sebagai komponen inti rejimen jangka pendek karena aktivitas bakterisidalnya yang kuat melawan kuman TB-MDR. Keamanan obat ini perlu dipantau terkait risiko perpanjangan interval QT, di mana levofloxacin umumnya memiliki risiko aritmia jantung yang lebih rendah daripada moxifloxacin.[1,2,5,9]
Pedoman WHO terkait Obat Baru untuk Tuberkulosis Resistan Obat
Terapi tuberkulosis resistan obat terbaru berfokus pada penggunaan rejimen oral jangka pendek (6 bulan), yang telah merevolusi standar pengobatan dari yang sebelumnya berdurasi 18–24 bulan.[2]
Berdasarkan pedoman konsolidasi terbaru dari WHO, terdapat dua rejimen dengan durasi 6 bulan yang menjadi pilihan saat ini. Rejimen utama yang direkomendasikan adalah BPaLM, yang terdiri dari bedaquiline (B), pretomanid (Pa), linezolid (L), dan moxifloxacin (M). Rejimen ini diperuntukkan bagi pasien dewasa dan remaja berusia >14 tahun dengan tuberkulosis multiresistan (MDR-TB), atau tuberkulosis resistan rifampisin (RR-TB), atau tuberkulosis resistan fluoroquinolone (pre-XDR-TB).[4]
Bila hasil uji kepekaan obat (DST) menunjukkan resistansi terhadap fluoroquinolone, moxifloxacin dihentikan lalu terapi dilanjutkan dengan rejimen BPaL. Dosis linezolid yang dioptimalkan dalam rejimen ini adalah 600 mg sekali sehari, yang terbukti memberikan efikasi tinggi dengan risiko efek samping (seperti mielosupresi dan neuropati) yang lebih rendah daripada dosis 1200 mg.[1,5]
Terapi terbaru lainnya yang diperkenalkan dalam pedoman 2025 adalah rejimen BDLLfxC, yang terdiri dari bedaquiline (B), delamanid (D), linezolid (L), levofloxacin (Lfx), dan clofazimine (C). Inovasi ini sangat signifikan karena rejimen BDLLfxC dapat digunakan untuk kelompok yang sebelumnya memiliki opsi terbatas, yaitu anak-anak berusia <14 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui.[1,4]
Rejimen ini dapat disesuaikan berdasarkan hasil uji kepekaan obat (DST). Jika sensitif terhadap fluoroquinolone, clofazimine dapat dihentikan (rejimen BDLLfx). Jika resistan, levofloxacin yang dihentikan (rejimen BDLC).[4]
Selain rejimen 6 bulan, bagi pasien yang tidak memenuhi kriteria kelayakan, WHO menyarankan rejimen 9 bulan termodifikasi (hasil uji klinis endTB) dengan urutan preferensi sebagai berikut: BLMZ (bedaquiline, linezolid, moxifloxacin, pyrazinamide), disusul oleh BLLfxCZ, lalu disusul oleh BDLLfxZ.[4,9]
Rejimen-rejimen terbaru tersebut menekankan pendekatan oral untuk meningkatkan kepatuhan pasien dan meminimalkan toksisitas yang sebelumnya sering terjadi pada penggunaan obat injeksi.[1,6]
Tabel 1. Ringkasan Rejimen Tuberkulosis Resistan Obat
| Nama Rejimen | Komposisi Obat | Durasi | Populasi Target & Keterangan |
| BPaLM | Bedaquiline (B), Pretomanid (Pa), Linezolid (L) 600 mg, Moxifloxacin (M) | 6 bulan (24-26 minggu) | Pilihan utama untuk dewasa dan remaja (≥14 tahun) dengan MDR/RR-TB atau TB pre-XDR[1,4] |
| BPaL | Bedaquiline (B), Pretomanid (Pa), Linezolid (L) 600 mg | 6 bulan (24-26 minggu) | Digunakan jika ada resistansi atau intoleransi terhadap fluoroquinolone (moxifloxacin)[4,5] |
| BDLLfxC | Bedaquiline (B), Delamanid (D), Linezolid (L), Levofloxacin (Lfx), Clofazimine (C) | 6 bulan (24 minggu) | Dapat digunakan untuk anak <14 tahun, ibu hamil, ibu menyusui[1,4] |
| BLMZ (endTB) | Bedaquiline (B), Linezolid (L), Moxifloxacin (M), Pyrazinamide (Z) | 9 bulan (39 minggu) | Rejimen 9 bulan termodifikasi; lebih disarankan daripada rejimen jangka panjang (>18 bulan) jika pasien tidak memenuhi syarat rejimen 6 bulan[1,9] |
| BLLfxCZ (endTB) | Bedaquiline (B), Linezolid (L), Levofloxacin (Lfx), Clofazimine (C), Pyrazinamide (Z) | 9 bulan (39 minggu) | Alternatif rejimen 9 bulan bagi pasien yang sensitif fluoroquinolone[4] |
| BDLLfxZ (endTB) | Bedaquiline (B), Delamanid (D), Linezolid (L), Levofloxacin (Lfx), Pyrazinamide (Z) | 9 bulan (39 minggu) | Opsi rejimen 9 bulan, tetapi biaya lebih tinggi karena delamanid[4] |
Sumber: dr. Qorry Amanda. 2026.
Tabel 2. Ringkasan Rejimen Tuberkulosis Resistan Obat Ibu Hamil dan Anak
| Populasi Target | Jenis TB | Komposisi Obat | Durasi | Keterangan |
| Ibu Hamil dan Menyusui | MDR/RR-TB | BDLLfxC: Bedaquiline, Delamanid, Linezolid, Levofloxacin, Clofazimine | 6 bulan | Rejimen oral terbaru yang aman untuk semua trimester kehamilan |
| MDR/RR-TB | 9-BPaL modifikasi: Ethionamide diganti Linezolid | 9 bulan | Ethionamide tidak boleh diberikan saat hamil; diganti Linezolid selama 2 bulan | |
| Anak dan Remaja | MDR/RR-TB | BDLLfxC: Bedaquiline, Delamanid, Linezolid, Levofloxacin, Clofazimine | 6 bulan | Dapat digunakan untuk anak segala usia (termasuk <14 tahun) dan segala berat badan |
| (<14 tahun atau <16 kg) | MDR/RR-TB | BLMZ, BLLfxCZ, atau BDLLfxZ | 9 bulan | Rejimen oral termodifikasi (endTB) yang diekstrapolasi keamanannya untuk anak |
| DS-TB (Non-Berat) | 2HRZ(E)/2HR: Isoniazid, Rifampisin, Pyrazinamide ± Ethambutol | 4 bulan | Untuk anak usia 3 bulan sampai 16 tahun dengan penyakit paucibacillary atau kelenjar getah bening | |
| Remaja (≥12 tahun) | DS-TB | 2HPMZ/2HPM: Isoniazid, Rifapentine, Moxifloxacin, Pyrazinamide | 4 bulan | Rejimen durasi singkat untuk remaja dan dewasa dengan penyakit paru |
Sumber: dr. Qorry Amanda. 2026.
Penentuan rejimen BDLLfxC tergantung pada hasil uji kepekaan (DST) fluoroquinolone. Jika sensitif, clofazimine dihentikan (BDLLfx). Jika resistan, levofloxacin yang dihentikan (BDLC).[4,5]
Kesimpulan
Terapi tuberkulosis resistan obat pada periode 2025-2026 telah mengalami pergeseran penting dari rejimen panjang berbasis injeksi ke rejimen oral 6 bulan seperti BPaLM dan BDLLfxC. Perubahan ini bukan hanya soal durasi yang lebih pendek, tetapi juga akses yang lebih luas. Anak-anak <14 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui kini memiliki pilihan pengobatan yang sebelumnya tidak tersedia bagi mereka.
Tingkat keberhasilan yang tinggi pada rejimen BPaLM menunjukkan bahwa pendekatan serba oral dapat mempertahankan efikasi sekaligus mengurangi beban toksisitas yang selama ini menjadi hambatan utama kepatuhan pasien. Namun, keberhasilan rejimen tetap tergantung pada uji kepekaan obat yang akurat dan pemantauan berkala terhadap efek samping, seperti hepatotoksisitas, perpanjangan QT, neuropati, dan mielosupresi.
Penulisan pertama oleh: dr. Eduward Thendiono, Sp.PD, FINASIM
