Tinea Versicolor – Panduan E-Prescription Alomedika

Oleh :
dr. Maruti Lintangsenjani

Panduan e-prescription pada tinea versicolor ini dapat digunakan oleh Dokter Umum saat hendak memberikan terapi medikamentosa secara online.

Tinea versicolor atau pityriasis versicolor, yang biasa disebut panu, adalah penyakit infeksi kronis jamur Malassezia furfur yang terjadi pada superfisial kulit, dan berlangsung secara kronis. Prevalensi penyakit ini tinggi pada daerah tropis yang bersuhu hangat dan lembab. [1]

Tanda dan Gejala

  • Rasa gatal ringan yang muncul terutama saat berkeringat, tetapi sebagian besar pasien asimptomatik
  • Lesi makula hipopigmentasi berwarna putih / merah muda, atau hiperpigmentasi berwarna coklat kemerahan
  • Bercak tersebut dapat berbentuk bulat atau tidak beraturan
  • Disertai skuama halus dan tipis, kadangkala hanya tampak dengan menggores kulit (finger nail sign)
  • Predileksi di tubuh bagian atas, seperti leher, wajah, dada, ketiak, dan lengan atas [1,2,4]

Perdalam faktor risiko, antara lain sering dijumpai pada usia dewasa muda karena kelenjar sebasea bekerja lebih aktif, pasien dengan imunodefisiensi, tubuh yang banyak berkeringat, serta keadaan cuaca yang panas dan lembab. [1,2]

Diagnosis banding: hipopigmentasi pascainflamasi, vitiligo, pitiriasis alba, atau dermatitis seboroik.[1,2]

Peringatan

Perlu diperhatikan pada kasus kronis atau berulang. Penggunaan kortikosteroid sistemik jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya tinea versicolor. Selain itu, harus diwaspadai untuk pasien dengan kondisi imunosupresif, seperti penderita HIV.[4]

Perhatian pada pemberian medikamentosa adalah efek samping akibat penggunaan antifungal sistemik jangka lama pada kasus tinea versicolor kronis atau berulang. Efek samping yang dapat terjadi adalah gangguan gastrointestinal dan peningkatan fungsi hati yang bersifat sementara.[3]

Medikamentosa

Pasien disarankan untuk lebih menjaga higienitas dan sanitasi, tidak menggunakan pakaian yang lembab, dan tidak menggunakan barang pribadi bersama dengan orang lain.[1]

Pasien Dewasa

Lini Pertama:

Sebaiknya diberikan topikal antifungal terlebih dahulu. Pilih salah satu obat topikal di bawah ini:

  • Sampo ketokonazol 2%, dioles pada lesi 5 menit sebelum mandi, 1x setiap hari, dan dipakai selama 3 hari berturut-turut
  • Sampo selenium sulfida 2,5%, dioles pada lesi selama 15−30 menit sebelum mandi, 1x setiap hari, dipakai selama 3 hari berturut-turut dan diulang seminggu kemudian
  • Khusus daerah wajah dan genital gunakan vehikulum solusio, atau golongan azol topikal seperti krim miconazole, dioles 2 kali setiap hari, dipakai selama 7 hari berturut-turut[1-3]

Lini Kedua:

Terapi lini kedua berupa terapi sistemik yang diberikan apabila kondisi lesi menyebar luas, sulit disembuhkan dengan terapi topikal, atau pada kasus kronis berulang. Pilih salah satu antifungal peroral di bawah ini:

  • Ketoconazole 200 mg, diminum 1 x per hari, selama 10 hari

  • Itrakonazol 200−400 mg, diminum 1 x per hari, selama 5−7 hari
  • Fluconazole 150−300 mg, diminum dosis tunggal 1x per minggu, selama 2−4 minggu[1-3]

Pasien Anak

Lini Pertama:

Pengobatan lini pertama untuk anak disarankan menggunakan antifungal topikal seperti pada pasien dewasa.

Lini Kedua:

Pemberian antifungal sistemik untuk kasus tinea versicolor pada anak sebaiknya dihindari, karena sering menyebabkan efek samping seperti mual, muntah, nyeri abdomen, dan diare.

Namun, jika lesi luas, simtomatik, tidak membaik dengan topikal, atau kasus kronis berulang, maka dapat diberi obat peroral:

  • Fluconazole 3−6 mg/kgBB, atau 50 mg untuk berat 10 kg, diminum 1 x per hari, selama 2−4 minggu, lama pengobatan maksimum 6 minggu[5,6,8]

Pemberian pada Ibu Hamil dan Menyusui

Sebagian besar obat antifungal masuk FDA kategori C sehingga pemberian pada ibu hamil tidak dianjurkan, terutama pada kehamilan trimester pertama. Selain itu, pemberian pada ibu menyusui harus berdasarkan pertimbangan keuntungan lebih besar daripada risiko, karena obat antifungal dapat disekresikan ke dalam ASI dan menyebabkan efek samping pada bayi. Obat antifungal yang termasuk dalam kategori B, atau aman diberikan untuk ibu hamil adalah amphotericin B, oxiconazole dan terbinafine.[7,9]

Referensi