Rasionalisasi Pemberian Metformin pada Sindrom Ovarium Polikistik

Oleh dr. Josephine Darmawan

Sindrom ovarium polikistik sering diberikan metformin namun apakah penggunaan ini diindikasikan masih terdapat pandangan yang beragam.

Sindrom ovarium polikistik/polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah salah satu kelainan endokrin yang cukup sering ditemui, dialami oleh 5%-12% wanita usia reproduktif. PCOS merupakan salah satu penyebab infertilitas pada wanita, di mana terjadi gangguan ovulasi (anovulasi dan oligoovulasi) karena hiperandrogenisme.[1] Pasien dengan PCOS dapat mengalami gangguan metabolik, gangguan menstruasi, gejala hiperandrogenisme, dan infertilitas. Dampak jangka panjang dari PCOS sangat luas, meliputi diabetes gestasional (DMG), obesitas, diabetes mellitus tipe 2 (DMT2), apnea tidur/sleep apnea, dan gangguan kualitas hidup karena depresi atau ansietas.[2] Gangguan metabolik, resistensi insulin, dan resiko diabetes yang tinggi sering kali membuat obat-obat sensitisasi insulin, seperti metformin, dapat dibenarkan. Namun demikian, pandangan terhadap penggunaan metformin pada PCOS masih beragam.[3,4]

Sumber: Zerbor, Depositphotos. Sumber: Zerbor, Depositphotos.

PEMBAHASAN

Tata laksana PCOS adalah terapi yang multifarmakologi dan dapat berbeda-beda setiap individu, tergantung dari usia dan rencana kehamilan. Secara umum, prinsip tata laksana PCOS adalah:[1,5]

  • Mencegah resiko jangka panjang: dilakukan dengan modifikasi diet dan gaya hidup, serta dapat digunakan obat-obatan untuk mencegah gangguan metabolik
  • Induksi ovulasi: dilakukan untuk mengatasi infertilitas dengan klomifen sitrat, gonadotropin, fertilisasi in vitro (in vitro fertilization / FIV), penghambat aromatase, metformin

  • Terapi gangguan menstruasi: dilakukan untuk memperlancar siklus haid dengan kontrasepsi oral progestin ataupun kombinasi, dan
  • Terapi hiperandrogenisme: dilalukan untuk mengurangi gejala hiperandrogen seperti hirsutisme dengan kontrasepsi oral, spironolakton, glukokortikoid, metformin

Rasionalisasi Terapi Metformin pada PCOS

Patofisiologi PCOS adalah ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan aksis hipotalamus-pituatri-ovarium (HPO) terganggu. Resistensi insulin dan hiperinsulinemia dapat terjadi sehingga sering kali pasien diberikan metformin. Terjadinya resistensi insulin pada PCOS masih belum diketahui dengan pasti, diperkirakan karena faktor genetik. Resistensi insulin juga berakibat pada metabolisme lemak dan gula, sehingga meningkatkan resiko gangguan metabolik. Dalam pertimbangan terapi farmakologi pada PCOS, perlu diingat patomekanisme, prinsip utama pengobatan PCOS, dan dampak jangka panjangnya.[1–3]

Metformin adalah salah satu jenis obat untuk meningkatkan sensitifitas insulin dengan cara meningkatkan penggunaan glukosa perifer. Metformin juga memiliki beberapa kegunaan off-label, seperti:[3,4]

Metformin untuk oligomenorrhea

  • Terapi lini pertama pada oligomenorrhea adalah obat kontrasepsi kombinasi esterogen-progestin. Metformin dapat digunakan sebagai terapi lini kedua, terutama pada wanita yang memiliki kontraindikasi terhadap pil kontrasepsi. Progestin siklik harus diberikan pada 6 bulan pertama pemberian metformin dan dilanjutkan sampai siklus haid normal kembali.

Metformin untuk hirsutisme

  • Pil kontrasepsi merupakan terapi pilihan utama untuk hirsutisme. Penggunaan metformin diperkirakan dapat mengurangi produksi hormon androgen pada ovarium, kelenjar adrenal, dan hipofisis serta meningkatkan pengikatan hormon androgen ke globulin pada sel hati. Hal ini membuat metformin dinilai dapat memperbaiki keluhan hiperandrogenisme ,tetapi efek terapinya sangat minimal. Data meta-analisis menunjukkan pil kontrasepsi oral kombinasi dengan atau tanpa metformin tidak banyak menunjukkan perbedaan pada efek terapi hirsutisme.

Metformin untuk induksi ovulasi

  • Pemberian metformin atau metformin kombinasi klomifen sitrat lebih baik untuk memicu ovulasi dibandingkan dengan pemberian monoterapi klomifensitrat. Meskipun demikian, efek terapetik metformin lebih lambat dan kurang efektif bila dibandingkan dengan pemberian klomifen sitrat. Beberapa data meta-analisis menunjukkan bahwa pemberian metformin monoterapi dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan, tetapi tidak kehamilan hidup. Pemberian metformin diperkirakan dapat membantu pasien yang menjalani program kehamilan, metformin dapat direkomendasikan kecuali pada pasien dengan gangguan toleransi glukosa.

Metformin untuk obesitas dan pencegahan DMT2

  • Pemberian metformin dapat membantu menurunkan berat badan. Penurunan berat badan, modifikasi diet serta gaya hidup, dan pemberian metformin dapat menurunkan resiko DMT2. Dalam hal ini, modifikasi diet serta gaya hidup juga disarankan dan dinilia lebih efektif dibandingkan metformin. Sedangkan, pada pasien yang sudah mengalami DMT2, modifikasi gaya hidup dan pemberian metformin dinilai sama pentingnya. Tata laksana glukosa pada pasien-pasien DMT2 mengikuti konsensus DM yang berlaku.

Metformin untuk fertilisasi in vitro

  • Pasien PCOS dapat mencoba FIV untuk promil bila pengobatan farmakologi tidak berhasil. Pemberian metformin pada pasien PCOS yang melakukan FIV diperkirakan dapat inhibisi produksi androstenedion dan testosteron sel tekha, sehingga meningkatkan keberhasilan FIV. Namun demikian, data tidak menunjukkan efek penambahan metformin terhadap angka keberhasilan kehamilan pada pasien PCOS yang menjalani FIV.

Metformin untuk mencegah keguguran dan DMG

  • Pemberian metformin diperkirakan dapat memperbaiki aliran darah arteri ovarika sehingga dapat menurunkan kejadian keguguran pada pasien PCOS. Namun demikian, beberapa uji penelitian acak/randomized contolled trial (RCT) serta meta-analisis tidak menunjukkan penurunan angka keguguran pada pasien PCOS yang diberikan metformin. Data juga tidak menunjukkan efek metformin terhadap pencegahan DMG pada pasien PCOS. Pemberian metformin tidak dapat direkomendasikan untuk mecegah keguguran ataupun DMG.

Pertimbangan Pemberian Metformin pada PCOS

Pemberian metformin secara rutin dengan obat kontrasepsi oral belum dijadikan rekomendasi utama karena data yang tersedia masih minim dan terkadang bertolak belakang. Akan tetapi, pemberian metformin pada PCOS dapat dipertimbangkan. BIla terdapat keraguan, sangat disarankan untuk konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Hal ini sangat bergantung dari keputusan klinisi dan tujuan terapi masing-masing individu. Berikut adalah hal-hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam memberikan terapi metformin pada PCOS:[2–5]

  • Pemberian metformin pada PCOS bukanlah terapi lini utama. Tidak dibenarkan pemberian metformin tanpa adanya pemberian obat-obatan untuk PCOS lain.
  • Metformin dapat digunakan sebagai terapi lini kedua pada pasien PCOS dengan:

    • Oligomenorrhea
    • Hirsutisme
    • Induksi ovulasi
    • Obesitas

  • Metformin dapat digunakan untuk membantu diet dan menurunkan berat badan pada pasien PCOS. Pemberian metformin tidak lebih efektif daripada modifikasi gaya hidup.
  • Metformin dapat diberikan untuk membantu induksi ovulasi dan meningkatkan kemungkinan kehamilan, kecuali pada pasien dengan gangguan toleransi glukosa.
  • Metformin pada PCOS dapat diberikan untuk mencegah DMT2, terutama pada pasien resiko tinggi. Pemberian metformin tidak lebih efektif daripada modifikasi gaya hidup untuk mencegah DMT2.
  • Pasien PCOS yang memiliki DMT2, tata laksana glukosanya mengikuti pedoman untuk DMT2. Pemberian metformin dan modifikasi gaya hidup sama pentingnya.
  • Metformin tidak direkomendasikan pada pasien hamil yang memiliki PCOS untuk mencegah DMG (Level 2B).
  • Metformin tidak direkomendasikan untuk mencegah keguguran pada pasien dengan PCOS (Level 2C).
  • Metformin memiliki efek untuk mencegah dampak jangka panjang PCOS lebih baik daripada obat kontrasepsi oral saja.
  • Metformin tidak lebih baik dibandingkan obat kontrasepsi oral untuk memperbaiki siklus haid dan hiperandrogenisme.

Referensi