Madu untuk Mengatasi Batuk: Apakah Efektif

Oleh :
dr.Krisandryka

Konsumsi madu sering dianjurkan untuk mengatasi batuk, misalnya batuk akibat infeksi saluran pernapasan atas. Anjuran ini terutama ditujukan untuk anak-anak, yang telah terbukti tidak mendapat banyak manfaat dari penggunaan obat batuk dan justru berisiko mengalami efek samping akibat obat batuk. Madu bersifat lebih aman, sehingga studi klinis akhirnya mulai mempelajari efektivitasnya untuk batuk.[1,2]

Batuk merupakan salah satu keluhan paling sering pada anak. Mayoritas anak-anak mengalami setidaknya satu episode batuk akut (batuk <4 minggu) setiap tahunnya. Batuk pada anak tidak hanya memengaruhi kualitas hidup anak itu sendiri, melainkan juga orang tua atau pengasuhnya.[1,2]

MaduuntukBatuk

Salah satu bahan alami yang dipercaya dapat mengurangi gejala batuk adalah madu. Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang efektivitas madu untuk atasi batuk.[1,2]

Rasionalisasi Penggunaan Madu untuk Mengatasi Batuk

Madu mempunyai komponen antimikrobial dan peran dalam wound-healing, sehingga telah lama digunakan sebagai obat tradisional, termasuk untuk mengatasi gejala infeksi saluran pernapasan akut. Madu dilaporkan dapat mengurangi sekresi mukus dan turut mengurangi batuk. Penggunaan madu mulai mendapat perhatian karena obat batuk bebas (over the counter) berisiko menimbulkan efek samping, terutama pada populasi anak-anak.[2,3]

Obat batuk bebas umumnya terdiri dari komponen antihistamin, antitusif, ekspektoran, dekongestan, dan analgesik. Studi telah menunjukkan bahwa beberapa komponen obat batuk bebas dapat menyebabkan drowsiness, sedasi, hingga depresi pernapasan pada anak. Contohnya adalah dextromethorphan dan antihistamin seperti diphenhydramine. Risiko efek samping ini terutama lebih tinggi pada anak berusia muda dan pada dosis yang lebih tinggi.[2-4]

Studi sebelumnya juga melaporkan bahwa penggunaan obat batuk bebas tidak memiliki efektivitas yang lebih baik daripada plasebo pada anak-anak. Oleh karena itu, alternatif terapi batuk akut yang lebih efektif dan aman masih diperlukan.[2-4]

Madu memiliki profil keamanan yang baik, meskipun terdapat madu yang mengandung endospora dorman Clostridium botulinum, yang dapat menjadi bakteri penghasil toksin pada anak <12 bulan dan mengakibatkan infantile botulism. Karena madu relatif tidak mahal, mudah didapatkan, dan aman untuk anak >12 bulan, World Health Organization merekomendasikan madu sebagai pelega tenggorokan untuk mengatasi gejala batuk dan nyeri menelan.[2,4]

Hasil Studi Terkait Efek Madu pada Batuk

Tinjauan sistematik oleh Kuitunen, et al. terhadap 10 studi menunjukkan bahwa madu lebih baik daripada plasebo, no treatment, maupun obat batuk dalam hal mengurangi frekuensi batuk. Subjek dalam kelompok madu juga memiliki kualitas tidur yang lebih baik daripada kelompok plasebo dan obat batuk. Namun, quality of evidence dalam studi-studi tersebut rendah, sehingga masih dibutuhkan studi randomized controlled trial double blind untuk menguji efektivitas madu terhadap batuk.[1]

Studi lain mengenai efektivitas madu terhadap batuk berupa review Cochrane terhadap 6 randomized controlled trial yang melibatkan 899 anak menunjukkan hasil senada. Studi-studi tersebut membandingkan madu dengan obat batuk dextromethorphan, diphenhydramine, bromelin, no treatment, dan plasebo.[5]

Hasil review tersebut menunjukkan bahwa madu lebih efektif daripada plasebo, no treatment, dan diphenhydramine untuk mengurangi frekuensi batuk, serta sama efektif dengan dextromethorphan. Studi tersebut menyimpulkan bahwa belum ada bukti kuat untuk mendukung ataupun melarang penggunaan madu. Namun, karena madu bersifat aman dan mudah didapatkan, penggunaannya dapat dipertimbangkan.[5]

Studi lain oleh Abuelgasim, et al. juga mengevaluasi efektivitas madu terhadap gejala simtomatik infeksi saluran napas atas dengan melakukan meta analisis terhadap 14 studi. Hasil menunjukkan bahwa madu dapat mengurangi frekuensi dan keparahan batuk. Hal ini menjadikan madu alternatif yang lebih murah, aman, dan mudah didapat daripada obat.[6]

Kesimpulan

Madu dapat menjadi alternatif untuk mengatasi batuk pada anak berusia >12 bulan dan orang dewasa. Penggunaan obat batuk bebas mempunyai berbagai risiko efek samping terutama pada anak-anak, sehingga sudah tidak dianjurkan oleh berbagai studi klinis.

Menurut bukti yang ada saat ini, penggunaan madu dapat mengurangi frekuensi batuk secara lebih baik daripada penggunaan plasebo atau no treatment. Selain itu, madu juga dilaporkan lebih efektif mengurangi frekuensi batuk atau sama efektifnya dengan beberapa obat batuk bebas, tanpa efek samping bermakna.

Bukti dari studi-studi klinis saat ini memang masih berkekuatan lemah, tetapi mengingat madu bersifat aman, mudah didapatkan, dan berbiaya terjangkau, madu dapat menjadi alternatif untuk penanganan batuk. Ke depannya, studi klinis lebih lanjut mungkin dapat dilakukan untuk mengonfirmasi efektivitas madu untuk batuk.

Referensi