Risiko Kesehatan pada Donor Ginjal Hidup

Oleh dr. Sunita

Transplantasi ginjal dari individu sehat yang masih hidup, atau lebih dikenal dengan donor ginjal hidup, masih menjadi pilihan walau prosedur ini bukan tanpa risiko kesehatan bagi donor. Prosedur donasi ginjal hidup selama ini diketahui aman dengan tingkat risiko pembedahan yang minimal, yakni tingkat kematian sebesar 0,03% dan tingkat morbiditas mayor sekitar pada 1% populasi donor[1]. Namun, bukti ilmiah selama beberapa tahun terakhir mengindikasikan bahwa terdapat peningkatan risiko kesehatan jangka menengah dan panjang terhadap donor ginjal hidup, khususnya terkait risiko penyakit ginjal stadium akhir dan preeklampsia[2–5]. Temuan tersebut menekankan pentingnya penilaian risiko kesehatan jangka panjang yang mungkin diderita seorang donor ginjal hidup sebelum keputusan transplantasi ginjal dilakukan. Hal ini merupakan bagian penting dalam proses pembuatan keputusan informed consent berbasis informasi yang memadai yang diperlukan setiap donor ginjal hidup. Oleh sebab itu, tinjauan ini akan membahas bukti ilmiah mutakhir tentang risiko kesehatan yang dapat dialami oleh donor ginjal hidup.

Depositphotos_122555574_l-2015-edited

Donor Ginjal Hidup dan Risiko Gagal Ginjal Stadium Akhir

Salah satu risiko yang menjadi penting pada donor ginjal hidup adalah risiko gagal ginjal stadium akhir. Pada donor ginjal hidup yang baru menjalani nefrektomi ditemukan penurunan akut laju filtrasi glomerulus (LFG) hingga 25-40%[3], walaupun kaitan antara fenomena ini dengan risiko gagal ginjal di kemudian hari masih diperdebatkan. Sementara itu, hilangnya massa ginjal pasca nefrektomi yang dialami donor hidup biasanya berkaitan dengan kompensasi fisiologis pada ginjal yang tak didonor. Secara intuitif dapat dibayangkan bahwa perubahan LFG secara akut tersebut berpotensi mempercepat onset gagal ginjal kronik pada donor ginjal hidup. Namun, bukti penelitian mengisyaratkan bahwa hal tersebut tidak selalu terjadi.

Dalam konteks donasi ginjal hidup, periode ketika seorang donor ginjal memerlukan dialisis kronik atau transplantasi ginjal dianggap sebagai onset gagal ginjal kronik pada donor ginjal hidup. Telah banyak studi yang mempelajari berapa lama setelah seseorang mendonorkan ginjal hingga kemudian ia jatuh dalam kondisi gagal ginjal kronik.

Sebuah studi di Amerika Serikat yang melibatkan 96.217 donor ginjal hidup menunjukkan bahwa LFG hitung rerata pada subjek penelitian tersebut adalah 101 ml/menit/1,73 m2 (SD 24 ml/menit/1,73 m2), sedangkan sekitar 22% donor memiliki LFG kurang dari 80 ml/menit/1,73 m2. Kelompok donor hidup tersebut kemudian dipasangkan dengan kelompok kontrol individu sehat bukan donor berjumlah 9.364 orang. Pada studi ini didapatkan bahwa 0,10% dari donor hidup dan 0,04% dari kelompok kontrol mengalami gagal ginjal tahap akhir masing-masing dalam kurun waktu rerata 8,6 tahun (SD 3,6 tahun) dan 10,7 tahun (SD 3,2 tahun)[6]. Dari analisis lanjutan disimpulkan bahwa insidens kumulatif gagal ginjal stadium akhir dalam 15 tahun pasca donasi ginjal terlihat lebih tinggi pada kelompok donor hidup (30,8 per 10.000, 95%CI 24,3-38,5) dibandingkan kelompok kontrol (3,9 per 10.000, 95%CI 0,8-8,9). Selain itu, analisis subgrup donor mengindikasikan bahwa usia ≥ 60 tahun dan ras keturunan Afrika-Amerika memiliki risiko lebih tinggi mengalami gagal ginjal, sedangkan riwayat kekerabatan secara biologis dengan resipien tidak signifikan secara stastitik.

Temuan analisis subgrup pada studi tersebut menekankan perlunya penilaian objektif untuk menghitung risiko gagal ginjal pasca donasi pada donor ginjal hidup. Penelitian lanjutan pada 133.824 donor ginjal hidup mencoba menelaah estimasi risiko individual berdasarkan karakteristik donor sebelum dilakukan nefrektomi[5]. Ras kulit hitam (HR 2,96; 95%CI 2,25-3,89) dan jenis kelamin laki-laki (HR 1,88; 95%CI 1,5-2,35) secara bermakna berkaitan dengan risiko gagal ginjal yang lebih tinggi di antara seluruh donor. Indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi juga berhubungan dengan peningkatan risiko tersebut, yakni terjadi peningkatan risiko sebesar 1,6 kali untuk tiap peningkatan IMT 5 kg/m2 (95%CI 1,29-2,00; p<0,001). Hubungan kekerabatan tingkat pertama antara donor dengan resipien juga berkaitan dengan peningkatan risiko gagal ginjal (HR 1,70; 95%CI 1,24-2,34; p<0,01). Prediksi risiko gagal ginjal stadium akhir dalam 20 tahun pasca donasi ginjal hidup adalah 34 per 10.000 donor, namun 1% dari donor yang memiliki risiko tinggi sebelum donasi memiliki kemungkinan risiko gagal ginjal mencapai 256 kasus per 10.000 donor[5].

Risiko Preeklampsia pada Wanita Donor Ginjal

Kejadian preeklampsia dan hipertensi dalam kehamilan pada wanita donor ginjal hidup merupakan salah satu hal yang patut dipertimbangkan oleh setiap wanita sebelum memutuskan untuk menjadi donor. Studi kohort retrospektif terhadap 85 wanita (131 kehamilan tercatat) yang dipasangkan dengan 510 wanita sehat nondonor (788 kehamilan tercatat) menemukan bahwa hipertensi dalam kehamilan dan preeklampsia lebih sering dijumpai pada wanita donor ginjal hidup dibandingkan wanita bukan donor. Sebanyak 15 dari 131 kehamilan (11%) pada wanita donor hidup dan 38 dari 788 kehamilan (5%) disertai dengan hipertensi atau preeklampsia (OR 2,4 untuk kelompok donor; 95%CI 1,2-5,0; p< 0,01). Walaupun demikian, tak ditemukan perbedaan signifikan luaran maternal (risiko operasi sesar, perdarahan pasca persalinan) dan fetal (kelahiran prematur serta bayi berat lahir rendah) antara kelompok donor dan bukan donor[2].

Studi kohort retrospektif tersebut memiliki sejumlah keunggulan metodologi serta menghadapi beberapa kekurangan. Keunggulan tersebut antara lain adanya data perioperatif dari seluruh donor yang memungkinkan analisis terperinci tentang kondisi donor segera setelah tindakan nefrektomi, proses seleksi kelompok donor dan nondonor dirancang agar keduanya memiliki karakteristik yang sangat mirip, serta jumlah partisipan yang hilang dari pemantauan selama studi cukup rendah (<4%). Di sisi lain, keterbatasan penelitian ini seperti kurang tersedianya data tekanan darah, fungsi ginjal, indeks massa tubuh, serta riwayat pengobatan selama kehamilan, informasi yang kurang akurat mengenai latar belakang etnis pada partisipan, serta cara diagnosis hipertensi dalam kehamilan dan preeklampsia yang masih bervariasi membuat hasil penelitian tersebut perlu diinterpretasi secara hati-hati. Penelitian lanjutan yang bersifat multisenter, dengan kriteria diagnostik hipertensi dalam kehamilan dan preeklampsia yang seragam, serta mencakup informasi yang berkaitan dengan berbagai faktor risiko kesehatan pada donor ginjal hidup (faktor etnis, usia, hubungan kekerabatan dengan resipien, dan riwayat kelainan ginjal dalam keluarga) dapat dipertimbangkan untuk menjawab hal-hal yang masih meragukan dalam penelitian tersebut.

Kesimpulan

Secara umum dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan risiko kejadian gagal ginjal tahap akhir pada donor ginjal hidup dan preeklampsia pada wanita donor ginjal hidup dibandingkan dengan populasi sehat non-donor. Walau demikian, peningkatan ini masih sangat kecil dengan number needed to harm sebesar 373,1 atau dengan kata lain 1 dari 373 donor hidup akan mengalami penyakit ginjal stadium akhir. Terkait risiko gagal ginjal stadium akhir pasca nefrektomi pada donor hidup, risiko tersebut semakin meningkat khususnya pada individu keturunan kulit hitam, usia lebih dari 60 tahun, jenis kelamin laki-laki, serta yang memiliki indeks massa tubuh yang tinggi. Sementara itu, untuk risiko preeklampsia, pengaruh latar belakang etnis tertentu serta variasi kriteria yang digunakan secara klinis untuk mendiagnosis hipertensi dalam kehamilan dan preeklampsia masih membatasi pemahaman ilmuwan tentang kejadian preeklampsia pada donor ginjal hidup. Mengingat berbagai studi tentang estimasi risiko kesehatan pada donor ginjal hidup berasal dari basis data di pusat transplantasi ginjal di negara maju, sebuah penelitian yang menggunakan populasi penduduk Indonesia perlu dilakukan untuk membuat suatu metode estimasi risiko yang lebih akurat bagi donor ginjal hidup di Indonesia. Hal ini penting untuk memberikan informasi yang tepat bagi pembuatan keputusan yang lebih baik oleh donor ginjal hidup di Indonesia pada masa yang akan datang.

Referensi