Antibiotik pada Anak dengan Batuk Berdahak Kronis

Oleh :
dr. Alexandra Francesca Chandra

Batuk berdahak kronis pada anak didefinisikan dengan batuk yang terjadi pada anak usia 14 tahun selama 14 hari. [1,2] Penggunaan antibiotik pada keadaan ini dianjurkan untuk membantu penyembuhan dan meningkatkan luaran paru anak di masa depan. Kondisi ini umum ditemukan pada praktek sehari-hari.

Antibiotik dalam Penanganan Batuk Berdahak Kronis pada Anak

Antibiotik dinilai efektif dalam membantu kesembuhan anak dengan batuk berdahak kronis. Berdasarkan 2 publikasi telaah sistematik, anak dengan batuk berdahak kronis tanpa penyakit paru cukup diberikan antibiotik yang diberikan spesifik untuk pola kuman setempat (dalam studi tersebut H influenzae, M catarrhalis, dan S pneumoniae).[1, 2]

Lama Pemberian Antibiotik

Anak dengan batuk berdahak kronis hingga kini masih ditatalaksana dengan pemberian antibiotik selama 1-2 minggu. Talaah sistematik menyebutkan bahwa pada beberapa kasus, antibiotik dapat diberikan hingga 4 minggu. Walaupun beberapa pasien memerlukan pemberian antibiotik yang lebih lama, pemberian antibiotik pertama kali dengan jangka waktu lebih singkat lebih dianjurkan.[1, 2]

Jenis Antibiotik

Jenis antibiotik sebaiknya didasarkan pada pola distribusi bakteri di area setempat. Antibiotik yang paling sering digunakan dan efektif untuk batuk berdahak kronis pada anak adalah amoxicilin-clavulanate (amoxiclav). Hal tersebut didasarkan pada jenis bakteri yang paling banyak ditemukan pada populasi penelitian, yakni H influenzae, M catarrhalis, dan S pneumoniae.[1, 2]

Beberapa penelitian yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan pola bakteri yang berbeda-beda. Sebagai contoh, sebuah penelitian yang dilakukan di Padang menemukan bahwa bakteri penyebab infeksi saluran nafas terbanyak adalah Klebsiella pneumoniae, sedangkan studi lain yang dilakukan di Manado menemukan bahwa bakteri penyebab infeksi saluran nafas terbanyak adalah Streptococcus non-hemolytic.[3, 4, 5, 6] Antibiotik dapat diberikan secara kombinasi, namun monoterapi lebih dianjurkan.[5]

Tabel 1. Antibiotik untuk Infeksi Klebsiella pneumoniae

Antibiotik Dosis Anak
Ceftriaxone 50-75 mg/kgBB/hari terbagi menjadi 2 dosis selama 7-14 hari
Cefotaxime

  • Anak <12th atau BB <50kg: 50-200mg/kgBB/hari secara IV/IM terbagi dalam 3-4 dosis
  • Anak >12th atau BB >50kg: 1-2g IV/IM setiap 8 jam

Gentamicin 2.5 mg/kgBB/kali secara IV/IM setiap 8 jam

Tabel 2. Antibiotik untuk Infeksi Streptococcus non hemolitik

Antibiotik Dosis Anak
Penicillin G

  • Infeksi sedang: 25.000-50.000 U/kg/hari terbagi menjadi 4 dosis secara IV/IM
  • Infeksi berat: 250.000-400.000 U/kg/hari secara IV/IM terbagi menjadi 4-6 dosis (max 24juta U/hari)

Ceftriaxone 50-75 mg/kgBB/hari terbagi menjadi 2 dosis selama 7-14 hari
Gentamicin 2.5 mg/kgBB/kali secara IV/IM setiap 8 jam

Pada infeksi Streptococcus non hemolitik, antibiotik dapat diberikan secara monoterapi hingga 4 minggu.[6]

Indonesia merupakan negara tropis dengan angka kejadian penyakit paru, terutama tuberkulosis (TB), yang tinggi. Oleh karena itu, anak dengan batuk lama (3 minggu) yang bersifat non remitting (tidak pernah reda atau intensitas semakin lama semakin parah) harus pertama-tama dicurigai menderita TB paru anak – tentunya dengan memperhatikan gejala TB lainnya.[7] Tatalaksana anak dengan batuk berdahak kronis di Indonesia berbeda dengan negara-negara Barat karena di Indonesia, batuk berdahak kronis harus selalu dicurigai sebagai gejala TB. Sehingga, jika pada negara barat akan dilakukan kultur bakteri dan sensitivitas antibiotik, di Indonesia akan dilakukan pemeriksaan bakteri tahan asam untuk mendeteksi TB.[8]

cough girl

Kapan Merujuk Anak dengan Batuk Berdahak Kronis

Anak sebaiknya dirujuk apabila batuk berdahak kronis tidak sembuh dengan pemberian antibiotik selama 4 minggu, atau anak sejak awal memiliki tanda-tanda batuk spesifik (cough pointers).[1, 2] Cough pointers tersebut antara lain:

Tanda Sistemik

  • kelainan kardiologis
  • clubbing finger
  • gagal tumbuh
  • riwayat pengobatan yang berhubungan dengan batuk kronis (contoh : ACE-inhibitor, penyalahgunaan obat)
  • Abnormalitas perkembangan saraf
  • Demam
  • Imunodefisiensi (primer atau sekunder)
  • Kesulitan asupan makanan
  • Riwayat kontak (dengan penyakit menular seperti TB paru) [1, 2]

Tanda Pulmonal

  • Nyeri dada
  • Batuk produktif (batuk berdahak yang dapat dikeluarkan dari mulut oleh anak)
  • Batuk berdarah
  • Batuk dengan karakteristik abnormal (contoh : batuk sejak lahir, batuk sangat kencang, bronkitis plastis, batuk malam dengan/tanpa muntah setelahnya)
  • Pneumonia rekuren
  • Hipoksia atau sianosis
  • Riwayat penyakit paru atau adanya faktor predisposisi (penyakit paru neonatus, aspirasi benda asing)
  • Dispneu dalam aktifitas
  • Dispneu saat istirahat atau takipneu
  • Deformitas dinding dada
  • Temuan auskultasi abnormal (contoh : stridor, wheezing, crackle)

  • Kelainan rontgen toraks (selain perubahan pada perihilus)
  • Kelainan hasil tes fungsi paru [1, 2]

Kesimpulan

Anak dengan batuk berdahak kronis tanpa penyakit paru dapat diobati dengan antibiotik yang sesuai dengan pola kuman setempat. Lama pemberian antibiotik bervariasi antara 1-4 minggu, umumnya untuk pertama kali dapat diberikan dalam waktu singkat (1-2 minggu).

Di Indonesia, penanganan anak dengan batuk berdahak kronis menggunakan antibiotik spesifik dengan pola kuman setempat dilakukan setelah menyingkirkan kemungkinan tuberkulosis lebih dulu. Anak dengan batuk berdahak perlu dirujuk bila non-responsif terhadap pemberian antibiotik selama 4 minggu atau sejak awal memiliki tanda-tanda cough pointers (baik tanda sistemik maupun pulmonal).

Referensi