Presenteeism, Bekerja saat Sakit

Oleh dr. Hunied Kautsar

Presenteeism terjadi ketika seorang pekerja tetap bekerja walaupun sedang sakit dan penyakitnya mencegah pekerja tersebut untuk bekerja maksimal. Presenteeism menjadi masalah dalam beragam sektor, terutama dalam sektor kesehatan karena dokter yang tetap bekerja walaupun sedang sakit tidak hanya dapat berpotensi menularkan penyakit ke pasien tetapi juga dapat mengalami penurunan performa dan kemampuan mengambil keputusan medis yang dapat berakhir pada medical error.

Depositphotos_65144341_l-2015

Sebuah laporan kasus dari salah satu panti jompo di San Fransisco, Amerika Serikat, menyatakan bahwa pada bulan Januari tahun 2005, tiga orang penghuni panti jompo dan salah satu staf mengalami gejala mual, muntah dan diare. Penghuni dan staf yang mengalami gejala terus bertambah walau kontrol infeksi menyeluruh, termasuk di dalamnya hand hygiene, edukasi untuk seluruh penghuni dan staf, dan isolasi untuk penghuni yang mengalami gejala telah dilakukan. Total penghuni dan staf yang mengalami gejala pada hari ke-10 wabah berjumlah 23 penghuni dan 18 staf. Ternyata diketahui bahwa staf yang sakit tetap bekerja dan tidak melaporkan gejala mereka hingga menyelesaikan tugas mereka. Ketika hal ini diketahui dan staf yang sakit dilarang bekerja hingga dinyatakan dapat kembali bekerja, tidak ada lagi kasus baru sampai hari ke-17. Sayangnya, pada hari ke-18 salah satu staf mengalami gejala namun tetap memaksakan masuk kerja. Pada hari ke-21, jumlah penghuni yang sakit bertambah kembali.[1]

Laporan kasus di atas menggambarkan kecenderungan tenaga kesehatan untuk terus bekerja walaupun sedang mengalami gejala penyakit dan diminta untuk beristirahat di rumah sampai gejala tersebut hilang. Tenaga kesehatan merupakan kelompok yang memiliki tendensi tinggi untuk tetap bekerja walaupun sedang sakit, atau dikenal sebagai presenteeism Sebuah survei diadakan di Inggris untuk membandingkan dua kelompok pekerja, dokter dan pegawai swasta, dalam menyikapi izin tidak masuk bekerja karena sakit. Survei tersebut melibatkan 1.339 dokter di Inggris. Delapan puluh tujuh persen dokter umum dan 57,8% konsultan di rumah sakit menyatakan bahwa mereka akan tetap bekerja walaupun sedang mengalami gejala flu berat yang disertai dengan demam. Persentase dokter yang menyatakan akan tetap bekerja walaupun sedang sakit lebih tinggi secara signifikan jika dibandingkan dengan kelompok pegawai swasta, yakni hanya 31,9% dari mereka yang menyatakan akan tetap bekerja ketika mengalami gejala flu berat yang disertai dengan demam.[2]

Hasil survei di atas sejalan dengan hasil survei lainnya terhadap 1.015 dokter di Norwegia yang menyatakan bahwa 80% dokter tetap bekerja disaat mereka sakit, walaupun jika pasien mengalami gejala seperti yang mereka alami, para dokter tersebut akan menyarankan pasien untuk beristirahat di rumah. Dua pertiga dari kasus penyakit dalam survei tersebut merupakan penyakit infeksi menular seperti infeksi saluran pernapasan dan infeksi saluran pencernaan.[3]

Alasan Dokter Tetap Bekerja Walaupun Sakit

Alasan dari dokter tetap bekerja walaupun sedang sakit cukup kompleks karena melibatkan beragam faktor seperti tuntutan profesionalisme, budaya yang melekat dalam pendidikan kedokteran semasa kuliah dan praktek klinik sebagai koasisten, ekspektasi dari sesama rekan dokter dan dokter senior, kesulitan mencari pengganti, dan faktor ekonomi seperti gaji yang dipotong jika tidak masuk kerja atau berkurangnya pemasukan bagi dokter yang bekerja di klinik pribadi.

Sebuah survei diadakan di University of Toronto, Kanada, terhadap mahasiswa kedokteran tahun ketiga, residen penyakit dalam dan residen bedah mengenai alasan mengapa mereka tetap bekerja walaupun sedang menderita infeksi saluran pernapasan. Sebagian besar mahasiswa kedokteran tahun ketiga menyatakan alasan yang berhubungan dengan opini sesama rekan kerja atau senior mereka. Alasan yang berbeda dikemukakan oleh para residen, mereka lebih mengkhawatirkan keberlangsungan perawatan pasien yang akan terganggu jika mereka tidak masuk kerja karena alasan sakit.[4]

Seorang dokter (terutama yang bekerja di rumah sakit) setiap harinya melihat pasien yang menderita beragam penyakit dan melihat bagaimana perjuangan pasien tersebut untuk sembuh sehingga ia merasa bahwa kondisi penyakitnya sendiri tidak sebanding dengan apa yang dialami oleh pasiennya. Namun, sering kali dokter tidak menyadari bahwa infeksi yang diderita olehnya dapat ditularkan ke pasien atau kondisi fisik dan mental yang tidak sehat dapat mempengaruhi kinerja dan kemampuan dalam mendiagnosis penyakit pasien yang bisa berujung pada kesalahan rencana perawatan.

Profesi dokter, terutama dokter spesialis yang memiliki keahlian spesifik tidak mudah untuk dicarikan pengganti ketika dokter tersebut sakit. Berbeda dengan profesi lainnya, pekerjaan seorang dokter belum tentu dapat didelegasikan ke dokter lain atau ke tenaga kesehatan lainnya. Oleh karena itu sering kali dokter memaksakan diri untuk tetap bekerja karena tidak mau membebani rekan kerjanya dan mengganggu keberlangsungan perawatan pasiennya.

Solusi untuk Mengatasi Presenteeism

Walaupun alasan di balik seorang dokter yang memaksakan diri untuk bekerja ketika sedang sakit adalah alasan yang mulia, tidak dapat dipungkiri bahwa keadaan tersebut memiliki resiko penularan infeksi kepada pasien. Selain itu, seorang dokter yang sedang sakit tidak mungkin dapat bekerja secara optimal sehingga dokter tersebut memiliki resiko untuk melanggar salah satu sumpahnya yakni "Do no harm". Oleh karena itu diperlukan solusi untuk mengatasi fenomena presenteeism di dunia kedokteran.

Dibutuhkan sebuah pedoman yang jelas dalam setiap institusi mengenai keadaan fisik dan mental yang dinyatakan sebagai keadaan yang tidak optimal untuk bekerja, seperti adanya gejala infeksi saluran pernapasan atau infeksi saluran pencernaan, serta demam yang tidak kunjung hilang. Dokter tidak diijinkan kembali bekerja sebelum gejala tersebut hilang untuk mengurangi resiko penularan kepada pasien. Pedoman ini juga harus didukung dengan adanya paid sick leave sehingga para dokter tidak perlu khawatir mengenai masalah ekonomi. Dokter juga seorang manusia yang bisa sakit dan memiliki keluarga yang harus didukung secara ekonomi sehingga sungguh tidak adil jika gaji seorang dokter harus dipotong hanya karena ia tidak bisa bekerja karena sakit. Dengan adanya paid sick leave, para dokter diharapkan tidak lagi memaksakan dirinya untuk bekerja ketika sedang sakit.

Bagi para dokter yang bekerja di klinik pribadi, ketika sakit dokter dapat mendelegasikan tugas kepada suster atau asisten dokter untuk memeriksa pasien yang mendesak namun tidak gawat. Untuk kasus yang tidak mendesak, dapat dijadwalkan ulang. Pasien yang gawat sebaiknya segera diarahkan ke instalasi gawat darurat di rumah sakit. Dokter yang berpraktek di klinik pribadi juga perlu memberikan informasi kepada pasien dalam bentuk tertulis mengenai kebijakan yang menyangkut penjadwalan ulang bagi pasien ketika dokter tidak dapat hadir karena sakit.

Dokter yang memiliki keahlian spesifik (dokter spesialis) dan mengkhawatirkan keberlangsungan perawatan pasien dapat menggunakan teknologi video call, sehingga ia dapat tetap berinteraksi dengan pasiennya tanpa resiko menularkan infeksi kepada pasien. Interaksi dan instruksi yang diberikan akan menjadi terbatas namun dengan adanya kemajuan teknologi, dokter harus semakin kreatif dalam mencari solusi.

Referensi