Panduan Praktis bila Dokter Menjadi Korban Stalking

Oleh :
dr. Hunied Kautsar

Dokter yang menjadi korban stalking umumnya justru menyalahkan diri dan tidak bertindak apa-apa. Fasilitas kesehatan tempat dokter bekerja juga umumnya tidak memiliki sistem aduan yang baik sehingga dokter semakin memilih untuk bungkam. Diperlukan suatu panduan praktis apa yang harus dilakukan bila menjadi korban stalking.

Stalking atau dalam bahasa Indonesia "menguntit" adalah tindakan yang mencakup komunikasi dan pendekatan yang tidak diinginkan dan berulang selama lebih dari 2 minggu sehingga menyebabkan rasa takut atau kekhawatiran pada korban. [1] Dokter adalah salah satu profesi yang terpapar resiko dari stalking.

Depositphotos_62282105_original_compressed

Stalking kepada seorang dokter dapat dilakukan oleh:

  • pasien atau keluarga pasien
  • kolega/rekan sejawat
  • orang-orang diluar lingkungan pekerjaan (biasanya mantan pasangan) yang mengganggu sampai masuk ke lingkungan pekerjaan.

Mullen (1999) [2] membagi stalker ke dalam lima kategori:

  • Orang yang merasa ditolak (rejected people)

  • Orang yang tidak menerima penolakan (won't take "no" for answer)

  • Orang yang mencari hubungan yang lebih intim dengan korban
  • Orang yang tidak bisa membaca isyarat sosial
  • Orang yang menyerang korban secara fisik

Macam-macam Bentuk Stalking dan Kerugian yang Ditimbulkan

  • Pasien atau keluarga pasien yang merasa ditolak biasanya menyampaikan komplain yang terus menerus kepada petugas administrasi klinik atau rumah sakit.
  • Pasien yang mencari hubungan yang lebih intim dengan dokter biasanya menyampaikan komplain ketika pendekatannya ditolak oleh dokter tersebut, terkadang menghubungkan dengan adanya tindakan seksual yang tidak pantas.
  • Kolega/rekan sejawat yang merasa ditolak atau mempunyai dendam biasanya menyampaikan komplain, ancaman atau menyebarkan rumor yang menjatuhkan dokter yang menjadi korban.
  • Mantan pasangan dari dokter yang menjadi korban stalking merupakan kelompok dengan resiko tinggi untuk melakukan stalking dalam bentuk ancaman fisik dan masuk ke lingkungan pekerjaan dokter tersebut. [1]
  • Bentuk komplain atau ancaman dapat berupa e-mail, telepon, online chat atau surat yang datang terus menerus dan bersifat mengganggu.
  • Bentuk stalking juga dapat berupa perhatian yang berlebihan dari pasien dan bersifat mengganggu (tidak diinginkan) seperti telepon, pesan singkat (sms), online chat atau hadiah.
  • Dalam era digital ini, stalking melalui sosial media juga sering ditemukan.
  • Dokter yang menjadi korban stalking tidak selalu merasa nyaman untuk mengutarakan bahwa ia menjadi korban stalking karena merasa bahwa ia pasti melakukan suatu kesalahan dalam menangani pasien (stalker)

  • Stalking yang terus berlanjut dapat menyebabkan rasa khawatir yang berlebihan, ketakutan, bahkan depresi sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuat dokter yang menjadi korban merasa perlu membatasi aktivitas sosial mereka.

Menangani Stalking dan Meminimalisir Resiko

  1. Kewajiban Sebagai Dokter/Tenaga Medis

  • Dokter harus menyadari adanya resiko pasien yang melakukan stalking sehingga mempersiapkan diri untuk dapat mengenali ciri-ciri tindakan pasien yang mulai melakukan stalking. [3]
  • Dokter juga harus memahami kebijakan klinik/rumah sakit dalam menangani stalker.
  • Dokter harus memahami dan menjaga hubungan dokter-pasien secara profesional dan memastikan bahwa pasien mengerti dan juga turut menjaga hubungan profesional tersebut.
  • Jika dokter mencurigai pasiennya melakukan stalking maka sebaiknya ia memberitahu rekan sejawat sekaligus meminta pertimbangan (reality check) apakah benar pasien tersebut sudah termasuk kategori stalking.
  • Memberitahu manajemen klinik/rumah sakit tempat dokter bekerja dan juga sekretaris dan resepsionis di klinik/rumah sakit tersebut agar tidak memberitahukan informasi pribadi dokter kepada pasien.
  • Memberitahukan kepada pasien yang melakukan stalking dengan tegas bahwa apa yang dilakukan pasien tersebut mengganggu dan menciptakan kekhawatiran. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan hadirnya rekan sejawat (sebagai saksi).
  • Simpan semua catatan yang berhubungan dengan kejadian stalking, termasuk detail mengenai tindakan apa yang dilakukan oleh pasien, kapan saja tindakan tersebut dilakukan dan apa yang sudah dilakukan oleh dokter untuk menangani masalah stalking

  • Simpan semua bukti seperti e-mail, sms, online chat, surat atau barang-barang yang dikirimkan oleh stalker, termasuk waktu dan tanggal dari e-mail, sms atau online chat Hal-hal ini penting sebagai bukti jika harus sampai melibatkan pihak yang berwajib (polisi).
  • Hentikan kontak dengan stalker dengan tidak membalas e-mail, sms, online chat atau surat yang dikirimkan dan tidak mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal.
  • Dokter sebaiknya tidak memakai nama lengkap untuk akun sosial media dan me-nonaktifkan fitur lokasi dalam semua akun sosial media yang dimiliki serta tidak mencamtumkan informasi pribadi seperti alamat rumah, e-mail atau nomor telepon. [4]
  • Akun media sosial keluarga dokter juga harus diminimalisir informasinya karena pasien terkadang mencari informasi mengenai dokter melalui akun media sosial keluarga.
  • Jika stalker tersebut adalah pasien maka sebaiknya pasien ditangani oleh dokter lain kecuali dalam keadaan sangat terpaksa seperti dokter yang praktik di tempat terpencil dimana tidak ada dokter lain. Maka sebaiknya semua kegiatan tatap muka dengan pasien didampingi oleh perawat.
  • Jika stalking berlanjut dan bertambah parah maka dapat dilaporkan kepada pihak berwajib (polisi).

  1. Kewajiban Sebagai Kolega/Rekan Sejawat

  • Kolega/rekan sejawat dari dokter yang menjadi korban stalking sebaiknya tidak menambah kekhawatiran dengan berkomentar bahwa situasi ini terjadi karena dokter tersebut tidak dapat menangani dan menjaga hubungan profesional dengan pasien. Dokter spesialis yang mempunyai pengalaman profesional bertahun-tahun memiliki resiko yang sama dengan dokter umum yang baru memulai karirnya. [3]
  • Memberikan dukungan moral dan juga bersedia untuk mengambil alih perawatan pasien stalker tersebut jika dibutuhkan karena stalker cenderung tidak berganti korban. [3]

  1. Kewajiban Sebagai Manajemen Klinik/Rumah Sakit

  • Menciptakan kebijakan dan mekanisme yang jelas dalam menangani laporan dokter/tenaga medis lainnya yang menjadi korban stalking. [3]
  • Memastikan bahwa setiap laporan akan ditangani secara serius dengan investigasi yang cepat dan menyeluruh.
  • Menyadari bahwa stalking sangat jarang disebabkan oleh dokter/tenaga medis yang tidak profesional dalam menjaga hubungan dokter-pasien, dokter sebagai korban harus didukung dan tidak disalahkan atas terjadinya stalking. [3]
  • Menjaga privasi dokter/tenaga medis yang menjadi korban stalking dan juga pasien atau stalker selama proses penanganan situasi tersebut.
  • Menyediakan pelatihan untuk mengenali tanda-tanda dini pada pasien yang melakukan stalking.
  • Menciptakan kebijakan untuk menjaga kerahasiaan data-data pribadi seluruh staf klinik/rumah sakit dan memastikan bahwa seluruh staf mematuhi kebijakan tersebut.
  • Menciptakan atmosfir bekerja yang profesional dan terbuka sehingga konflik diantara sesama staf dan tenaga medis dapat diselesaikan dengan baik untuk menghindari adanya stalking dari sesama staf atau tenaga medis.
  • Mempertimbangkan untuk menilai adanya potensi terjadinya stalking sebagai salah satu poin dalam proses penerimaan staf atau tenaga medis baru.

Cara untuk Mengatasi Rasa Khawatir Ketika Menjadi Korban Stalking

  • Memberitahukan kepada kolega/rekan sejawat, keluarga dan teman-teman sehingga dapat memperoleh dukungan yang diperlukan.
  • Mencari bantuan dan saran dari teman atau rekan sejawat yang pernah mengalami hal yang sama.
  • Menerima bantuan dari manajemen klinik/rumah sakit berupa sesi konseling atau bantuan hukum jika diperlukan.
  • Memanfaatkan proteksi yang diberikan oleh manajemen klinik/rumah sakit dan juga pihak berwajib (polisi).
  • Selalu ingat dan percaya bahwa menjadi korban stalking adalah resiko dari profesi dan dapat terjadi pada siapa saja, bukan merupakan tanda bahwa seorang dokter melakukan kesalahan. [3]

Referensi