Tinea Kapitis - Panduan e-Prescription Alomedika

Oleh :
dr. Ciho Olfriani

Panduan e-prescription pada tinea kapitis ini dapat digunakan oleh Dokter Umum saat hendak memberikan terapi medikamentosa secara online.

Tinea kapitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur superfisial pada kulit kepala, alis, dan bulu mata yang menyerang batang dan folikel rambut.

Tanda dan Gejala

Pada anamnesis, pasien dengan tinea kapitis biasanya mengeluhkan kepala yang gatal dan bersisik. Selain itu, dapat ditemukan gejala lain, yaitu rambut yang mudah patah, rambut berwarna abu-abu, dan kebotakan (alopecia).[1]

Tanda kardinal dari tinea kapitis adalah kerion. Di samping itu, pemeriksaan fisik dapat menunjukkan skuama tipikal, alopecia, grey patch, black dot, dan pembesaran kelenjar getah bening.[1,2]

Peringatan

Pemberian griseofulvin dikontraindikasikan pada pasien porfiria dan gagal hati. Selain itu, pasien laki-laki yang hendak mengonsumsi griseofulvin sebaiknya tidak sedang menjalani program hamil dalam 6 bulan ke depan.[3,4]

Griseofulvin dapat menurunkan efikasi kontrasepsi oral, sehingga kontrasepsi tambahan, yaitu kondom, perlu diberikan pada pasien yang menggunakan kontrasepsi oral. Kontrasepsi tambahan perlu dilanjutkan sampai 1 bulan setelah terapi griseofulvin dihentikan.[5]

Itraconazole dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat penyakit jantung dan gangguan hati.[3,4]

Pada penggunaan fluconazole, pemeriksaan fungsi hati dan ginjal dianjurkan untuk dilakukan sebelum terapi dilakukan.

Penggunaan terbinafine pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati memerlukan penyesuaian dosis.[3]

Perhatian khusus atau rujukan perlu dilakukan apabila:

  1. Tanda dan gejala tidak membaik setelah 10–14 hari terapi
  2. Pasien memiliki kondisi imunokompromais, seperti HIV

  3. Pasien memiliki penyakit penyerta yang memerlukan multifarmaka

Medikamentosa

Penatalaksanaan tinea kapitis memerlukan antifungal sistemik karena antifungal topikal tidak dapat menembus batang rambut dengan baik.

Dewasa

Lini pertama:

Griseofulvin 500 mg, peroral, 1x/hari selama 8 minggu[3,6]

Lini kedua:

Pilih salah satu dari terapi berikut ini:

Terbinafin: 250 mg, peroral, 1x/hari selama 4 minggu[3,7]

Itraconazole: 50–100 mg/hari, peroral selama 6 minggu [1,4]

Fluconazole: 3–6 mg/hari (150 mg untuk BB <50 kg, 300 mg untuk BB 50–60 kg, 450 mg untuk BB 60–75 kg), peroral.

Anak

Lini Pertama:

  • Griseofulvin (hanya untuk anak >2 tahun):

    Griseofulvin microsize 20–25 mg/kg/hari, dosis tunggal atau terbagi dalam 2 dosis; Griseofulvin ultramicrosize 10–15 mg/kg/hari, dosis tunggal atau terbagi dalam 2 dosis. Terapi diberikan selama 8 minggu[3]

Lini Kedua:

Pilih salah satu dari terapi berikut ini:

  • Itraconazole 50–100 mg/hari peroral, atau 5 mg/kg/hari peroral selama 6 minggu
  • Terbinafine (hanya untuk anak >4 tahun):

    Anak dengan BB 10–20 kg: 62,5 mg/hari peroral

    Anak dengan BB 20–40 kg: 125 mg/hari peroral

    Anak dengan BB >40 kg: 250 mg/hari peroral

Terapi diberikan selama 4 minggu peroral

  • Fluconazole 6 mg/kg/hari peroral, selama 2–3 minggu[3,4,8]

Terapi Ajuvan

  • Selenium sulfide sampo 1% dan 2,5% 2–4 kali/minggu, atau
  • Ketoconazole sampo 2% 2 hari sekali selama 2–4 minggu[3,4]

Pemberian pada Ibu Hamil

Semua antifungal sistemik di atas dikontraindikasikan pada kehamilan, kecuali terbinafine. Terbinafine merupakan satu-satunya antifungal sistemik yang terdaftar sebagai kategori B, sehingga dapat diberikan pada ibu hamil.[4]

Referensi