Dispepsia – Panduan E-Prescription Alomedika

Panduan e-prescription untuk dispepsia ini dapat digunakan oleh Dokter Umum saat hendak memberikan terapi medikamentosa secara online.

Dispepsia adalah kumpulan gejala atau sindrom gangguan saluran pencernaan atas. Dispepsia meliputi rasa nyeri, tidak nyaman, atau rasa terbakar di area gastroduodenum (epigastrium/ulu hati). Keluhan dapat disertai rasa perut penuh, cepat kenyang, mual, bahkan muntah. Etiologi dispepsia sering tidak diketahui, disebut dispepsia fungsional. Sedangkan dispepsia organik adalah kondisi yang diketahui penyebabnya.[2-6]

Berdasarkan studi, 5 etiologi utama dispepsia adalah gastroesophageal reflux disease (GERD), obat-obatan, dispepsia fungsional, ulkus peptikum kronis, dan kanker lambung.[2]

Tanda dan Gejala

  • Karakteristik umum adalah rasa perut cepat penuh (kembung) setelah makan, cepat kenyang, atau istilah perut begah
  • Keluhan area epigastrium atau ulu hati: rasa terbakar, tidak nyaman, bahkan nyeri
  • Kadang disertai keluhan sering bersendawa, mual, muntah, dan nyeri dada bukan spesifik jantung[2-6]

Dispepsia fungsional pada anak dan remaja didefinisikan oleh Komite Roma III sebagai setidaknya 2 bulan dengan keluhan:

  • Nyeri atau ketidaknyamanan area epigastrium yang terus-menerus atau berulang
  • Tidak ada bukti dispepsia berkurang dengan buang air besar (BAB), atau berhubungan dengan gangguan BAB seperti diare, konstipasi, maupun perubahan bentuk feses
  • Tidak ada bukti kelainan pada proses inflamasi, anatomi, metabolik, atau neoplastik[1,2]

Peringatan

Terdapat beberapa red flags yang harus diperhatikan pada pasien dengan keluhan dispepsia, terutama gejala dan tanda yang mengarah kanker lambung. Tanda bahaya tersebut meliputi:

  • Pasien berusia >55 tahun
  • Perdarahan saluran cerna, termasuk hematemesis, melena, atau keduanya
  • Cepat kenyang hingga timbul keluhan disfagia atau odinofagia
  • Muntah berulang
  • Penurunan berat badan sampai lebih dari 10% berat normal orang tersebut yang bukan karena upaya penurunan berat badan
  • Limfadenopati
  • Riwayat keluarga dengan kanker lambung atau esophagus

  • Teraba massa di abdominal[2-6]

Medikamentosa

Terapi kasus dispepsia disesuaikan dengan gejala yang dirasakan pasien, terutama keluhan akibat peningkatan asam lambung. Pada setiap pasien, pilihan terapi bisa berbeda-beda. Perlu dipahami untung rugi penggunaan acid suppressant Untuk dispepsia.

Pasien Dewasa

Terapi yang paling sering digunakan untuk mengatasi gejala dispepsia fungsional antara lain antasida, H2 blocker, dan PPI (proton pump inhibitor). Beberapa studi menyebutkan pilihan terbaik untuk dispepsia fungsional pasien dewasa adalah golongan PPI. Perlu dipahami pedoman praktik untuk mengurangi utilisasi berlebih penghambat pompa proton. Pilihan PPI di antaranya:

Antasida dapat diberikan dengan dosis 3 x 500‒1000 mg/hari. Sedangkan H2 blocker  dapat dipilih salah satu dari obat di bawah ini:

  • Ranitidin 2x150 mg/hari

  • Famotidin 2x20 mg/hari
  • Cimetidin 2x400-800 mg/hari

Pasien dispepsia fungsional dengan gejala utama mual atau rasa penuh pada perut dapat membantu jika diberikan obat prokinetik untuk mempercepat pengosongan lambung. Berikut merupakan obat yang dapat dipilih:

  • Domperidon 3x10 mg/hari
  • Metoklopramid 3x10 mg/hari[4,6,7]

Pasien Anak

Kebanyakan kasus dispepsia pada anak dan remaja tidak memiliki penyakit yang serius. Jarang ditemukan infeksi Helicobacter pylori maupun ulkus peptikum. Umumnya pada anak ditemukan dispepsia fungsional yang akan membaik seiring waktu. Beberapa studi mendukung terapi non farmakologi untuk dispepsia fungsional pada anak, misalnya modifikasi diet, terapi perilaku kognitif untuk kasus kecemasan dan latihan relaksasi.[2,8]

Sedangkan penelitian yang dipublikasikan terkait terapi farmakologi untuk disfungsi fungsional pada anak belum banyak. Pasien anak dengan keluhan dyspepsia rekuren atau lebih dari 2 minggu sebaiknya dikonsultasikan ke spesialis anak. Pilihan obat untuk dispepsia pada anak adalah golongan antasida (aluminium hidroksida atau magnesium hidroksida) dan prokinetik (metoclopramide atau domperidone).[8,9]

Ketentuan dosis adalah sebagai berikut:

  • Antasida: dosis 50-150 mg/kgBB per hari, dibagi menjadi 4 kali pemberian (setiap 6 jam). Satu tablet atau satu sendok takar obat 5 mL mengandung 200 mg aluminium hidroksida atau magnesium hidroksida, sehingga untuk anak >8 tahun dapat diberikan ½ atau 1 tablet atau sendok takar 3−4 kali sehari.
  • Metoclopramide: 0,1–0,15 mg/kgBB, diberikan 3x sehari, maksimal 5 hari.

  • Domperidone: anak dengan berat 15‒35 kg dosis 0,25 mg/kgBB, diberikan 1‒3x kali sehari, dosis maksimal 0,75 mg/kgBB. Sedangkan dosis anak dengan berat > 35 kg sama dengan dewasa, yaitu 10 mg diberikan 3x sehari.[2,8,9]

Pilihan Terapi pada Kehamilan

Pada ibu hamil terapi lini pertama yang dapat digunakan adalah antasida dan sukralfat sebagai pelindung mukosa lambung. Antasida yang menjadi pilihan adalah antasida yang tidak berbasis magnesium, karena dapat mengganggu kontraksi otot persalinan dan penyerapan zat besi. [3,5]

Bila kondisi tidak kunjung membaik, penambahan obat golongan anti H2 seperti ranitidin dapat dipertimbangkan. Simetidin merupakan kontraindikasi karena adanya sifat antiandrogen.[2-7]

Omeprazole termasuk ke dalam kategori C (FDA). Namun, berbagai studi selama 13 tahun memberikan hasil bahwa golongan PPI aman, baik pada periode konsepsi maupun selama kehamilan. [10]

Referensi